Pertunjukan Drama Babi Ngepet di Depok (Ternyata) Part II -->
close
Pojok Seni
02 May 2021, 5/02/2021 04:48:00 AM WIB
Terbaru 2021-05-01T21:48:03Z
ArtikelUlasan

Pertunjukan Drama Babi Ngepet di Depok (Ternyata) Part II

Advertisement



PojokSeni.com - Berapa lama Anda menyiapkan pertunjukan teater? Mungkin berbulan-bulan, dengan biaya produksi yang tidak sedikit. Mulai dari sewa gedung, dekorasi dan artistik, kostum, lampu, crew, honor aktor, dan sebagainya. Kemudian, berapakah penonton yang datang? Anggap saja, kalau teater Anda sekelas dengan Teater Koma misalnya, maka Anda akan mendapatkan ribuan penonton.


Tapi kejadian di Depok beberapa waktu lalu benar-benar mengguncang jiwa para insan seni peran di manapun berada. Adalah Adam Ibrahim, yang menjadi penulis naskah, sutradara, penata kostum dan artistik, aktor utama, dramaturg, juga stage manager sekaligus. Semua peran ini dilakoninya cukup baik, dengan bantuan 5 orang aktor tambahan untuk menjadi pemeran pembantu. Khusus 5 orang pemeran pembantu ini, mereka tidak pakai kostum apapun, juga tidak pakai make-up, hanya membawa hand-property berupa parang dan tali. 


Tragedi Babi Ngepet Depok Part II, itu judul pertunjukan kali ini. Sekuel dari pertunjukan part I yang cukup gagal di pasaran, namun berhasil "mengelabui" para penontonnya. Seperti pengakuan Adam Ibrahim yang dikenal sebagai "ustad" ketika ditangkap polisi, dia membeli babi tersebut lewat online dengan harga Rp900.000 ditambah lagi dengan ongkos kirim Rp200.000. Berapa modal untuk pertunjukan ini? Yah hanya sekitar Rp1.100.000 dengan proses rehearsal dilakukan via grup WA. Intinya, Adam Ibrahim itu sendiri yang menyutradarai pertunjukan ini, dengan petunjuk lakon diberikan pada 5 orang pemeran pembantu (yang bertelanjang bulat menangkap babi). Adam Ibrahim menjadi tokoh protagonis di cerita ini, sedangkan tokoh antagonisnya akan datang sebentar lagi dikirim lewat paket.


Ketika ada seorang warga yang melaporkan bahwa uangnya hilang total Rp2 juta dalam dua hari berbeda (rabu dan jumat) maka dirasa waktu pertunjukan sudah tiba. Segera Adam Ibrahim mengatur semua adegan, alur dramatik, dan apa yang harus dilakukan para aktor tambahan lewat grup WA di malam harinya. Kelima orang tersebut manut, karena yang memintanya adalah seorang ustad yang harus diikuti setiap kata-katanya, apalagi di bulan yang penuh berkah ini. Kemudian, sang ustad segera melepaskan babi yang sudah dibelinya, sehingga bertemu dengan lima orang lelaki yang tak memakai pakaian sehelaipun, namun membawa senjata tajam. Babi tersebut akhirnya ditemukan di belakang rumah warga, tebak si babi sedang apa? Yah, pasti! Sedang ngepet!


Adegan pengejaran menjadi puncak dari drama ini. Penuh teriakan yang mencekam, parang yang tertimpa cahaya bulan, serta kerumunan orang yang penasaran bagaimana rupa babi ngepet itu. Meski harus dicatat bahwa adegan puncak ini hanya boleh disaksikan untuk orang yang berusia 21 tahun ke atas. Itupun kalau tahan melihat sekelompok lelaki yang berbugil ria. Akhir dari adegan puncak, tokoh antagonis dalam cerita ini berhasil ditangkap dan dikurung dalam kandang.


Keesokan hari, giliran sang aktor utama muncul. Dia adalah superhero, dan dia adalah penyelesai dari semua masalah ini. Sebagaimana film horor Indonesia, para hantu, dedemit, kolor ijo, atau apapun itu, akan segera berakhir bila tokoh "ustad" masuk dalam adegan. Seperti di film horor itu, pertunjukan Babi Ngepet Part II ini sudah masuk ke fase resolusi. Saat ini, adegan sudah bukan untuk 21 tahun ke atas lagi. Anak-anak sudah boleh menyaksikan monolog panjang dari tokoh utama, sekaligus melihat kesengsaraan tokoh antagonis yang terkurung di balik jeruji kayu. 


Masing-masing penonton tentunya harus bayar tiket. Tidak besar, hanya Rp2000 perak kalau mau lihat babinya, sekaligus mendengar monolog panjang dari sang tokoh protagonis, superhero dalam kisah ini. Tapi, kalau mau berfoto atau memfoto di lokasi terkurungnya sang tokoh antagonis, maka tambahan Rp2000 lagi. Ditambah lagi dengan biaya parkir motor Rp2000. Itu berarti, total "tiket" yang harus dibayar oleh para "penonton" pertunjukan ini adalah Rp6000. Cukup murah untuk sebuah tontonan bukan? Namun penonton yang membludak menjadikan pendapatan pertunjukan tersebut cukup banyak untuk mengembalikan modal pertunjukan, yakni pembelian babi secara online dengan total harga Rp1.100.000.


Seperti kebanyakan film hantu, atau mungkin film superhero, seharusnya antagonis yang akan menanggung akibat dari semua yang diperbuatnya. Sayang sekali, khusus untuk pertunjukan yang satu ini, endingnya jauh lebih menarik. Kisah penuh tanda tanya itu berakhir dengan titik. Yah, tokoh protagonis yang ternyata villain yang sebenarnya. Dan babi ngepet tersebut meninggal dengan menanggung sebuah fitnah yang keji.


Sebagai tambahan, ada seorang penonton yang ikut cari panggung di akhir cerita. Tentunya, penonton yang lain gusar, lalu penonton yang satu itu diusir dari tempat pertunjukan.


Bukan yang Pertama


Apa yang menarik dari pertunjukan babi ngepet itu? Apa hikmah yang bisa diambil dari cerita ini? Entahlah, selain lucu namun berakhir tragis, ada satu hal yang lebih menarik untuk diketahui. Bahwa pertunjukan itu nyatanya adalah kisah "remake" dari pertunjukan serupa yang terjadi di tempat yang sama. Ada seekor babi ngepet yang pernah mengguncang Depok di tahun 2008, namun sayangnya kurang viral dan kurang banyak meraih viewer. 


Alhasil, cerita itu kurang tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Meski demikian, pertunjukan babi ngepet part I berhasil meraih hati para penontonnya. Buktinya, ketika sequelnya dirilis, penonton kembali membludak. Hanya saja, sebagai tambahan di era viral seperti saat ini, ada penonton dunia maya yang ikut memberikan respon. Ada yang memberi respon negatif, ada juga yang memberi respon positif. 


Namun, berkat ke-viralannya ini, kemungkinan tidak akan ada lagi part III dari pertunjukan ini. Tapi Depok seharusnya sudah bosan dengan kisah yang sama. Bukankah begitu?

Ads