09 September 2019

author photo

pojokseni.com - Kali ini, PojokSeni akan mencoba mengulas dari hulu ke hilir, tentang PB Djarum yang telah puluhan tahun membina atlet, sekarang memutuskan berhenti. Yah, akhir dari polemik "tudingan KPAI atas eksploitasi anak" yang dilakukan PB Djarum, berakhir dengan terhentinya audisi pencarian bakat atlet muda bulu tangkis. Hal itu sudah dipastikan ketika perwakilan PB Djarum, yakni Yoppy Rosimin menyatakan hal itu dalam konferensi pers, Sabtu (7/9/2019).

Yoppy Rosimin, yang merupakan Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation menegaskan bahwa tahun 2019 ini adalah tahun terakhir audisi umum, dan akan berakhir bulan November mendatang. Hal itu tidak bisa dibatalkan lagi karena pihak PB Djarum sudah berjanji pada para peserta tahun 2019 ini. Tapi, pernyataan itu juga berarti bahwa tahun 2020 audisi yang digelar Djarum telah berakhir.

Tentu, kita tidak perlu lagi menyebut deretan atlet yang mendapatkan pelatihan Djarum dari era baheula hingga era milenial saat ini. Tidak hanya juara kabupaten, tapi audisi ini juga melahirkan sejumlah nama juara dunia.

Bagaimana awal mula polemik ini?

Sitti Rahmawatty, komisiner KPAI

Semua berawal di bulan Juli 2019, ketika dua organisasi/yayasan, yakni Yayasan Lentera Anak dan Smoke Free Bandung memboikot audisi atlet bulu tangkis usia 11 - 13 tahun di Bandung. Intinya adalah, bagi kedua yayasan/organisasi ini, anak-anak telah dieksploitasi sebagai brand image produk tembakau yang notebene "merusak" tidak hanya kesehatan tapi juga moral.

Satu hal yang tidak diketahui oleh dua yayasan tersebut, selain tulisan PB Djarum di kaos yang digunakan anak-anak, tidak ada satupun yang merokok di tempat audisi tersebut. Toh, mereka ada atlet, pemandu bakat, pencari bakat, pelatih dan atlet senior. Rokok dan atlet adalah dua hal yang bisa disebut berlawanan.

Meski demikian, audisi tetap dilaksanakan dan berakhir pada tanggal 28 Juli 2019. Setelah dua yayasan/organisasi tersebut memboikotnya, kali ini Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ikut menolak audisi tersebut. Nama komisoner KPAI, Sitti Rahmawatty yang menjadi ujung tombaknya.

Mewakili komisi yang "melindungi anak" tersebut, KPAI menegaskan pernyataan yang berdasar survei yang telah mereka lakukan. Intinya, hasil survei itu menegaskan bahwa anak-anak "menjadi" tahu bahwa Djarum itu adalah merek rokok dan Djarum Foundation tentunya adalah kegiatan yang diinisiasi oleh produk rokok.

Melihat audisi tersebut tetap berjalan, KPAI sepertinya tidak mau kehilangan muka. Mereka ingin tampak bekerja, mengusir semua embel-embel rokok dari anak-anak. Benar-benar mulia.

Tidak main-main, karena KPAI akhirnya mengajak serta Kemenpora, Kemenkes, Kemenko PMK, Kementerian PPPA, BPOM dan sejumlah institusi besar negeri ini untuk mengeroyok Djarum Foundation. Lagi-lagi senjata mereka sama; eksplotasi anak dan rokok.

Sejumlah peraturan dan hukum mulai dibawa-bawa. Mulai dari yang paling ditonjolkan, PP nomor 109 tahun 2012. Sitti Hikmawaty yang membawa nama besar insitusinya membawa misi yang benar-benar mulia: mendudukkan aturan yang berlaku.

Belum selesai, sekarang Sitti membawa serta Pemda yang menjadi tempat dilakukannya audisi. Perda dari tempat tersebut tentunya ada yang mendukung mereka, yakni adanya kegiatan yang disponsori rokok di daerah yang menegakkan "Perda Kawasan Tanpa Rokok".

PB Djarum lalu memilih mengalah, audisi dirubah namanya menjadi Audisi Umum. Semua embel-embel "Djarum" dilepaskan. Semua anak-anak tidak menggunakan kaos bertuliskan Djarum lagi, tapi menggunakan kaos kostum dari masing-masing klub bulu tangkis.

Apakah Sudah Selesai, KPAI toh Sudah Menang?

Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir, salah satu dari beberapa asuhan PB Djarum yang menjadi juara dunia

Ternyata belum! Masih ada rencana untuk menempuh langkah hukum. Meski begitu, langkah hukum tersebut mesti dibicarakan dengan seluruh instasi, organisasi, yayasan dan institusi lainnya yang diajak serta KPAI untuk memadamkan PB Djarum.

