26 March 2020

author photo

Baca Juga

Salah satu adegan di pertunjukan teater Cinderalla di Into the Wood, Broadway 
pojokseni.com - Kisah Cinderella menjadi salah satu cerita terpopuler yang diangkat dari cerita rakyat. Apalagi, ketika Disney mengangkatnya menjadi film animasi dan live action. Maka cerita Cinderella menjadi salah satu kisah yang populer di seluruh penjuru bumi, termasuk di Indonesia.

Namun, ada cerita yang dituliskan Brothers Grimm, ternyata menjadi cerita yang sebelumnya jauh lebih dikenal ketimbang cerita yang dikenal saat ini. Ada ratusan cerita (versi) tentang Cinderella dari seluruh tempat di dunia, dan hanya ada 3 yang paling terkenal. Dua di antaranya hampir mirip, hanya berbeda setting tempat dan bahasa, tapi ceritanya persis.

Tapi cerita ketiga, yakni versi Brothers Grimm yang berjudul "Aschenputtel" (gadis abu) adalah sebuah cerita Cinderella yang sangat jauh berbeda dengan dua cerita yang diangkat Disney tersebut. Cerita yang satu ini jauh lebih mengerikan, gelap dan bahkan berdarah-darah. Mungkin bila difilmkan, penontonnya adalah usia 21 tahun ke atas, karena akan banyak adegan mengerikan di dalamnya.

Brothers Grimm menceritakan sebuah cerita yang jauh lebih manusiawi dan sebenarnya manusia itu tidak melulu jahat, juga tidak melulu baik. Kejujuran hati, cerita yang manusiawi, justru membuat kisah Cinderella menjadi begitu tragis, gelap dan bahkan mengerikan.

Ayahnya Tidak Meninggal

Anna Kendrick memerankan Cinderella dalam sebuah pertunjukan di Into the Wood, Broadway (sumber: The Sidney Morning Herald)
Cerita bermula dari ada seorang gadis bernama Cinderella yang menjadi piatu, karena ibunya meninggal. Dan, ayahnya mencoba menikahi seorang wanita yang sudah punya dua anak, untuk menjadi teman sekaligus penghibur anaknya yang berduka. Ayahnya sudah melihat bagaimana dua orang anak tersebut ternyata sama sekali pemalas, tidak mau bekerja dan tidak suka membereskan rumah, tapi si ayah sudah kadung jatuh cinta sama ibunya yang cantik jelita.

Dua anak tersebut cantik, hanya kecantikannya saja yang berbeda dengan Cinderella. Bahkan, Cinderella menjadi kalah cantik dengan mereka, karena keduanya terus berdandan, sedangkan Cinderella berkutat dengan kotoran dan cucian. Maka Cinderella punya nama lain yakni Aschenputtle alias gadis abu.

Satu yang perlu Anda ketahui, dua gadis dan ibu tiri itu sudah lama menjadikan Cinderella sebagai pembantu di rumahnya sendiri itu, dan ayahnya tidak meninggal. Ayahnya tahu itu. Dia tidak marah, karena ia tahu bahwa Cinderella sudah dewasa dan mampu mengatasi hal tersebut. Tapi, beberapa yang lain justru menunjukkan bahwa sebenarnya ayah Cinderella adalah "lelaki yang takut istri".

Yah, Cinderella bukan seorang yang "nggeh-nggeh" dan tampak begitu tersiksa di cerita ini. Ia adalah seseorang yang memelihara sebanyak mungkin merpati di kamar atasnya, dan merpati jinak ini bisa membantunya membersihkan rumah, menjemur pakaian dan sebagainya. Cinderella juga kerap menghilang, ketika rumah begitu kotor akibat dua saudara tirinya. Lalu, dua saudara tiri itu yang diminta ayahnya membersihkan rumah, tentu saja selanjutnya dua saudara tiri itu membalas dendam pada Cinderella.

Tidak Ada Peri, Tapi Ada Pohon Ajaib

Ryan McBride (Pangeran) dan Ximone Rose (Cinderella) (foto oleh Michael Brosilow/sumber Better.net)

Di cerita Cinderella versi ini, tidak ada peri yang super mampu memenuhi segala permintaannya dengan sihir. Suatu hari, si gadis abu mendapatkan mimpi dari almarhumah ibunya, yang meminta ada sebatang pohon yang ditanam di kuburannya. Pohon itulah yang nantinya menjadi semacam reinkarnasi sang ibu untuk membantu anaknya.

Jadi, ketika ayahnya berangkat keluar kota, ia memanggil tiga anaknya dan bertanya apa oleh-oleh yang mereka kehendaki sepulangnya dari luar kota. Dua saudara tiri si gadis abu tentunya menginginkan hal-hal yang mewah, semacam perhiasan dan pakaian. Tapi, gadis abu malah meminta sebatang pohon.

Sepulangnya dari luar kota, ayah Cinderella benar-benar memberikan dua anak tirinya perhiasan dan pakaian yang indah. Tidak lupa membelikan sebatang pohon Hazel untuk Cinderella.

Pohon itulah yang ditanam Cinderella di samping kuburan ibunya. Sejak saat itu, ia merawat batang itu, tentunya bersama dengan para merpatinya. Pohon ini, awalnya menjadi tempat curhat Cinderella ketika dirundung dua saudara tirinya, yang kemudian dibela oleh ibu tirinya. Maka satu persatu keinginan Cinderella mulai dipenuhi oleh pohon ajaib ini.

Pesta Dansa dan Pangeran yang Aneh


Dalam cerita Cinderella yang ini, pesta dansa digelar tiga kali. Setiap pesta, pangeran dari kerajaan tersebut selalu mencari siapa putri yang paling cantik. Dua saudari tiri Cinderella tak pernah dipilih, karena seluruh kota sudah tahu betapa pemalasnya kedua orang itu.

Cinderella disiapkan tiga gaun pesta (oleh pohon ajaib itu tentunya), lengkap dengan mahkota dan sepasang sepatu kaca. Ia tentunya dikurung dulu oleh dua saudari tirinya agar tidak bisa ikut. Namun, Cinderella di cerita ini adalah wanita yang luar biasa, ia mampu menyelinap dan akhirnya pergi ke pohon ajaib. Setelah semua persiapan telah siap, ia berangkat ke pesta dansa.

Yah, cerita di pesta dansa mungkin sebenarnya sama saja. Tapi sayangnya, cerita pangerannya sedikit berbeda.

Pohon ajaib memberi pesan pada Cinderella untuk kembali sebelum tengah malam, atau gaunnya menghilang. Di pesta pertama, pangeran sudah begitu jatuh cinta pada Cinderella. Sayangnya, sebelum pesta benar-benar berakhir, di tengah malam Cinderela menghilang.

Pangeran mulai mempersiapkan cara untuk "menangkap" Cinderela. Pada pesta kedua, ia meminta prajuritnya untuk menyiapkan penanda semacam lumpur untuk mengetahui ke mana jejak kaki Cinderella. Cara pertama gagal, karena jejak kaki itu mengarah ke kuburan.

Pesta ketiga, lebih sadis lagi, ia meminta prajurit kerajaan agar menyiapkan perekat (lem) yang terbuat dari bahan tar (aspal) dan bahkan semen. Tujuannya, agar nantinya korbannya akan terjebak. Tentu saja, Cinderella (bersama para gadis lainnya) terjebak di semen dan tar tersebut. Tapi, berbeda dengan para gadis lainnya, Cinderella memilih meninggalkan sepatu kacanya (sebelah) dan tetap melarikan diri.

Jadi, bila ada yang bertanya, bila benar kaki Cinderella itu sangat pas dengan sepatu tersebut, kenapa sepatu itu bisa terlepas, seperti sepatu itu kedodoran? Jawabannya, yah karena cerita asli di atas, bahwa pangeran-lah yang sebenarnya licik.

Adegan Berdarah-Darah


Pertunjukan teater Cinderella di Broadway (sumber: Better.net)
Pada akhirnya, pangeran yang ditemani prajurit kerajaan membawa sepatu kaca itu kemana-mana. Apakah benar hanya Cinderella di satu negeri itu yang muat? Bukan seperti itu, karena lewat pencarian tertentu, mereka hanya mencari pemilik sepatu itu di sekitaran wilayah yang dekat dengan kuburan ibu Cinderella. Jadi, wilayahnya memang dipersempit.

Ibu tiri Cinderella mencari tahu ukuran sepatu yang dibawa pangeran, dan tahu bahwa sepatu yang di bawa hanya sebelah kanan. Sayangnya, ukuran tersebut tidak muat dengan dua anaknya.

Lalu, salah seorang anaknya dipotong jari kakinya agar sepatu itu muat. Sedangkan seorang lagi, dipotong bagian tumitnya. Alhasil, ketika pangeran datang, dua orang itu bisa mengenakan sepatu kaca itu dengan pas.

Cinderella muncul dari persembunyiannya, dan meminta diri untuk mencoba sepatu tersebut. Pangeran mempersilahkan, dan akhirnya Cinderella menunjukkan kakinya juga muat dengan sepatu itu.

Masalahnya, tiga orang perempuan itu kakinya muat dengan sepatu tersebut. Maka, Cinderella membuktikan bahwa ia adalah pemiliknya, dengan menunjukkan sebelah lagi.

"Kau mencuri sepatu kaca itu dari kami, itu sepatu kami," teriak salah seorang saudara tirinya.

"Baiklah, kalau memang pasangan sepatu kaca ini adalah milik kamu, kenapa tidak kamu pakai saja sebelahnya? Atau kau juga meminta aku untuk mencuri jari kaki sebelahmu juga? Atau tumitmu?" jawaban Cinderella.

Dua saudara tiri terdiam, dan tidak akan tahan bila sebelah kakinya akan dipotong juga. Pangeran meminta Cinderella agar bersedia menerima lamarannya, menjadi istri seorang pangeran yang berarti akan menjadi ratu kerajaan itu.

Cinderella menerima lamaran itu dengan satu syarat, yakni ia ingin menghukum mati ibu tirinya, juga dua orang saudara tirinya. Betul-betul mengerikan bukan?
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...