03 December 2019

author photo
Ketua Umum DKS Chrisman Hadi ketika memberi sambutan saat Majelis Sastra Urban edisi 6 (30 Mei 2019). 

pojokseni.com- Akhir tahun 2019 ini, Dewan Kesenian Surabaya (DKS) bekerja sama dengan Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) menggelar acara Festival Sastra Jawa. Festival digelar di Sekretariat DKS, Gedung Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, Jumat malam (27 Desember 2019).

Ketua Umum DKS Chrisman Hadi menerangkan, Festival Sastra Jawa bakal menampilkan 5 pengarang sastra Jawa. "Mereka satu per satu akan tampil membawakan karyanya dalam format pertunjukan. Tiap pengarang boleh membawa kru untuk menunjang penampilan," katanya, Selasa (3 Desember 2019).

Acara ini adalah bagian dari program Majelis Sastra Urban DKS yang biasa digelar sebulan sekali. "Jadi Komite Sastra DKS tiap bulan melaksanakan diskusi ataupun pertunjukan sastra. Biasanya di Galeri DKS. Namun kali ini acara di Sekretariat DKS karena memakai perlengkapan gamelan. Apalagi, ruang sekretariat memang lebih luas," katanya.

Seniman Mahdi Betjak ketika bermain pantomim saat Majelis Sastra Urban edisi 6 (30 Mei 2019). 

Salah satu Tim Kreatif Majelis Sastra Urban, Rizki Amir, menuturkan bahwa festival tidak hanya berisi pertunjukan sastra Jawa. "Ada pertunjukan musik gamelan dari anak-anak usia sekolah dasar. Mereka hampir tiap hari latihan di DKS. Nah, kali ini, mereka kita tampilkan," kata lulusan Sastra Indonesia Unesa yang biasa disapa Kimpul itu.

Kimpul menambahkan, festival dibuka dengan musik gamelan. Setelah itu, pertunjukan 5 pengarang sastra Jawa. Lantas dilanjutkan dengan diskusi.

"Nah karena memakai nama festival, yang artinya pesta, acara tidak sekadar di dalam ruangan. Kita juga sajikan acara di luar ruangan. Ada bazaar buku dari para pengarang sastra Jawa, ada performance art dari Mahdi Betjak, juga musik berbahasa Jawa dari Edy Jenggot Poss," katanya.

Sebuah tujuan filosofis disorongkan Kimpul terkait festival ini. "Sekarang kan akhir tahun, dengan sajian sastra Jawa ini, kita berharap bisa menjadi semacam ritual tolak balak. Ritual penghapus malapetaka. Semoga kita bisa melangkah ke tahun 2020 nanti dengan mendapat kemudahan dari Gusti Allah," papar penyair yang saat ini menggeluti tema-tema wayang tersebut.

Poss Ensemble saat Majelis Sastra Urban edisi 7 (27 Juni 2019).

Kimpul berharap, kegiatan sastra Jawa kembali semarak di Surabaya, khususnya di Balai Pemuda. "Dulu tahun 1970-an, Balai Pemuda ini kerap mengadakan pergelaran sastra Jawa. Misalnya semaan, pembacaan gurit, maupun ludruk. Nah harapannya, tahun depan, DKS bisa memfasilitasi kegiatan rutin khusus sastra Jawa. Selama ini kan baru sastra Indonesia yang mendapat perhatian dari Komite Sastra," katanya. (rp/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Ini adalah artikel terbaru
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement