Wajib Tahu, Ini Perbedaan Reog Ponorogo dan Reog Tulungagung -->
close
Pojok Seni
28 November 2020, 11/28/2020 05:38:00 PM WIB
Terbaru 2020-11-28T10:38:05Z
ArtikelBeritaBudaya

Wajib Tahu, Ini Perbedaan Reog Ponorogo dan Reog Tulungagung

Advertisement
Perbedaan Reog Ponorogo dan Reog Tulungagung
Perbedaan Reog Ponorogo dan Reog Tulungagung

pojokseni.com - Ketika mengenal Reog, tentunya apa yang akan terbersit di kepala Anda? Yah, kesenian khas Jawa Timur satu ini akan mengingatkan kita pada singa dengan "mahkota" burung merak yang melebarkan ekornya nan penuh warna.


Selain itu, setiap mengingat reog tentunya kita akan langsung terkenang kota Ponorogo. Reog Ponorogo begitu terkenal bahkan sampai ke seluruh dunia. 


Reog Tulungagung, Sama Sekali Berbeda dengan Reog Ponorogo

Reog Tulungagung
Reog Tulungagung (sumber foto: Dianrika90.blogspot.com)


1. Enam Orang Penari Pria


Ternyata, bila Anda berkunjung Kabupaten Tulungagung, Anda akan melihat pertunjukan reog yang sama sekali berbeda. Kesenian reog Tulungagung menampilkan enam orang penari pria yang menggunakan pakaian simbol prajurit kerajaan zaman dulu. Ditambah lagi, mulai dari ikat kepala sampai hiasan lainnya juga mewakili simbol persatuan para prajurit era Kerajaan Kediri.


2. Tanpa Topeng Singa, Warok dan Ekor Merak


Di Tulungagung, reog ini tidak menampilkan kepala singa raksasa, warok, ekor merak dan sebagainya. Yah, enam orang penari pria yang membawa gendang kecil sebagai tetabuhan.


Yah, reog yang menggunakan topeng singa, ekor merak yang bila disatukan menjadi luarbiasa beratnya itu adalah reog Ponorogo. 


3. Sejarah Reog Tulungagung


Reog Tulungagung kerap pula disebut reog Khendang. Sejarahnya bermula ketika di zaman Kerajaan Kediri, pasukan kerajaan mengiringi pengantin Ratu Kilisuci berangkat ke Gunung Kelud.


Ratu Kilisuci adalah putri dari Kerajaan Kediri yang dipinang Raja Bugis untuk menjdai istri. Rombongan pasukan ini salah memilih jalan akhirnya berjalan ke Ponorogo, Trenggalek hingga Tulungagung.


Sepanjang perjalanan mereka membawakan barang -barang yang berat, sehingga penari akan agak terbungkuk.


4. Membawa Gendang


Yah, keenam penari dengan dandanan prajurit ini akan menggambarkan bahwa mereka mendaki gunung, menuruni lembah dan sebagainya demi mengantar sang putri. Mereka membawa kendang kecil yang digendong. Alat ini bernama Tam-Tam.


Sejumlah sumber menyebutkan bahwa prajurit ini terinspirasi melihat prajurit kerajaan Bugis yang membawa kendhang untuk menghibur diri melewati perjalanan. Alhasil, permainan kendhang ini mengilhami laskar Trunojoyo yang akhirnya menjadikan tarian reog kendhang ini.


Reog Ponorogo, Singa Barong, Warok dan Latihan Spiritual

Reog Ponorogo
Reog Ponorogo (sumber foto: goodnewsfromIndonesia)


Reog Ponorogo berbeda jauh dengan reog Tulungagung. Tarian Reog Ponorogo bermula dengan tarian pembuka yang diwarnai dengan 6 pria (terkadang 7, kadang juga 8) yang datang dengan pakaian serba hitam menggunakan topeng warok berwarna merah. Lalu, datanglah 6 orang penari perempuan yang datang dengan kuda.


Tarian inti dari Reog Ponorogo adalah ketika singa barong masuk. Singa barong dengan ekor merak yang luar biasa besarnya, juga beratnya sampai 50 kg ini diangkat dengan gigi. Nah, diperlukan "tenaga dalam" agar tarian ini berhasil. Karena itu, selain latihan tari, juga diperlukan latihan spiritual untuk menjadikan penarinya mampu mengangkat singa barong.


Asal-usul Reog Ponorogo


Berbeda jauh dengan cerita Reog Khendang Tulungagung, Reog Ponorogo menceritakan Prabu Kelana Sewandana yang merupakan Raja Bantarangin yang sedang mencari calon istri. Calon istri saat itu adalah putri dari Raja Kediri bernama Dewi Sanggalangit.


Dewi Sanggalangit kabur dari Kediri karena masih belum ingin menikah. Ia lari ke suatu goa dan bersemedi. Namun Prabu Kelana menemukannya.


Prabu Kelana mengatakan akan melakukan apapun yang diminta Dewi Sanggalangit agar sang dewi mau menerima lamarannya. Dewi Sanggalangit meminta sebuah tarian atau kesenian yang menggambarkan betapa cinta Prabu kelana dengan dirinya.


Prabu Kelana mendapatkan wahyu dari Dewa dan membuat topeng yang sangat besar, gagah, dan indah. Itulah topeng singa barong dan tarian itu membuat Dewi Sanggalangit terpukau. Ia berjanji akan menjadi istri Prabu Kelana apabila tarian itu terus ditarikan setiap tahun.


Kesimpulan Perbedaan Reog Ponorogo dan Reog Tulungagung


Dengan latar belakang yang berbeda, tentunya menjadikan perbedaannya menjadi begitu kentara bukan. Namun, bagi masyarakat Indonesia kebanyakan, terutama di luar Jawa, baru reog Ponorogo yang begitu familiar.


Sedangkan reog Tulungagung masih kurang begitu dikenal. Bahkan kalah populer dibanding tari Reog Ponorogo. Tentunya, tugas kita bersama menjadikan keduanya sama-sama dikenal dan tetap lestari sampai akhir masa.  

Ads