Masih ada beberapa Undang Undang (UU) yang akan digunakan untuk "menjerat" PB Djarum. Salah satunya UU Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 76J ayat (2). Isinya, tidak diperbolehkan untuk melibatkan anak-anak dalam usaha produksi dan distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya. Dan "promosi" yang dilakukan PB Djarum di pakaian anak-anak, menurut KPAI, sudah termasuk melanggar pasal tersebut.

Djarum dengan tegas menyatakan bahwa PT Djarum, Djarum Foundation dan Djarum Badminton Club adalah tiga hal yang berbeda dan terpisah. Namun KPAI menyebut bahwa itu adalah akal-akalan PB Djarum.

Banyak pihak yang menyebutkan bahwa Sitti tidak membawa nama KPAI, tapi atas nama pribadi. Tapi nyatanya, ketua KPAI Susanto juga mendukung komisionernya. Bahkan, memanggil sejumlah kepala daerah untuk membahas hal ini. KPAI berjanji, sebelum audisi tersebut berhenti, atau menghilangkan logo dan merek dalam penamaan kegiatan, maka selama itu juga KPAI akan "memperjuangkan hak-hak anak untuk tidak dieksploitasi" produk rokok.

Sekali lagi, benar-benar mulia sekali KPAI ini.

Maka deretan nama-nama seperti Kevin Sanjaya (pebulu tangkis peringkat 1 dunia),  Lilyana Natsir/Tontowi Ahmad yang merupakan peraih medali emas Olimpiade dan juara All England,  M Ahsan, Budi Santoso, Budi Ariantho, Liem Swie King, dan sejumlah nama-nama juara dunia dari Indonesia yang merupakan binaan PB Djarum adalah orang-orang yang telah "menjadi korban eksplotasi" oleh PB Djarum. Versi KPAI, mereka adalah anak-anak (ketika masih anak-anak bergabung dengan PB Djarum) yang harusnya dulu diselamatkan sebelum "terjerumus" menjadi korban eksploitasi.

Apa yang terjadi selanjutnya?


Australia, telah menghentikan lebih dari separuh sponsor rokok di kegiatan olahraga. Tidak hanya anak, tapi kegiatan olahraga dewasa juga. Tapi, setelah itu apa yang terjadi. Olahraga sempat jatuh, namun pemerintah setempat mengambil langkah cepat dengan mengganti seluruh biaya yang hilang untuk menggelar kegiatan/pelatihan/pembibitan atlet. Berapa biayanya? Bisa dibayangkan sendiri, tapi apa Indonesia mampu?

Prancis, juga sudah menghapus sponsor alkohol di olahraga sejak awal tahun 90-an. Tapi, sebagai gantinya, pemerintah setempat juga membantu dengan mencari sponsor lainnya, serta membantu perhelatan acara tersebut, sehingga acara tersebut tetap sukses. Apakah Indonesia mampu? Entahlah, kita belum mencobanya.

Seperti yang kita tahu, bulu tangkis adalah olahraga kedua yang digemari di Indonesia setelah sepakbola. Sejumlah prestasi begitu gemerlapan dari cabang yang satu ini, dibandingkan dengan sepakbola yang paling digemari. Boleh saja KPAI membenci rokok dan membiarkan rokok pergi jauh dari acara olahraga dan audisi atlet junior. Tapi, KPAI harus memastikan bahwa pemerintah RI sudah menyiapkan dana yang sama besar dengan dana yang "hilang" dari pembinaan atlet dari Djarum.

Dan warga Indonesia, sepertinya bersiap untuk pajak yang lebih tinggi, pencabutan segala macam subsidi, dan kehidupan yang lebih mahal, karena demi pembinaan atlet, akan ada dana besar yang sebelumnya tidak ada di pot, sekarang mesti disiapkan. Harus tahun depan, karena PB Djarum sudah memutuskan berhenti di tahun depan.

Atau, ada cara lain. KPAI musti bertanggung jawab dengan mencarikan sponsor lain yang bisa membiayai sejak pembibitan, pelatihan hingga menjadi atlet profesional seperti yang dilakukan PB Djarum. Mungkin "unicorn" Indonesia seperti sejumlah toko daring dan setipenya. Itu musti, sehingga tidak ada yang akan kehilangan atlet. Sebagaimana KPAI sebegitu kerasnya "mengusir" PB Djarum dari bulu tangkis, maka sekeras itu juga usaha KPAI untuk mendatangkan sponsor baru yang bukan rokok untuk menggantikannya. (ai/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement