Hal yang Jauh Lebih Diinginkan Pria Daripada "Harta-Tahta-Wanita" -->
close
Pojok Seni
06 March 2021, 3/06/2021 05:09:00 AM WIB
Terbaru 2021-03-05T22:09:34Z
Artikel

Hal yang Jauh Lebih Diinginkan Pria Daripada "Harta-Tahta-Wanita"

Advertisement

Apa yang sangat diinginkan oleh manusia? Dalam hal ini, pria? Maka jawaban yang paling sering ditemukan adalah tiga hal ini merupakan hal yang paling diinginkan pria dalam hidupnya; harta-tahta-wanita.


Tapi ternyata, bukan ketiga hal itu yang paling diinginkan oleh pria. Justru, ketiga hal itu adalah jalan bagi seorang pria untuk mendapatkan hal yang paling dia inginkan. Apa itu? Power! Yah, power alias kekuatan.


Bukankah kekuatan itu sama dengan "tahta" (kekuasaan)? Ternyata tidak. Karena faktanya, ada orang yang mendapatkan "tahta" namun tidak punya "power" seperti yang dimaksudkan di atas. Contoh kasusnya seperti ini, anggap saja si Bedu punya popularitas dan bisa diatur. Sedangkan si Bejo ingin punya kekuatan mengatur semua sumber daya yang ada di sekitarnya. Maka dengan susah payah, mengeluarkan uang yang tidak sedikit, Bejo mengumpulkan orang, membiayai dan mendukung penuh si Bedu untuk menjadi pemimpin di suatu daerah. Tujuannya hanya satu, ia ingin dapat kekuatan apabila nantinya si Bedu berhasil jadi pemimpin dan mendapatkan "tahta". 


Apabila skenario tersebut berhasil dan Bedu jadi pemimpin, maka Bejo juga berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Bejo ingin power, dengan cara mendudukkan Bedu sebagai seorang pemimpin. Cukup familiar dengan cerita seperti ini, bukan? Hal itulah yang membuat seseorang atau sekelompok orang rela menghabiskan waktu, tenaga dan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk "orang lain". Yah, dia ingin mendapatkan keuntungan dari berhasilnya orang lain menjadi pemimpin atau mendapatkan "tahta". Dia akan mendapatkan "power" yang diinginkan.


Seorang preman yang dekil, kurus seperti tak terurus dan kerap minum-minuman keras, kemana-mana akan membawa senjata tajam agar terkesan memiliki power yang dimaksud. Sedangkan di sisi lain, seorang pria yang sebenarnya tidak begitu bernyali, melatih tubuhnya berjam-jam di pusat kebugaran agar bentuk tubuhnya proporsional dan terlihat memiliki "power". Seorang tokoh masyarakat akan mengumpulkan massa dalam jumlah banyak dalam menyuarakan sesuatu, hanya agar terlihat memiliki "power". Seniman akan membuat sebuah mahakarya (atau karya yang dicitrakan sebagai mahakarya) agar nantinya mendapatkan kesan memiliki "power" (dalam istilah Hindu disebut dengan Pratibha). Sedangkan tokoh agama, politik, masyarakat, dan tokoh lainnya juga akan mengumpulkan lebih banyak jemaah atau pengikut serta menampilkan kemampuan intelektualnya dengan tujuan yang sama, terlihat memiliki "power".


Pria dan power seperti dua hal yang terlahir terpisah dan ingin menyatu kembali, apapun caranya. Apa yang dikejar seseorang ketika mencari banyak harta? Yah, power. Itu juga yang dikejar seseorang ketika mencari tahta. Dan hebatnya, ketika seorang lelaki berkejar-kejaran mencari lebih banyak wanita, justru karena ia ingin menunjukkan bahwa ia punya power.


Apa yang terjadi bila seseorang pria tidak punya power. Maka dengan segala kerendahan hati, ia akan menyebut dirinya sebagai "orang lemah, selalu bisa ditipu dan dikerjai". Power akan mendongkrak seseorang berada di stratifikasi sosial tertinggi dalam "kasta kapitalisme" seperti saat ini. Meski sama-sama berseragam aparat, tapi power (yang ditunjukkan dengan pangkat) akan membedakan mana yang prajurit biasa dan mana yang perwira. Bila harus dikorbankan salah satu, maka yang tidak punya power harus siap menjadi tumbal.


Kekuatan Personal dan Kekuatan Komunal


Mungkin kejaran pertama dari seorang pria adalah kuat secara personal. Maka kekuatan personal, bisa jadi puncak dari piramida dengan "harta-tahta-wanita" sebagai alasnya. Namun, seandainya tidak berhasil, tidak bisa mengumpulkan harta juga sulit mendapatkan tahta, maka ada cara lain untuk mendapatkan power. Yah, tentunya bukan kekuatan personal, tapi kekuatan komunal.


Maka, kita akan mendengar jaringan ini, komunitas itu, aliansi ini, dan sebagainya. Kekuatan akan dibangun dari persatuan, meski setiap personal tentunya memiliki visi sendiri-sendiri dari jejaring tersebut.


Ada kekuatan yang benar-benar hadir sebagai sesuatu yang nyata dan bisa dirasakan. Namun, ada juga yang semu dan dicitrakan. Kekuatannya berupa sebuah kesan, kesan agar terlihat kuat. Tujuannya cuma satu, agar terlihat kuat, yang akhirnya punya daya tawar dan punya daya untuk mengubah sesuatu.


Era teknologi dan pandemi berubah menjadi satu hal yang menarik, bahwa persatuan semu itu semakin banyak dan bermunculan di mana-mana. Ini adalah saat terbaik untuk menampilkan power itu. Setelah punya power, maka seseorang akan bisa mendapatkan harta - tahta - wanita. Atau dibalik, harta - tahta- wanita itu justru digunakan untuk mendapatkan power.


Apapun itu, kesimpulannya hanya satu. Bahwa seorang pria membutuhkan power, jauh di atas apa yang mereka sebut sebagai "tri keinginan" pria tersebut.


Apakah perempuan tidak butuh itu? Ternyata, sama saja. Yah, tidak hanya pria, wanita juga membutuhkannya. Satu hal yang bisa membuatnya berkuasa di atas pria. Kekuatan yang hadir bersama gelombang feminisme. Namun harus diakui, hingga saat ini, pria masih terlalu mendominasi perebutan "power" itu.

Ads