Gordon Craig dan Teknik Penyutradaraan "Diktaktor" -->
close
Pojok Seni
02 May 2020, 5/02/2020 01:23:00 AM WIB
Terbaru 2020-05-01T18:23:12Z
Artikelteater

Gordon Craig dan Teknik Penyutradaraan "Diktaktor"

Advertisement


PojokSeni.com - Edward Gordon Craig adalah salah satu sutradara yang fenomenal dan kontroversial dari Eropa awal abad ke-20 yang lahir pada tahun 1872. Craig adalah putra dari pasangan Edward Godwin seorang sutradara dan Ellen Terry seorang aktris teater. Kedua orang tua dari Craig adalah seniman yang paling dihormati di Inggris pada masanya.

Nama Craig semakin populer sejak ia melahirkan sebuah teori yang kontroversial, yaitu "Dalam teater, sutradara adalah seniman sejati, bukan aktor." Craig beranggapan bahwa aktor hanyalah boneka marionatte dalam pertunjukan teater.

Sutradara bagi Craig adalah pencipta utama, menciptakan semua ide dan mewujudkannya ke pentas yang utuh. Aktor berperan sebagai "ubermarionatte", yang gerakannya tidak lahir secara psikologis atau naturalistik, melainkan simbolis.

Teknik penyutradaraan dari Gordon Craig adalah teknik penyutradaraan diktaktor atau "kejam". Gordon Craig menyatakan bahwa ide dan gagasan seorang sutradara harus dilaksanakan oleh para aktor. Para aktor harus mendedikasikan dirinya pada ide-ide sutradara. Teknik penyutradaraan Gorgon Craig ini menciptakan sesuatu yang sesuai dengan harapan sutradara secara sempurna dan teliti. Namun gaya ini menjadikan seorang sutradara menjadi sutradara yang diktator.


Gordon Craig adalah pencetus teori penyutradaraan sangat “ kejam “, karena berangkat dari pemaknaan teater itu sendiri, yang menjelaskan bahwa teater merupakan seni yang berdiri sendiri dengan kekuatan dasar dari penokohan, bahasa, garis dan warna. Kemudian menjadi satu kesatuan di atas panggung, saling berkaitan dan membutuhkan antara satu dengan lainnya, dan akhirnya menciptakan suasana yang di hasilkan pada penonton. Setelah itu mereka akan merasakan apa yang di rasakan pelaku panggung itu sendiri, dan pengelola panggung itu tak bukan adalah seorang pekerja seni yang memahami betul makna dari panggung itu sendiri.

Maka muncullah gagasan penyutradaraannya yang merupakan kesamaan teori dari Aldhophe Appia dan Meinengen. Gordon Craig mengambil pola pendekatan artistic panggung dari seorang Aldhophe Appia, sementara pengaturan gerak laku para aktornya adalah sutradara. Dan perpaduan dua teori ini menjadi kajian menarik di antara para pemainnya saat itu, terlepas dari beberapa perdebatan teoritisnya, tentang hakekat bahwa sutradara merupakan raja sang pengatur panggung. Maupun beberapa kelompok teater lainnya yang hidup di zamannya, khususnya beberapa kota yang terdekatnya kala itu.

Teknik penyutradaraan diktaktor dari Craig, sebagai berikut: 



  1. Pertama kali di lakukan sama halnya dengan Aldhophe Appia, yaitu membentuk garis, tekstur, warna yang akan di lihat penonton, kaitannya mutlak tak lain sebuah panggung, lalu bagaimana caranya sketsa dan maketnya bisa di mengerti oleh setiap pemainnya, mempunyai daya rangsang tersendiri bagi mereka.
  2. Menyiapkan segala perlengkapan panggung dan kebutuhan dari set yang akan di bangun, di gabungkan antara satu dengan lainnya, sembari mengkaji seberapa besar para pemainnya memahami kegunaan dari gagasan yang di lakukan.
  3. Mengolah setiap pemainnya untuk masuk ke dalam sktesa panggung yang sudah tergambar, dan melakukan latihan dengan semua perlengkapan set yang sudah tersedia.
  4. Menggali setiap kemampuan pemainnya agar tahu tentang garis, warna, tekstur dari setting yang akan di hidupkan mereka, sehingga tak jarang terjadi badai otak antara mereka, sampai akhirnya para pemainnya benar-benar paham gagasan apa yang mau di ungkapkannya kepada publik.
  5. Gordon Craig tak segan-segan mengeluarkan pemainnya yang sudah melakukan proses jika belum ada titik sepakat, gagasan dari artistik panggung yang mau di capainya sehingga sangatlah mutlak bahwa para pemainnya merupakan imajinasi yang di hidupkannya, satu tujuan yaitu mencapai estetika. 


sumber: Innes, Cristopher, 1983. Edward Gordon Craig (Directors in Perspective), York University in Ontario, English.

Ads