Paradoks Kehidupan yang Diwariskan Turun Temurun -->
close
Adhyra Irianto
03 February 2021, 2/03/2021 07:30:00 AM WIB
Terbaru 2021-02-03T00:30:06Z
NarasiUlasan

Paradoks Kehidupan yang Diwariskan Turun Temurun

Advertisement
Paradoks kehidupan yang diwariskan turun temurun


pojokseni.com - Kematian adalah kejahatan yang paling jahat. Kematian tidak patut ditakuti, bahkan tidak perlu digeruni. Orang yang mati pertanda telah tamat kehidupannya, sedangkan yang hidup sama sekali tidak mati. Asalkan, mereka mampu memastikan bahwa mereka menikmati dan memanfaatkan waktu kehidupannya dengan baik.


Seperti itu yang ditulis oleh Epicurus, seorang filsuf Yunani yang terkenal dengan paradoks Epicuro (Epicurean Paradox)-nya. Ternyata, kehidupan di dunia hanya rentetan-rentetan paradoks belaka. Mulai dari semua yang bersifat metafisik, sampai yang kongkrit sekalipun.


Semua yang terbiasa, akan menjadi biasa. Begitu juga paradoks yang terus diturunkan secara turun temurun ke setiap zaman. Sebuah paradoks namun dianggap sesuatu yang biasa.


Seseorang selalu ingin mendapatkan kedamaian hati, nyaman dan tenang. Mereka memilih agama, ideologi, paham dan sekte tertentu untuk mendapatkan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan. Sayangnya, apa yang kita lihat adalah cara dan keinginan untuk mendapatkan kedamaian, ketenangan dan kenyamanan adalah pemicu ketegangan.


Ketegangan adalah pemicu ketidakdamaian, atau ketidaknyamanan. Perbedaan pilihan "cara menemukan damai" justru menciptakan pergesekan. Dan pergesekan menimbulkan ketegangan. Ketegangan menyingkirkan kedamaian.


Ini paradoks pertama yang diturunkan atau diwariskan turun temurun, kita sebut saja paradoks kedamaian.


Paradoks berikutnya adalah tentang memberi. Ada dua kemungkinan tentang memberi, pertama orang yang dermawan dan selalu memberi. Kedua, orang yang tak pernah memberi alias pelit. 


Orang yang takut memberi, disebabkan takut kehilangan. Sedangkan orang yang terus memberi, karena ia ingin mendapatkan sesuatu. Anggap saja pahala.


Keduanya sama-sama paradoks, sebenarnya. Orang yang takut memberi, karena takut kehilangan sebenarnya hanya menutup diri dari dunia. Artinya, ia hidup hanya untuk dirinya sendiri.


Sedangkan yang kedua adalah konsep ekonomi yang sebenarnya, alih-alih pahala. Untuk mendapatkan uang, maka Anda harus keluar uang. Untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbankan sesuatu. Jadi, wajar kalau kemungkinan Anda akan mendapatkan kemudahan di hal-hal tertentu karena rajin "bersedekah".


Berkaitan dengan ekonomi, kita melihat bagaimana sebuah manajemen perusahaan. Atau mungkin sebuah negara. Tanpa kontrol yang ketat, mungkin saja kebahagiaan perusahaan dan negara itu akan meningkat. Tapi, akan memicu masalah lain.


Tapi, bila dikontrol dengan ketat maka akan menimbulkan kebencian bahkan perlawanan. Bisa dianggap pimpinan yang otoriter dan sebagainya. 


Ini paradoks berikutnya, kita sebut saja paradoks ekonomi & manajemen.


Keberanian Melawan Paradoks


Dunia menghadirkan ketakutan-ketakutan, absurditas dan ketidakpastian. Banyak orang yang ingin berani dan mencoba menghilangkan rasa takut. Salah satu caranya adalah dengan melawan paradoks tersebut.


Maka setiap orang mencoba untuk berani. Banyak orang yang mencoba melawan rasa takutnya. Maka semua orang berkeinginan untuk berani menghadapi hidup. Tapi, setiap orang yang ingin berani justru menunjukkan ketakutan. Orang-orang yang mencoba melawan ketakutan, justru terus dihantui dengan rasa ketakutan di dalam hati. 


Bagaimana cara agar berani? Tidak perlu dipikirkan, berdamai sajalah dengan rasa takut itu. Paradoks bukan?


Maka keberanian untuk menghadapi hidup justru menjadi sebuah paradoks yang lain. Kita sebut saja paradoks keberanian.


Kemudian, satu yang kita ketahui adalah semua orang ingin menyongsong masa depan, menggantungkan harapannya pada takdir. Padahal takdir bukan hal yang pasti. Dan itu berarti, semua orang menggantungkan harapannya pada satu hal yang tidak pasti. Itu berarti, semua orang telah hidup dalam ketidakpastian.


Itu artinya bahwa paradoks itu telah diwariskan turun temurun, bukan? Seperti ilustrasi gambar yang digunakan di bagian atas artikel ini, bahwa tidak ada penanda jalan, rambu-rambu dan sebagainya pada jalan-jalan primitif. Maksudnya, Anda bisa datang ke tempat yang sangat terpencil, atau daerah yang berada di tengah hutan, atau mungkin kehidupan manusia berabad-abad silam. Di jalan-jalan, mereka tidak ada rambu, penanda jalan dan sebagainya. Tapi mereka tidak tersesat.


Dan sekarang, di era modern, justru setiap jalan diberi rambu. Bukankah, kita kalah pintar? Padahal, rambu-rambu itu adalah penanda, bahwa manusia sekarang berada di zaman modern?

Ads