Konsep Pratibha: "Kesaktian" Seniman dalam Riwayat Estetika India Klasik -->

Ads

Pojok Seni
12 January 2021, 1/12/2021 10:48:00 PM WIB
Terbaru 2021-01-12T15:48:11Z
ArtikelSejarahSeni

Konsep Pratibha: "Kesaktian" Seniman dalam Riwayat Estetika India Klasik

Advertisement

Pojokseni.com - Tak bisa dipungkiri bahwa India merupakan salah satu peradaban tertua di muka bumi. Termasuk untuk  urusan karya seni.


Tradisi estetika India sudah menjawab apa itu seni dan apa itu karya seni sejak pewacanaannya disusun pada tahun 1500 SM (di dalam Kitab Weda). Hal ini mengagumkan, mengingat pewacanaan seni di Yunani pertama kali disusun pada abad ke-8 SM. Maka, pondasi pewacanaan seni di India bahkan jauh lebih tua dengan kebudayaan barat.


Di India dikenal istilah Pratibha. Pratibha diartikan sebagai daya cipta artistik, yang tentunya dimiliki oleh seorang seniman. Seorang seniman berarti seseorang yang memiliki "prathiba" dan tanpa itu, maka tidak ada karya seni.


Prathiba menjadi salah satu sifat kesenimanan yang bagi orang India klasik berarti sebuah "kesaktian". Yah, daya artistik itu dianggap sebuah mukjizat dan hanya seorang yang "sakti" saja yang memilikinya.


Tanpa memiliki prathiba, maka tak ada lukisan indah terlahir dari tangan seseorang. Begitu pula puisi-puisi yang indah. Juga pertunjukan teater yang memukau, atau tari yang memancing perhatian estetis. Tidak akan ada musik yang indah dan tidak akan ada patung yang memukau.


Lantas, pertanyaannya apakah prathiba ini dibawa sejak lahir? Atau bisa dilatih dan dipelajari? Apakah hanya orang tertentu atau semua manusia memiliki "prathiba" di dalam dirinya? Terakhir, apakah dengan bermodalkan prathiba saja, seseorang bisa menciptakan karya seni yang memukau?


Maka jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:


Apakah "Prathiba" dibawa sejak lahir? 


Jawabannya (menurut estetikawan India klasik) adalah iya! Sekaligus menjawab pertanyaan "Apakah hanya orang tertentu yang memiliki prathiba, ataukah semua orang? Jawabannya adalah, tidak semua orang terlahir membawa "prathiba" namun prathiba dibawa sejak lahir. 


Sialnya, tidak semua orang yang membawa prathiba sejak lahir (alias berbakat menjadi seniman) membawa kadar prathiba yang sama. Kita anggap saja apabila ada skala untuk prathiba, misalnya 1-8, maka ada yang membawa 8 prathiba, ada yang hanya membawa 1, ada yang membawa 3 demikian seterusnya.


Hal itulah yang membedakan kualitas karya seni dari setiap seniman. Tidak hanya itu, prathiba itu juga bisa bertambah, berkurang, bahkan hilang dari tubuh seseorang. Cukup mistis, bukan?


Apakah Prathiba ini Bisa Dipelajari dan Dilatih?


Menjawab pertanyaan yang ini, estetikawan India klasik memiliki perbedaan pendapat. Ada yang menganggap, cukup dengan terlahir membawa prathiba (apalagi dalam "skala" besar) maka akan menjadikan seseorang memiliki daya artistik yang kuat. Hal itu akan menjadikannya mampu menciptakan karya seni yang hebat.


Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa prathiba harus tetap dilatih dan ditunjang dengan pengetahuan. Hal itu bisa meningkatkan jumlah prathiba di dalam tubuh seorang seniman dan menjadikannya mampu berkarya dengan baik sesuai standar tertentu.


Meski demikian, kedua kubu sepakat bahwa karya seni yang paling tertinggi "kadar" estetikanya dipengaruhi oleh prathiba, bukan latihannya. Latihan dan pengetahuan hanya pendukung.


Apakah Hanya Bermodalkan Prathiba, Seorang Bisa Menciptakan Karya yang Hebat


Sebenarnya sudah terjawab dalam jawaban pertanyaan sebelumnya. Ada dua kubu dan salah di antaranya menyatakan bahwa tidak hanya prathiba yang menjadikan karya seni yang indah. Tapi, diperlukan pula latihan dan pengetahuan seni yang mumpuni.


Sedangkan kubu yang lainnya sudah yakin saja dengan kemampuan seorang seniman yang memiliki prathiba. Karena itulah, prathiba disebut dengan "kesaktian". Bahkan, disebut dalam kitab Kavyaprakasha yang ditulis oleh Mammata Bhatta pada kurun abad ke-11, bahwa prathiba itu merupakan kesaktian yang juga dimiliki dewa-dewa.


Dewa Brahma yang menciptakan bumi misalnya, juga dibekali dengan prathiba sehingga bumi dan semesta menjadi lebih indah. Tapi, seniman lebih hebat (menurut Mammata Bhatta). Karena mereka bisa mencitpakan karya seni tanpa patokan apapun (Dewa Brahma mengikuti aturan hukum alam), dan seni adalah ekspresi gelora jiwa dan perasaannya.


Meski terkesan cukup mistis dan menganggap daya artistik sebagai "kesaktian" namun setidaknya pandangan estetika India klasik justru mirip dengan gagasan di era pencerahan. Saat itu, di era Renaisans disebutkan pula tentang "kejeniusan alamiah" yang dibawa sejak lahir oleh seorang seniman. Juga pendapat bahwa tidak semua orang terlahir dengan bakat seni, karena mereka tentunya membawa bakat lain yang mungkin sama hebatnya.


Selain itu, karya seni yang baik memang harus ditopang dengan teknik, serta pengetahuan yang mumpuni. Meski demikian, bisa dikatakan bahwa karya seni yang baik lahir dari tangan seorang yang berbakat seni. 


Semacam itulah bagaimana kita melihat pengaruh pandangan estetikawan klasik India yang akhirnya (disengaja atau tidak) memengaruhi pandangan di era berikutnya.