22 November 2019

author photo


pojokseni.com - Bagi para pecinta sastra, khususnya puisi, tentunya sudah akrab dengan istilah lisentia poetica (dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Poetic License) atau bila dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia berarti lisensi puitika. Pertanyaannya, apa itu lisentia poetica?

Dalam definisi Ensiklopedia Britannica, disebut bahwa lisentia poetica atau lisensi puitika adalah hak seorang penyair untuk mengubah sintaksis standar, penyimpangan bahasa, diksi dan pengucapan umum dalam rangka mencapai kecukupan aturan tonal dan metrum dari suatu puisi/karya sastranya.

Metrum dan tonal, bisa disebut sebagai salah satu syarat yang mutlak dipenuhi dalam sebuah puisi. Maka, untuk hal itu, demi mengejar keindahannya dari segi metrum, bunyi dan sebagainya, penyair memang menerobos aturan sintaksis dasar. Namun, itu justru menjadi sebuah ujian untuk kualitas karya dan kepenyairan.

Diksi diolah sedemikia rupa untuk mencapai keindahan tertentu (baik tonal maupun metrum), tentunya bukan sebuah hal yang gampang. Juga, lisentia poetica tidak berarti seseorang memiliki hak untuk sembarangan menggunakannya. Meski tidak bisa dikaji dengan pendekatan sintaksis, namun sebuah puisi tentunya mesti mampu dikaji dengan pendekatan lain, semisal semantik, hingga pragmatik.

Maka pertanyaan berikutnya, apakah ada batas "pelanggaran bahasa" atau "kesalahan sintaksis yang disengaja" tersebut? Bisa dibilang, tidak bisa dibilang ada sebuah aturan yang ketat membahas itu. Bahkan, Anda bisa berbicara dengan empat orang ahli sastra misalnya, dan Anda bisa jadi bertemu empat aturan yang berbeda-beda.

Hanya saja, bukan berarti Anda bisa membuat sebuah puisi "gelap" dan hanya dimengerti oleh Anda dan Tuhan saja. Ada jarak antara langue dengan parole, meminjam teori De Saussure. Kecerdasan berbahasa bahkan dikaitkan dengan dekatnya jarak antara langue dengan parole tersebut. Dalam hal ini, puisi diasumsikan sebagai parole-nya seorang penyair. Maka, penyair juga mesti mumpuni dalam langue, sehingga "pelanggaran" sintaksis ternyata hanya sebuah permainan tarik-ulur langue dengan parole, seperti diungkapkan Hasan Asaphani, editor dan penyair dalam sebuah artikelnya tentang Linguitica Poetica di Majalah Tempo.

Puisi memang bukan bahasa yang formal dan kaku. Puisi juga tidak berarti melulu sebuah kreativitas. Lebih dari itu, puisi adalah cerminan kehidupan dan respon dari seorang penyair terhadap lingkungan dan sosialnya. Lisentia poetica mewadahi agar bahasa puisi mampu mencapai keindahan yang sempurna, dengan lebih mengutamakan makna ketimbang sintaksis linguistik. (ai/pojokseni.com)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Loading...

Advertisement