Tubuh Padang: Eksplorasi Tubuh Minang Milenial -->
close
Pojok Seni
23 August 2019, 8/23/2019 05:23:00 AM WIB
Terbaru 2019-08-22T22:23:42Z
ArtikelBeritateater

Tubuh Padang: Eksplorasi Tubuh Minang Milenial

Advertisement
Pentas Tubuh Padang

pojokseni.com - Tubuh Padang adalah eksplorasi ke dua dari karya Bangku Kayu dan Kamu yang Tumbuh di Situ karya dan sutradara Yusril Katil. Teater yang dipersembahkan oleh Komunitas Seni Hitam Putih ini merupakan salah satu penampil dalam acara Silek Art Festival 2019 di Taman Budaya Padang. Karya yang dihelat pada hari Rabu (21/08/2019) merupakan karya teater yang berlandaskan oleh riset selama dua tahun yang dilakukan oleh tim kreatif dari Komunitas Seni Hitam Putih.

Pertunjukan yang berdurasi 50 menit ini mencoba menawarkan, bagaimana tubuh Minangkabau (yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Padang oleh orang luar Sumatera Barat) hari ini dari perspektif kaum milenial. Yusril menampilkan kekuatan dan ciri khas dari tubuh Padang melalui tubuh-tubuh kaum milenial, bagaimana anak-anak zaman sekarang membaca ketubuhan budayanya sendiri, bersama dengan budaya-budaya luar yang telah direkam oleh tubuhnya.

Pentas Tubuh Padang

Persilangan budaya yang terekam oleh tubuh anak zaman sekarang inilah yang menjadi materi artistik utama yang digunakan Yusril dalam karyanya. Melalui karya ini, Yusril bersama Komunitas Seni Hitam Putih tampaknya ingin memperjelas, bahwa tubuh Minang Milenial bukanlah tubuh yang tidak memiliki kekuatan budaya. Tetapi merupakan tubuh milenial yang memiliki budaya baru yang lebih unik dan menarik untuk disadari dan dikembangkan.

Peristiwa-peristiwa yang dibangun tidak memiliki hubungan kausalitas yang padu dan setiap repertoar yang dihadirkan menciptakan peristiwa baru yang selalu berdiri sendiri. Yusril mencoba melepaskan segala beban dramatik dan karakteristik dari para performernya.

Sehingga para penonton tidak dapat menangkap cerita ataupun tema yang sedang diusung serta dibangun dalam karya ini.  Tampaknya, Yusril memang sengaja membuat beban-beban dramatik tersebut tidak mengganggu figur tokoh “Padang” yang diproyeksikannya.

Silat dan pola randai adalah materi eksplorasi yang digunakan dalam karya ini. Gerak-gerak silat dan pola-pola randai direkonstruksi dan didekonstruksi untuk melahirkan kemungkinan-kemungkinan gestur baru yang lebih inovatif untuk ketubuhan Minangkabau hari ini. Bangku kayu dihadirkan tidak hanya sebagai properti pentas saja, tetapi juga berfungsi sebagai media eksplorasi tubuh.

Hal ini membuat bangku kayu terlepas dari fungsi awalnya dan menjadi bangku kayu dengan fungsi dan simbol yang baru pula. Salah satunya contohnya adalah menjadikan bangku kayu sebagai skateboard.

Secara spektakel, berbagai kejutan berhasil tergarap dengan baik sehingga pertunjukan ini tetap menyedot perhatian penonton. Berbagai kejutan tersebut antara lain, semua aktor masuk ke atas panggung dari sisi-sisi panggung yang tidak terduga, sehingga penonton dibuat bingung dengan teknik muncul para aktor. Kemudian semua aktor berbanti baju di atas panggung, hal ini tentunya adalah aktivitas belakang panggung yang jarang diliat oleh penonton teater.

Pentas Tubuh Padang 3

Kejutan selanjutnya adalah hacurnya imajinasi penonton atas ruang dan waktu, karena munculnya seseorang yang menggunakan helm dan menghisap vape ke tengah-tengah para pemuda yang menggunakan galembong.  Diperlengkap dengan gerak-gerak performer yang aktraktif, membuat pertunjukan ini menjadi menarik untuk disaksikan.

Sayangnya, tempat pertunjukan yang begitu sempit membuat komposisi dari karya Tubuh Padang ini bertumpang tindih dan kehilangan keseimbangan. Tentunya hal ini sangat mengganggu kenyamanan penonton. Spektakel yang dihadirkan juga menggunakan konsep panggung prosenium, sehingga karya ini semakin sulit dinikmati oleh para penonton karena panggung yang digunakan adalah panggung arena dengan posisi penonton yang melingkar. Namun, secara keseluruhan karya Tubuh Padang memiliki gagasan yang unik dan tergarap dengan rapi.

Yusril menerangkan bahwa karya ini belum berhenti untuk melakukan proses eksplorasi. Bahkan Yusril menambahkan bahwa proses eksplorasi ini akan mereka lanjutkan hingga dua sampai tiga tahun kedepan.

"Tubuh Padang juga telah dijadwalkan akan pentas di Samarinda dan Negeri Sembilan, Malaysia," tutup Yusril.  (isi/pojokseni)

Ads