05 July 2019

author photo

pojokseni.com - Peringatan hari kelahiran di umur 72 tahun ini diawali dengan kehadiran Sesa putri keduaku tengah malam atau pagi hari pukul 01.10 membawa masakan asli Solo yakni garangasem. Waduh aku dibangunkan dari tidur lelapku dan bersama dua putri, istri, cucu dan mantu menyanyikan lagu happy birthday di kamar tidurku. Mengharukan dan sekaligus bahagia rasanya pagi bening itu.

Usai acara yang begitu riang di pagi sunyi itu sungguh semangat hidup terasa dipompakan oleh semangat anak cucu bersama istri yang begitu berkobar menghangatkan jiwa ragaku sehingga energi menjadi bernyala nyala. Begitulah ketika lingkaran hidup paling kecil yakni keluarga mampu menyelenggarakan suasana akrab yang sederhana maka justru terasa menjadi sebuah kemewahan hidup yang mahal.

Yang menjadi perhatianku adalah cucu yang mengikuti kegiatan “sakral” ini dan pasti terekam dalam sanubarinya dan akan menjadi kekuatan besar nantinya ketika harus berdiri sendiri mengarungi samudera kehidupan yang akan semakin keras goncangannya. Menjadi anak cerdas memang selalu dimulai dari lingkungan terkecilnya yakni keluarga yang melahirkan dan membimbingnya.

Pendidikan akhlak, moral datang dari rumah. Sekolahan hanya menambah atau justru tempat pengujian. Sekolah merupakan ruang dimana anak mulai melaksanakan apa yang telah diterima dari rumah. Sekolah menjadi tempat untuk mengasah nilai2 yang telah diterima dari rumahnya. Betapa berat ternyata tugas dan kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anak2nya.  Tidak salah ketika para psikolog meneliti kelakuan orang2 dewasa selalu membongkar masa kecil orang tersebut.

Hari itu merupakan hari terjadwal untuk latihan drama musikal The Great Rahwana karya Dolfry dan Aldi yang menyadur dari buku novel ibu Teddy Rusdy yang berjudul Rahwana Putih. Oi kini memanjangkan nafas teater keliling dengan menjadi nachoda menggantikan ibunya. Regenerasi memang diperlukan bagi kegiatan apapun. Di hari bahagiaku itu aku hanya minta kepadanya untuk diberi ruang dan waktu setelah latihan boleh pentaskan drama sebabak karya Motinggo Bousye berjudul Barabah. Naskah ini sudah dipentaskan 122 kali di seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan di produksi pertama kali tahun 1976. Jadi sore 29 Juni 2019 adalah pementasan yang ke 123.

Terus terang aku meneteskan air mata sejak awal berlatih di rumah dengan pemain Dery, Fabiola dan Riki yang aku pilih. Mereka orang2 yang dedikasinya kepada teater sangat meyakinkan. Dua pemain muda yakni Fabiola dan Riki telah ikut pelatihanku sejak masih sma yang aktif di ekskul teater sekolahnya. Merekapun masih aktif berteater hingga kini. Seorang sutradara harus memiliki keyakinan dan kepercayaan ketika memilih pemain. Kadang ketika ketemu pemain baru apalagi yang belum pernah main maka selain keyakinan disertai juga rasa was was sehingga bekerja menjadi berlipat ganda dalam memberikan perhatian selama latihan.

Jadwal latihan hanya tersedia 3 hari sebelum hari “H”. Berjalan lancar pada awalnya dan hari ketiga sore selepas magrib harus mendapat berita duka dari Fabiola bahwa bos di kantornya dia bekerja mewajibkan tugas ke Cipanas tanggal 29 dan 30 Juni. Betapa terpukulnya Fabiola yang sedang dalam jiwa membara gembira mendapat kepercayaan untuk main bersamaku di hari bersejarah kini harus pupus karena sang bos tidak bisa menerima alasan apapun bahkan tentang dia sudah terjadwal untuk pentas.

Kebutuhan kegiatan kantor tidak bisa diganggu gugat. Tangis Fabiola lewat telpun tentu sangat mengiris batinku. Namun tak ada kekuatan untuk melawan urusan kantor tempat dia mendapatkan nafkah. Ini bukan kesalahan Fabiola dan aku harus segera mencari pengganti dalam waktu sesingkat2nya malam itu juga.The show must go on.  Kebetulan anggota lain yang termasuk pemain yang jadi andalanku tidak bisa karena sudah ada kegiatan lain. Meminta seseorang main bagiku adalah hal yang paling aku takuti. Takut ditolak dan harus menerima alasannya. Tidak banyak di republik Indonesia merdeka ini yang memiliki sikap hidup dalam memilih profesi berkesenian.

Menjadikan kesenian adalah profesi utama dalam hidup memang tidak banyak yang memilih.Sejak masih sekolah SMA dan menjadi ketua teater di sekolah maka aku selalu menyerahkan wakilku dalam mencari pemain. Aku paling malu ditolak karena aku terlalu besar berharap orang lain bisa seperti aku yang menjadikan teater adalah hidup mati. Sering aku senyum dan mengatakan itu adalah harapan yang absurd di republik Indonesia merdeka.

Berunding dengan Dery dan mengingat semua pemain-pemain yang pernah bersama teater keliling dan terpilih Greta yang kebetulan sedang ikut produksi kali ini. Saking takutnya mendengar penolakan maka kutanya dulu apa tanggal 29 Juni datang latihan? Begitu jawabannya akan datang maka segera aku minta main peran Zaitun dalam naskah Barabah dan malam itu juga kukirim skripnya dan Sabtu pagi datang ke Kemendikbud lalu latihan Barabah.

