03 July 2020

author photo

Baca Juga


PojokSeni - Anda pasti tahu di beberapa televisi swasta Indonesia, ada siaran yang memuat ulang video pendek dari aplikasi TikTok. Apa video yang paling viral hari ini akan dibagikan di program tersebut.

Ini acara paling hemat yang pernah ada. Seperti sebelumnya ada On The Spot misalnya di TransTV yang menjadikan video-video dari YouTube lalu dikumpulkan dan disiarkan. Tujuh keajaiban inilah, tujuh keajaiban itulah dan alhasil program selama satu jam tersebut dianggap akan menghibut pemirsanya.

Tapi, hal itu justru menunjukkan bahwa televisi kita benar-benar sudah kehilangan kreativitas. Mulai dari acara On The Spot tadi, mereka mengambil video dari YouTube, tentunya tanpa izin dengan pemilik video (maupun dengan YouTube) lalu menampilkannya sebagai "versi On The Spot".

Lalu muncul lagi acara "irit biaya dan kreativitas" setipe yang hanya mengumpulkan video-video lucu dan kadang terlalu tolol untuk ditertawakan bersama. Puncaknya adalah acara TikTok. Orang-orang di belakang acara tersebut mungkin akan menghabiskan waktu dan uang untuk meeting dan konsumsi, ketimbang membuat program tersebut. Tinggal pantau TikTok lalu cari video yang viral, atau terlalu lucu, atau malah terlalu sial untuk diunggah ulang ke layar kaca. 

Tentunya irit biaya, bukan? Tanpa pembawa acara kenamaan yang bayarannya fantastis, tanpa perlu membawa bintang tamu yang mengeluarkan biaya tambahan, tanpa perlu kru-kru, tanpa perlu dekorasi tambahan, dan juga tanpa perlu banyak berpikir. Cari sekitar 20-30 video yang bodoh, lalu unggah. Video tersebut tidak perlu diminta atau "dibeli" dari pemiliknya, karena pemiliknya yang berharap mendapat popularitas lebih apabila videonya bisa muncul di TV.


Apa ini tidak keterlaluan? Anda pernah mencoba menghindari "TikTok" itu di ponsel pintar Anda? Sangat sulit bukan? Karena videonya sampai ke berbagai sosial media lainnya. Lalu, ketika mencoba berlari dari smartphone dan menonton televisi berharap ada pengetahuan baru yang didapat, malah acara tiktokan ada di TV.

Kalau diingat kembali bagaimana satu negara ini merundung seorang bocah yang terkenal karena TikTok, dan sekarang si bocah itu sudah insaf malah para perundungnya yang sekarang sedang berharap terkenal dari aplikasi itu. Malahan, lebih hebatnya disiarin di TV! Padahal dulu, para perundung itu mendesak pemerintah untuk memblokir aplikasi itu?

Itulah kenapa Anda sebaiknya menjual TV di rumah Anda. Karena kalau bukan intrik politik, berita pencitraan, sinetron super ajaib, azab-azab mengerikan, perdukunan dan mitos-mitos, cinta-cinta anak sekolahan, dan sekarang masalahnya bertambah satu lagi: TikTok! 
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...