11 February 2020

author photo

Baca Juga

Natalie Portman dan pakaian "perlawanan" terhadap Oscar 2020
pojokseni.com - Baik di film, maupun di teater, sutradara memiliki peran sekelas panglima perang. Memimpin semua prajuritnya, bertempur di medan perang. Dan ada yang merasa bahwa Oscar masih terlalu menganggap "pemimpin" masih milik seorang "laki-laki". Seseorang tersebut, salah satunya adalah Natalie Portman.

Ia menyebut, tidak adanya nama sutradara wanita dalam nominasi sutradara terbaik Oscar, membuat penghargaan paling bergengsi di dunia untuk perfileman tersebut dianggap masih diskriminasi gender. Seakan-akan, sutradara masih milik para lelaki.

Ada beberapa nama yang bahkan dibordir Natalie di pakaiannya, yang kesemuanya adalah sutradara wanita. Nama-nama yang dibordir tersebut antara lain Lorene Scafaria, Lulu Wang, Greta Gerwig, Marielle Heller, Melina Matsoukas, Alma Har'el, Celine Sciamma dan Mati Diop.

Beberapa nama seperti Greta Gerwig misalnya yang menyutradarai film Little Women, bahkan filmnya berhasil masuk nominasi Oscar. Pemeran wanitanya, Laura Dern, malah berhasil mendapatkan aktris terbaik.

Nama Mati Diop, sebagai sutradara film Atlantics dari negara Senegal, keluar sebagai juara Festival Film Cannes tahun silam, juga tidak muncul sebagai nominasi sutradara terbaik.

Sejak awal digelar, hanya ada 5 orang wanita yang mendapat nominasi Oscar untuk kategori sutradara terbaik. Dari lima kesempatan itu, hanya Kathryn Bigelow yang berhasil memenangkannya untuk film The Hurt Locker.

Diskriminasi Kulit Berwarna 

Seluruh aktor di Film Parasite ikut maju ketika film itu keluar sebagai film terbaik. Sayangnya, tidak ada satupun di antara aktor tersebut yang masuk nominasi
Tidak hanya masalah gender, Oscar 2020 kembali menjadi sasaran kritik karena nyaris tidak ada "kulit berwarna" yang masuk di nominasi. Alhasil, sejak nominasi diumumkan, tagar #OscarsoWhite sempat bertengger menjadi trending topik di Twitter.

Total 20 orang aktor yang masuk dalam nominasi pemeranan, yakni aktor terbaik, aktris terbaik, aktor pendukung terbaik dan aktris pendukung terbaik. Nyatanya, 19 orang di antaranya adalah "kulit putih" dan hanya satu orang aktor "kulit berwarna" yang masuk nominasi yakni Cynthia Erivo dalam film Harriet.

Kritik sejumlah orang dan awak perfilman itu bahkan disetujui oleh kritikus ternama di Hollywood, Owen Gleibermen. Mulai dari nama Greta Gerwig yang tidak dapat nominasi sutradara terbaik, padahal filmnya masuk nominasi, itu wajar kalau memunculkan tudingan diskriminasi gender.

Untuk aktor "berwarna", beberapa nama disebut-sebut semestinya berada di nominasi. Sebut saja Jennifer Lopez, yang bermain apik untuk film Hustlers sebagai penari tiang. J-Lo bahkan menang di even lain, seperti Golden Globe.

Masih dari even yang sama, Golden Globe, aktor lain yang mendapatkan penghargaan adalah Awkwafina (Farewell) yang juga aktor berwarna.

Nama lain seperti Lupita Nyong'o (Us), Zhao Shuzhen (Farewell), sampai nama Song Khang-ho (Parasite) adalah nama-nama yang filmnya masuk dalam nominasi Oscar, tapi tidak dapat nominasi aktor dan aktris.

Untuk kedua hal ini, gender dan warna kulit, bahkan even sekelas Oscar juga masih belum bisa menghindar. (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...