05 January 2020

author photo
pojokseni.com - Dalam waktu yang hampir berdekatan, dua orang membuat publik pecinta puisi, penyair dan sastrawan di Indonesia menjadi heboh. Nama pertama adalah nama guru besar sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono (SDD). Sedangkan nama kedua adalah istri dari seorang pesohor (sehingga ia juga menjadi tersohor) bernama Putri Marino.

SDD mengeluarkan pernyataan yang kontroversial, sedangkan Putri Marino mengeluarkan buku kontroversial.

SDD Sebut Puisi Karya Akal-Akalan


SDD dalam sebuah kesempatan "belajar menulis puisi bersama Sapardi Djoko Damono" menyebut bahwa puisi itu hanya akal-akalan saja. Lebih lanjut, SDD meminta audien membaca puisi-puisi karya penulis Indonesia, dan disebutnya berisi metafora, akal-akalan. Lebih gamblang, SDD menyebut buku puisinya bertajuk Babad Batu dinobatkan sebagai buku puisi terbaik oleh Tempo.

"Padahal saya nulisnya ngawur. Jadi jika ada yang ingin menulis puisi, ya nulis saja, tidak usah memikirkan bagus atau jeleknya," kata SDD.

Sebenarnya, premis yang seluruh pernyataan kontroversial SDD adalah semua orang bisa menulis puisi kalau dia mau. Mungkin terkait dengan peningkatan literasi, ia juga ingin ada banyak orang yang menulis puisi.

Pernyataan itu tentunya mendapat banyak protes dari pegiat sastra tanah air. Beberapa penyair menyebut bahwa sang guru besar telah mereduksi definisi puisi menjadi "sekedar teks" yang disajikan dalam bentuk baris-baris.

Terlepas dari itu, ada beberapa yang lain justru berpendapat yang sedikit menyimpang dari inti pesan SDD. Ada yang menyebut, jangan-jangan apa yang disampaikan SDD justru sebuah pernyataan satir. Karena akhir-akhir ini, (tidak hanya sastra) karya-karya lainnya juga banyak yang dibuat "asal-asalan."

Jangan-jangan yang disampaikan mbah SDD justru sarkas. Toh saat ini tidak hanya karya sastra, karya lainnya juga banyak yang dibuat asal-asalan.

Putri Marino dengan "Buku Puisi"


Istri dari Chico Jericho, Putri Marino mengeluarkan buku puisi bertajuk "#poempm" (yah tulisannya seperti itu, lengkap dengan tagarnya). Berikut beberapa contoh "puisi" yang ada dalam buku tersebut.

"Kau membuatku percaya... percaya bahwa semesta kita memang sejalan... aku yang naif atau kau yang terlalu jahat" #poempm

Perlu dicatat bahwa contoh yang diberikan PojokSeni di atas memang satu buah "puisi" yang ditulis Putri Marino, bukan potongan atau kutipan puisi.

Contoh berikutnya

"...kau tidak sendirian, kau punya dirimu... kau punya aku..."#poempm

Contoh lainnya

"Kita diberikan sepasang mata untuk dapat melihat betapa indahnya alam semesta... diberikan sepasang kaki untuk dapat menyusuri setiap sudut keragaman di semesta ini... diberikan sepasang tangan untuk dapat berjabat tangan dengan orang baru yang kita temui di setiap semesta yang kita pijaki... satu kata... kita beruntung" #poempm

Tiga contoh di atas tentunya kita anggap cukup untuk menjadi sample menilai buku karya Putri Marino tersebut. Tentunya, wajar saja kalau akan banyak kritikan menghujam buku ini. Apalagi, sang penulis dengan gagah berani melabeli karya-karyanya ini sebagai "puisi" dan menyebut bukunya sebagai "buku puisi".

Meski demikian, masih banyak juga yang pro dan mendukung. Akan sangat baik, bila yang mendukung Putri Marino tetap berkarya juga memberikan saran agar Putri Marino menambah wawasan terlebih dulu tentang apa itu puisi, struktur, konstruksi, unsur, kaidah-kaidah, dan sebagainya.

Terkait diksi yang digunakan sang penulis baru ini, akan lebih baik juga para pendukungnya memberi saran agar Putri Marino mau untuk lebih banyak melahap karya sastra bermutu, sebelum nekat meluncurkan buku keduanya nanti.

Atau, jangan-jangan Putri Marino menjadi "nekat" karena pernyataan SDD yang "memudahkan" puisi itu? Entahlah. (ai/pojokseni)

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement