05 February 2020

author photo

Baca Juga

Ilustrasi karya teater (Teater Satu Lampung mementaskan Kisah-Kisah yang Mengingatkan)
pojokseni.com - Bagus atau tidaknya karya seni telah menjadi bahan diskusi bahkan perdebatan bagi banyak orang, baik itu pelaku seni maupun masyarakat umum. Kebanyakan berakhir pada kesimpulan bahwa bagus atau tidaknya karya seni itu bersifat subjektif, dan relatif.

Hal itu berarti tidak ada karya seni yang buruk, juga tidak ada yang bagus. Lantas, kalau memang seperti itu, bagaimana dengan perlombaan yang harus menentukan juara alias karya terbaik?

Faktanya, bila menentukan "suka" atau "tidak suka" terhadap sebuah karya seni, maka itu berurusan dengan selera dan sangat subjektif. Penggemar musik dangdut tidak akan menyukai musik progresif metal betapapun bagusnya, begitu juga sebaliknya.

Tapi, untuk menentukan "bagus" atau "jelek" maka ini bukan urusan selera dan subjektivitas lagi. Ini mesti objektif dan ada standar tertentu untuk menentukan itu. Karena dengan menentukan bagus atau tidak bagus, maka Anda telah menjadi "juri" atau "kritikus".

Suka atau tidak suka, tentu sangat berbeda substansinya dengan bagus dan jelek. Apa saja yang bisa dipertimbangkan untuk menentukan kualitas sebuah karya seni?

Standar yang Bisa Digunakan Untuk Menilai Karya Seni

Ilustrasi karya seni (DADC Lampung mementaskan teater tari)

1. Kedalaman Makna atau Muatan Karya


Ini hal yang menentukan sebuah karya itu menjadi bagus atau jelek. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa dalam muatan atau makna dari karya tersebut. Bila Anda berhasil tergugah, tercerahkan, cenderung ingin berkontemplasi pasca menyaksikan atau mendengar sebuah karya seni, maka bisa dibilang karya tersebut memiliki "isi".

Kadang, seorang seniman mungkin memaksakan ideologinya, namun karya yang baik justru akan menimbulkan ruang imajinasi yang berbeda bagi setiap orang yang menikmatinya.

Bagaimana cara untuk mendapatkan atau mengetahui isi atau muatan dari sebuah karya seni. Saat itu, diperlukan banyak disiplin ilmu. Misalnya, teori filsafat tertentu. Ada juga yang menggunakan semiotik untuk mengkaji muatan dari sebuah teks, atau karya. Masih banyak disiplin ilmu lainnya yang kadang ikut digunakan untuk pengkajian sebuah karya seni, seperti psikologi, sosiologi dan sebagainya.

2. Komposisi atau Struktur


Meski sudah memiliki "isi" belum tentu juga karya seni tersebut sudah masuk dalam kategori berkualitas bagus. Masih ada hal lain yang perlu dipertimbangkan untuk penentuan itu.

Komposisi dari karya seni berarti unsur-unsur di dalam sebuah karya seni tersebut mesti seimbang, bersetangkup (kesatupaduan), berirama dan utuh. Jahitan antar unsur mesti jelas, rekat dan terukur.

Dalam hal ini, dibutuhkan teknik khusus bagi seorang seniman untuk menyusun karyanya. Ada prinsip-prinsip tertentu yang mesti diikuti untuk merangkai dan "menjahit" unsur-unsur tersebut agar semakin memikat penontonnya.

Ada takaran yang baik dalam meramu unsur-unsur tersebut, dinamika dan keharmonisannya. Juga pengetahuan seni mutlak diperlukan agar karya tersebut "tidak tersesat". Maksudnya, bila ingin membuat sebuah lagu beraliran jazz, maka pakem yang digunakan tentunya pakem jazz, agar tidak tersesat justru menjadi lagu aliran lain, dangdut misalnya.

3. Unsur atau Elemen


Di atas tadi sudah disinggung tentang "unsur" dan "elemen", intinya adalah komposisinya bagus, namun unsur-unsur yang dipadukan atau dirangkai tentunya mesti bagus.

Garis dan warna dalam seni rupa menjadi unsur-unsur yang dimaksud. Bit, dan spektakel menjadi unsur yang dalam seni pertunjukan. Notasi, dinamika dan sebagainya juga menjadi unsur dalam seni musik.

Unsur-unsur atau elemen ini kita analogikan sebagai bahan-bahan masakan. Misalnya dalam teater, ada aktor, sutradara, naskah, musik, cahaya, artistik, kostum, make up dan sebagainya. Untuk "memasaknya" maka sutradara yang berperan menjadi koki, meramu semua bahan-bahan yang dimaksud. Bila ada bahan yang "berkualitas kurang bagus" maka akan berdampak pada hasil akhirnya.

Cara memasak, alias cara merangkai unsur-unsur tersebut menjadi satu paduan yang kita sebut sebagai karya seni, sudah dibahas dalam "komposisi" di atas.

Ilustrasi karya seni (Teater Senyawa Curup mementaskan Pelukis & Wanita)
Secara umum, tiga hal tersebut menjadi pegangan awal bagi seseorang (khususnya pemula) untuk mengenali dan menilai sebuah karya. Tapi, masih diperlukan banyak disiplin ilmu yang saling berkaitan untuk membahas satu pertunjukan atau karya. Kadang, tiga hal di atas masih dirasa kurang cukup untuk memahami sebuah karya seni dengan lebih komprehensif dan objektif.

Percayalah, ketika bertemu dengan sebuah karya yang berkualitas tinggi dan Anda mencoba mengenali karya tersebut dengan memberikan ruang untuk menganalisanya, maka hasilnya akan jauh berbeda ketimbang melihat karya yang jauh lebih mudah.

Karya-karya dalam budaya pop misalnya, kebanyakan tidak memerlukan banyak "tenaga" untuk diambil pesannya, juga tidak butuh banyak "pisau" lintas disiplin ilmu untuk mengkajinya. Tapi begitu cepat menghilang, dan berganti dengan karya yang baru, yang lebih mainstream dan lebih "nge-pop".

Kenikmatan dan kepuasan dalam mengilhami sebuah karya seni berkualitas tinggi tentunya akan memberikan banyak pengalaman spiritual baru bagi diri Anda. Cobalah! (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement