Golak dan Bergelombang -->
close
Adhyra Irianto
04 October 2021, 10/04/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-10-04T15:41:56Z
ArtikelBeritaNarasi

Golak dan Bergelombang

Advertisement
bumi saat ini


Oleh: Prof Yusmar Yusuf


Dunia dicipta bergelombang dan bergolak. Dia bukan tempat yang damai untuk kehidupan. Di celah riak dan gejolak itulah pematangan manusia berlangsung demi menyauk ruh kesempurnaan. Suatu ketika, seorang Mursyid berkunjung ke sebuah Katedral di Swiss. Lalu sang Pastor membawa Mursyid ini berkeliling ruang-ruang gereja, seraya memperkenalkan karya-karya seni tinggi yang jadi khazanah tinggi gereja. Tepat pada satu lukisan (yang dianggap seni tinggi dan fine) sang Pastor menunjuk ke sebuah lukisan; dia menjelaskan kepada Mursyid bahwa itu adalah lukisan wajah syetan; berwajah buruk, telinga panjang dan vertikal, tampilan serba menyeram dan bertaring. Mursyid bereaksi: Tidak. Itu bukan wajah syetan. 


Mursyid melanjutkan penjelasannya; “jika wajah syetan seperti yang digambarkan dalam lukisan itu, tak mungkin manusia mau mendengar bisikan dan rayuan sosok seperti itu. Syetan pasti tampil bak sosok bintang film, penyanyi opera, bahkan mengalahkan aktor kawakan sekalipun”. Dan, Pastor terdiam.


Dunia diciptakan memang bergelung dan beriak. Saling memangsa. Hasil pemangsaan itu melahirkan sejarah dan riwayat. Di sini berlaku hidup, mati dan hidup kembali dalam kuntum-kuntum baru dalam ruang dan nada serba tegang namun bisa menuju ke suasana homeostasis. Tumbuhan diciptakan untuk makanan bagi makhluk herbivora, selanjutnya jika tak ada hewan herbivora yang memakannya, maka dunia ini akan semak samun dan diisi dengan sejumlah keseragaman tanaman. Hewan herbivora dimangsa pula oleh makhluk karnivora. Begitu seterusnya siklus itu datang dan pergi demi mengisi dan memperkaya isi bumi dalam gerak dinamis dan progresif.


Seketika, seorang Rabi masyhur mendatangi Mursyid besar dari Turki di New York. Rabi itu bernama Zalman Schacher-Shalomi. Rabi didampingi oleh beberapa orang murid, ada jua seorang murid perempuan Rabi yang meminta kepada Mursyid Tariqat Jerrahi itu memanjatkan doa bagi perdamaian Timur Tengah. Murid perempuan itu berkata: “Tuhan mengingatkan kita bekerja untuk perdamaian.Taurat mengajarkan bahwa kita semestinya ‘menempa pedang-pedang kita menjadi bajak’”. Pun, Mursyid memberi jawaban tak terduga; “Menempa pedang-pedangmu menjadi alat bajak”? Wah, mustahil, sergah Mursyid dengan suara lantang dan berdegam. “Jika kau lakukan itu, tetangga-tetanggamu akan datang membawa pedang-pedang mereka. Tidak hanya alat bajakmu, mereka juga akan merampas tanah dan harta benda mu! Tuhan tidak menciptakan dunia ini sebagai tempat yang damai dan tenang. Kita harus berjuang, bekerja keras dan mengatasi beragam rintangan dan halangan di dunia ini. Dengan begitu, kita akan bisa menumbuhkankan spiritualitas”. 


Frager mengelaborasi lebih jauh; “kelihangan dan penderitaan, mangsa dan pemangsa akan selalu ada di dunia ini. Tentu saja Tuhan bisa menciptakan dunia ini hanya dihuni kijang dan rusa yang cantik manja, tanpa pemangsa buas seperti singa atau harimau. Tapi, ironis, hewan herbivora ini memakan tumbuh-tumbuhan yang juga makhluk hidup. Pun, kijang dan rusa yang jinak dan cantik itu tetap menimbulkan rasa sakit dan kematian bagi tumbuh-tumbuhan. Siapa bilang bahwa nyawa seekor binatang lebih berharga daripada serumpun tumbuhan?”. 


Inilah kehidupan yang bergelombang itu. Tuhan selalu mengirim dua tangkai peristiwa yang dianggap sebagai ujian. Untuk naik kelas,manusia memerlukan ujian. Tak ada artinya naik kelas, tanpa lulus ujian. Dua tangkai ujian itu bernama; sukses dan kemalangan. Diterpa sukses, kita menjadi lupa diri. Kita merasa bahwa diri kitalah yang terbaik. Yang lain, debu. Tangkai ujian yang kedua bernama kemalangan atau kegagalan. Kehilangan atau kemalangan juga bisa membuat orang lupa. Kita sudah bekerja keras, namun tetap gagal. Semua doa telah dipanjat sesuai anjuran religi. Kalau begini terus, aku tak perlu lagi beribadah dan mereka pun menyalahkan Tuhan. 


Dunia diciptakan bergolak dan tugas manusialah meredakan golak dan gejolak itu menjadi damai. Karena manusia memiliki “kemauan bebas” dan “pilihan bebas”. Kenderailah inayah itu. Sebab, malaikat tak memiliki dua hal itu. Tak sedikit suasana saling beterjangan yang dilakukan, sikut menyikut dan tohok menohok dalam ruang bergolak bernama dunia ini. 


Seorang Mursyid berujar; “Sebagian orang mencoba tumbuh lebih tinggi dengan memenggal kepala orang lain”. Seorang yang alim dan arif lagi bestari akan berdiri menyongsong hikmah di belakang setiap peristiwa pahit yang terhidang. Tindakan paling rendah sekaligus egois ialah dengan cara berdoa yang terpusat pada ego diri sendiri; pokoknya serba aku. Dalam tradisi tasawuf dianjurkan berdoa menggunakan kata ganti “kami”,  menghindari kata ganti “aku”. Namun, sang pendoa tetap meminta dengan langgam egosentris; minggu pertama, dia  meminta dalam doanya agar diberi Tuhan mobil Datsun. Ujung minggu, tetap belum dapat mobil Datsun. Minggu  kedua tetap  doa yang sama. Namun tetap malang, doanya belum dikabulkan. Minggu ketiga, dia tetap berseteguh dengan doa meminta mobil Datsun kepada Tuhan. Wah… doa yang bertangkai-tangkai dan bertandan-tandan. 


Masuk pertengahan minggu ketiga, sang pendoa memperoleh mobil Datsun separoh pakai (use car) namun masih jreengg… Ketika akan terlelap tidur malam hari, ada suara datang mendesah nan jelas masuk ke daun dan cerobong telinga berbunyi: “Sebenarnya Aku telah menyiapkan untukmu sebuah mobil Mercedes Benz, tetapi, karena engkau mengotot minta Datsun, ya sudah… gitu aja!”. Duuh… bukan main kesalnya sang pendoa ini. Inilah wilayah hikmah yang dihidang oleh ketiadaan, oleh kegagalan, oleh sebuah penundaan. Semuanya tak perlu dihirau apalagi ditangisi. Sebab, dunia ini diciptakan dengan irama serba bergelombang dan bergolak. Horee… 


Baca tulisan kontemplatif dari Prof Yusmar Yusuf di tautan ini: Tulisan Yusmar Yusuf