Film Gundala Layak Diacungi Satu Jempol, Tapi? -->
close
Pojok Seni
20 September 2019, 9/20/2019 03:29:00 AM WIB
Terbaru 2019-09-19T20:29:16Z
ArtikelUlasan

Film Gundala Layak Diacungi Satu Jempol, Tapi?

Advertisement

pojokseni.com - Sebenarnya sudah sejak lama tulisan ini ingin dipublikasikan. Tepatnya, setelah sehari menonton film besutan Joko Anwar, Gundala. Melihat dari materi promosi, serta sedikit bocoran ketika Joko Anwar ngobrol-ngobrol bareng Dedi Corbuzier, sepertinya film ini musti diberi ekspektasi tinggi.

Joko Anwar memang baru pertama kali menggarap film superhero. Tapi, film-film besutan dia sebelumnya cukup membuat penasaran bagaimana garapan superhero di Indonesia ini. Apalagi, sebelumnya film Wiro Sableng masih belum begitu memuaskan ekspektasi penontonnya.

Ketika PojokSeni sedang menggenggam tiket nonton Gundala, di saat itu informasinya Gundala ini sudah diikutsertakan dalam Toronto International Film Festival. Ditambah lagi sudah ditonton jutaan orang dan banyak hal lainnya yang menjadi nilai plus film satu ini.

Review Film Gundala


Pertama, kalau untuk jalan ceritanya, daftar cast-nya, tentu Anda bisa dengan mudah menemukan di berbagai situs, bahkan sebelum film ini diputar. Kedua, tentunya sangat tidak fair membandingkan film ini dengan superhero besuton Hollywood, jadi PojokSeni tentunya akan melihat berbagai aspek tanpa harus membandingkan. Ketiga, tentunya PojokSeni juga tidak akan membahas masalah CGI, mengingat keterbatasan studio di Indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan Hollywood.

Hal yang menjadi sorotan utama adalah, film ini begitu terburu-buru, menjelang setengah ke belakang. Alur dramatik begitu detail, dibangun dengan sabar ketika di awal, namun menjelang setengah ke belakang, seakan-akan dikebut. Hasilnya, perpindahan adegan yang terburu-buru tadi menjadikan logika cerita banyak yang tak bisa tertangkap dengan baik. Buru-buru tadi juga menjadikan adegan di pertengahan ke belakang menjadi terkesan tidak menarik.

Beberapa dialog, terasa sangat datar, meski kita harus mengakui kepiawaian pemeran Pengkor yang penyampaian dialognya begitu subtil dan mumpuni. Bagaimana dengan pemeran utama, Abimana? Bisa dibilang masalah dasar bila di panggung teater, penjiwaan yang kurang terbentuk.

Karakter yang dibangun tidak begitu kuat dan menonjol, motif juga kurang kuat. Mengapa Sancaka yang diperankan Abimana tiba-tiba menjadi Gundala dan berjuang untuk orang banyak? Padahal sebelumnya, ia memilih untuk tidak peduli pada hidup orang lain? Jawabannya sebenarnya logis, tapi terburu-buru dan kurang dalam motifnya.

Pengenalan para penjahat, kelompok anak yatim piatu yang dibesarkan Pengkor juga kurang meyakinkan. Padahal, hampir belasan anak yatim tersebut memiliki ciri khas dan karakter yang unik. Tapi, kedatangan mereka yang tiba-tiba, serta hilang tiba-tiba juga, menjadikan hampir tak satu karakter pun di antara kroni Pengkor yang membekas di hati penonton.

Garapan koregrafi cukup baik. Namun, bahkan seorang anak yang duduk di sebelah juga menilai bahwa adegan perkelahian kurang seru. Kenapa? Wajar saja, anak tersebut tentunya membandingkan dengan beberapa film laga Indonesia beberapa waktu terakhir.

Paling parah ketika pertempuran akhir, 1 lawan belasan orang. Gundala melawan Pengkor dan belasan anak-anaknya. Musuh dengan karakter yang unik-unik, kemampuan berkelahi yang sangat baik, memiliki latar pendidikan dan pekerjaan yang beda-beda. Tapi mereka semua hilang. Adegan terakhir pun juga hilang. Benar-benar sebuah penutup yang kurang meyakinkan.

Tetapi kenapa harus diacungi jempol? Setidaknya satu jempol, bila kekurangan di atas tidak mampu membuat dua jempol naik. Karena, garapan film ini cukup menarik untuk standar film superhero Indonesia. Apalagi, ini baru pembuka sebuah "semesta" superhero lainnya. Tentu, menarik untuk menunggu bagaimana garapan film berikutnya. Sayangnya, ekspektasi yang tinggi seperti yang terjadi pada Gundala, mungkin akan berkurang di film berikutnya. (ai/pojokseni)

Ads