Lega rasanya malam itu karena Greta juga berasal dari ekskul teater di SMA nya yang aku latih. Kini ia telah lulus LSPR dan sedang menyelesaikan S2 nya. Ia juga aktif berteater di kuliahnya karena memang itulah sepertinya sudah menjadi pilihan jalan hidupnya. Malam itu kami bersama Dery dan Riki berlatih hingga tengah malam dirumah.

Singkat kata pukul 5 sore setelah latihan Rahwana selesai langsung drama Barabah dimulai. Oi sendiri yang membuka dengan kalimat pendek dan diucapkan dalam suara bangga dan bahagia terhadap papanya. Dua pemain musik yakni pemain keyboard dan seruling yang secara mendadak aku minta lewat musik directornya ternyata mampu secara improvisatoris mengilustrasi jalannya pentas Barabah.Lagi2 aku melihat bukti nyata bahwa keyakinan dan kepercayaan kepada pemain dan crew artistik untuk bekerja dengan hatinya maka akan tercipta sebuah kerjasama yang tepat.

Walau tidak semua pemain The Great Rahwana hadir namun boleh dicatat hampir 90% ada baik dari pemain musik, choir, dancer,silat dan pemeran tokoh2 cerita yang menyaksikan penuh seksama. Beberapa ibu-ibu pemain yang hadir pun turut serta menjadi penonton. Dan begitu tersanjung dengan kehadiran Willem yang ikut mendirikan teater keliling dan sobat ku Ali yang memberikan dukungan dengan pemikiran2 tentang sosialisme globalnya. Mereka semua telah menjadi penonton aktf yang duduk selama 1 jam lebih mengikuti jalannya cerita. Bahkan beberapa pemain yang secara langsung ditanya bisa menjawab secara spontan yang tepat.

Sepanjang pertunjukkan linangan air mata menjadi landasan expresi pemerananku. Dalam adegan lucu, gembira, tragis, sedih mengalir diatas genangan air mata yang mengalir dari mata air terdalam yakni “hati”. Semburanya bisa bergemuruh atau romantis, amarah, nasehat yang tumpang tindih menggumpal menjadi bongkahan batu besar yang kudorong hingga ke puncak gunung tertinggi yang kemudian akan kembali menggelinding ke bawah untuk kemudian kembali aku harus mendorong keatas. Begitulah sore itu benar2 aku melakukan sebuah kegiatan yang terkenal yakni Cicyphus mendorong batu.

Inilah hidupku yang selama 72 tahun menjadi turunan Sicyphus yang tak lepas dari batu keras yang selalu berada di dekatku dan mau tidak mau suka tidak suka harus kudorong untuk kemudian menggelinding dan selalu berada di dekatku lagi. Ada kalanya bisa cepat tapi sering juga berlama lama bahkan perlu tahunan mendorong hingga ke atas.

Yang kudapat akhirnya adalah sebuah nilai ajaran yang terpateri selama hidupku yakni “Iklas mengalir”. Sore itu aku mengalir dan menatap sorot mata penonton yang kulihat bukan lagi penonton namun sore itu menjelma sebagai batu2 Sicyphus yang pada gilirannya siap untuk didorong, diangkat, dipikul hingga sampai ke puncak pertunjukkan teater dengan gagahnya. Masih mampukah aku untuk itu dan sorot mata merekalah yang memberi keyakinan dan kepercayaan bahwa aku harus berusaha dan tak perlu ragu.

Dahsyat pertunjukkan sederhana dengan 4 pemain yang berjuang saling mengisi, menari, menyanyi, menekuk, meliuk, berteriak, tertawa, apapun yang dilakukan terasa tepat dan benar sehingga komunikatif dua arah tercapai. Falsafah hidup bangsa sedang berjalan dipanggung yang menyeruak hati tiap penonton yang kemudian menyatu dan berenang bersama. Indonesia memang telah menerima takdir sebagai bangsa yang majemuk sehingga yang bernama kerjasama atau gotong royong adalah “way of life” bangsa di mana aku lahir dan dibesarkan.

Betapa indah dan membanggakan kita memiliki falsafah kemajemukan walau begitu sulit melaksanakan karena hidup bersama dari berbagai manusia yang memiliki latar budaya, adab, etnis, agama yang beraneka ragam memang tidak mudah untuk menjadi satu perstuan dan kesatuan. Celakanya kita sedang mengalami jalan terseok-seok yang cukup panjang dan belum terselesaikan.
Drama karya Motinggo Busye ini sangat sederhana kandungan tema ceritanya. Problem keluarga yang dapat ditemukan dalam hidup sehari-hari di sekitar kita.

Pesan moralnya adalah agar cepat ingat sebelum menuduh orang lain buruk laku cari dulu buktinya. Bukankah kelakuan seperti ini sedang viral di negeri kita sejak pilkada Gibernur DKI hingga Pilpres 2019 ini? Sekian lama hidup diramekan oleh berita fitnah, hoax yang sopan hingga kasar bahkan biadab? Luar biasa cerita Barabah bisa ditarik kemana mana dan itulah seharusnya karya teater. Teater bukan kesenian sempit tapi satu tarikan garis bisa bicara sangat luas. Namun semua tergantung kepada pekerja atau senimannya.

Salam hari kelahiran dan renungan ini tentu akan menambah semangat kita dalam terus bekerjasama. Merdeka dalam bergotong royong.

Jakarta 2 Juli 2019.
Rudolf Puspa

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement