11 January 2020

author photo
Monumen berbahasa Jepang di Candi Mendut (sumber gambar: Kompas)
pojokseni.com - Bila Anda berkunjung ke Candi Mendut, maka Anda akan menemukan sebuah monumen berbahasa Jepang, dengan huruf Jepang bertanda tahun 1985. Pertanyaannya, kenapa ada monumen berbahasa Jepang di Candi Mendut?

Ada sebuah kisah unik dari monumen berbahasa Jepang ini. Seperti pernah dimuat harian Kompas, ketika jurnalisnya bertemu dengan Louie Buana, seorang anggota dari Tim Ahli Penyusun Narasi Legenda Borobudur dari Universitas Gadjah Mada.

Beliau menceritakan tentang seorang ibu bernama Shizuko Miyagawa, warga Jepang yang memiliki anak yang lumpuh. Shiziko Miyagawa yang merupakan penganut Buddha Shingon* ini terus mencoba mengobati anaknya ke seluruh penjuru negeri dan ke tempat-tempat lainnya. Namun, anak tersebut tak kunjung sembuh. Kejadian ini terjadi di era 1970-an.

Kemudian, dari berbagai tempat tersebut, Shiziko Miyagawa mendapatkan semacam ilham atau wangsit bahwa ia harus beribadah di Candi Mendut, yang terletak di Indonesia. Hampir putus asa, ia mencoba peruntungan terakhir, datang dan beribadah ke Candi Mendut dan berdoa untuk kesembuhan anaknya. Ia juga memiliki janji, apabila anaknya sembuh, ia akan membangun sebuah monumen persembahan untuk ungkapan terima kasih.

Candi Mendut (sumber: Wikipedia)
Singkat cerita, ibu itu datang ke Indonesia dan tiba di Candi Mendut. Ia melakukan ibadah di Candi Mendut, kemudian berdoa meminta kesembuhan untuk anaknya. Keajaiban terjadi, sang ibu mendapati anaknya sembuh perlahan-lahan dari kelumpuhan, ketika ia pulang ke Jepang.
Tahun 1985, ibu ini menepati janjinya dengan membangun sebuah monumen yang kelak dinamakan Monumen Persahabatan Indonesia - Jepang.

Dibuat di Indonesia

Tulisan di monumen berbahasa Jepang di Candi Mendut (sumber gambar: Bobo)
Meski demikian, monumen yang berisi ungkapan terima kasih tersebut dibuat di Indonesia. Monumen tersebut berupa sebuah prasasti berbahan tembaga yang dipasangkan pada batu berbentuk balok. Sedangkan di sekelilingnya, ada pilar yang terbuat dari batu andesit dari Gunung Merapi, yang juga bertuliskan huruf Jepang.

Tapi, pembuat monumen itu adalah Sanggar Seni Pahat Batu Sanjaya, yang berada di Dusun Prumpung, Desa Tamanagung, Muntilan, Jawa Tengah. Sanggar tersebut milik Dulkamid Sjayaprana. Jadi, bahannya dari Indonesia, pembuatnya pun orang Indonesia.

Monumen tersebut kemudian diletakkan di Candi Mendut dengan izin dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement