10 July 2019

author photo

pojokseni.com - Dreams adalah film yang disutradarai oleh Akira Kurosawa dan diproduksi apda tahun 1990. Kurosawa yang terkenal sebagai sinematografi fantastis berhasil meramu sebuah film minim dialog dengan kekayaan simbol-simbol khas kultur Era Edo dan ciri khas maskulinitas yang kental dari Bushi.

Film yang berdurasi 2 jam ini terbagi menjadi delapan babak yang mengisahkan tentang percampuran mimpi dan kenyataan. Kisah dalam film ini diangkat dari persepsi personal dari Akira Kurosawa. Melalui film Dreams, Kurosawa mewujudkan mimpinya menjadi sebuah karya film yang menakjubkan.

Film Dreams memiliki bentuk antologi ini menggunakan struktur episodik yang menghadirkan delapan mimpi Kurosawa yang diperjelas dengan intertitle pada setiap fragmennya. Fragmen pertama berjudul "Matahari Bersinar disela-sela Hujan", fragmen kedua adalah "Kebun Buah Persik", fragmen ketiga berjudul "Badai Salju", fragmen keempat berjudul "Terowongan", fragmen kelima berjudul " Beberapa Burung Gagak", fragmen keenam berjudul "Gunung Fuji Dalam Merah", fragmen ketujuh berjudul "Setan Menangis" dan fragmen terakhir berjudul "Desa Kincir Air".

Kurosawa menggunakan media film sebagai sarana untuk mengeksplorasi subjek tentang mimpi yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Dreams tidak difokuskan pada selera audiens, tetapi lebih mengajak penonton untuk menjelajahi mimpi untuk berkontemplasi diruang paling intim di dalam diri setiap manusia.


Saat menulis teks Dreams, Kurosawa telah berusia yang tidak muda lagi, tepatnya berusia delapan puluh tahun. Karena itulah karya Dreams lebih memfokuskan pada perenungan tentang usia dan kematian. Film ini merupakan wadah Kurosawa untuk melakukan refleksi diri. Sejak awal kemunculannya, Dreams begitu mengejutkan berbagai pihak. Bahkan banyak orang berpendapat bahwa film berjudul Dreams adalah salah satu karya terbaik atau masterpiece dari Akira Kurosawa. Narasi, plot, dan karakter yang dihadirkan oleh Kurosawa memiliki kekuatan reflektif dan intospektif.

Sayangnya, karya maestro asal Jepang ini terlalu mengeksplorasi pengalaman pribadi pengkarya, sehingga terkesan menajadi karya yang angkuh dan hanya diciptakan untuk kesenangan diri sendiri. Hal ini dapat dilihat dari mimpi-mimpi yang dihadirkan Kurosawa sangat individualis dan subjektif. Para penonton tidak dapat menikmati film Dreams secara nyaman dan tidak dapat masuk ke dalam cerita film karena kisah yang diangkat sangat berjarak dari kehidupan para penonton.


Meskipun demikian, Dreams tetap saja sebuah karya yang mahal. Hal ini dikarenakan Kurosawa berhasil mengetuk ke dalam ketakukan, kecemasan dan kesenangan universal dalam mimpi setiap manusia. Tidak hanya itu, secara visual, Dreams memiliki kadar artistik yang tinggi dengan warna-warna yang jelas dan gamblang. Dreams karya Akira Kurosawa mengajarkan para penikmatnya untuk dapat masuk dan menjangkau sejauh mungkin ke dalam diri untuk dapat menemukan ekspresi diri yang murni.

Kurosawa menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan sebagai metode individu menemukan makna pribadi dan pemahaman diri sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa karya film Dreams sutradara Akira Kurosawa bukanlah karya kesombongan tetapi lebih jauh dan dalam dari itu, yaitu karya untuk kemanusiaan. (isi/pojokseni)
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement