15 July 2019

author photo

pojokseni.com - Alkisah, ada sebuah ajian yang begitu terkenal berasal dari tanah Jawa dan selanjutnya juga ditemukan di Sumatera. Aslinya, ajian ilmu hitam ini bernama ngeragah sukma yang berarti sukma (selanjutnya disebut roh) keluar dari tubuh dan melakukan hal-hal yang tidak baik. Ada yang mendekati gadis untuk masuk dalam mimpinya, lalu menjadikan gadis itu jatuh cinta padanya. Itu dinamakan pelet.

Kemudian, sukma tadi ada juga yang bisa berubah menjadi babi, untuk mencari (lebih tepatnya mencuri) uang, yang kemudian dinamakan ngepet. Di Sumatera ada yang bisa menjadi harimau. Selain ngepet, ada satu lagi, yakni sukma tadi mengantarkan guna-guna yang bisa membuat sakit bahkan mati orang yang dituju. Kemudian disebut sebagai santet.

Cara mempelajari ajian mengerikan itu, serombongan orang baik laki-laki maupun wanita duduk melingkar sambil merapalkan mantra. Di depan mereka terpapar daging-daging, yang merupakan daging manusia, nantinya mereka santap bersama setelah kelar merapal mantra. Serombongan orang itu, sama-sama tidak mengenakan pakaian, alias telanjang. Belum cukup sampai di situ, mereka juga harus minum arak, sampai mabuk.

Islam masuk ke Nusantara, ketika ada banyak rombongan yang seperti ini sedang merajalela. Kira-kira, seperti begal di zaman sekarang. Lari ketika dikejar prajurit kerajaan, tapi di tempat yang sepi, prajurit kerajaan itu juga dihabisi. Ingkung dan dagingnya diambil untuk prosesi atau ritual penyempurnaan ilmu hitam.

Maka pedagang dan saudagar yang datang dari Persia, Gujarat dan Arab tidak mau menyentuh mereka untuk mengajarkan Islam. Salah-salah, bisa ikut jadi korban. Mereka dibiarkan saja menikmati dan menyembah Patung Totok Kerot, tuhan mereka.

Para pedagang dan saudagar ternyata juga sulit mengajarkan Islam ke rakyat biasa, yang bukan anggota ritual itu. Karena bagi rakyat biasa, satu-satunya kasta yang bisa berbicara tentang agama hanyalah kasta Brahma. Para pedagang, bagi mereka masuk dalam kasta Waisya, yang tidak diperbolehkan bicara agama. Satu-satunya yang dilakukan oleh para pedagang dan saudagar itu adalah menikahi orang-orang di pinggiran pantai. Lalu, ditinggalkan berbulan-bulan.

Maka perlu orang sakti mandraguna, yang dianggap juga termasuk dalam kasta Brahma, yaitu kiai. Tidak hanya kiai biasa, tapi harus sakti. Jadi, bisa menyentuh semua golongan, termasuk golongan penyembah patung totok kerot dan golongan rakyat biasa yang telah terdogma dengan kasta-kasta selama puluhan tahun.

Anda tidak perlu terkejut mendengar kesaktian Sunan Bonang yang mampu merobohkan puluhan orang dalam sekali jentikan jari, merubah batang aren jadi emas dan bisa terbang juga berjalan di atas air. Sunan Bonang tidak hanya mengislamkan rakyat biasa, tapi juga mengejar para penganut ritual itu.

Kisah pertama, tentang hampir 1500-an orang yang dikirim dari Turki Utsmani pimpinan Sayyid Aliyudin mendadak hilang di tanah Jawa. Meski tidak ada bukti sahih yang menyebutkan hilangnya ribuan orang itu, namun kemungkinan terbesar adalah kerjaan para penganut ritual ilmu hitam tadi.

Ada kisah tentang Maulana Ishak bersama dengan Maulana Malik Ibrahim yang mengejar sekelompok orang penganut ritual itu. Kelompok penganut ritual itu dipimpin oleh Menak Sembuyu dan terlibat pertarungan dengan dua kiai tadi. Menak Sembuyu kalah, seluruh orang-orangnya menyerah. Tapi, apa yang terjadi?

Mereka dibawa pulang ke pesantrian (tempat para santri menimba ilmu, sekarang disebut pesantren). Orang-orang ini tidak ada yang dibunuh, tapi diajari agama Islam. Ritual mereka, tetap dipertahankan, hanya saja tidak untuk menyembah patung totok kerot lagi, tapi untuk menyembah Allah.

Lingkarannya tetap dipertahankan, telanjang digantikan dengan pakaian khas muslim yang lengkap dengan sarung dan peci miring atau blangkon. Daging manusia diganti dengan daging ayam, sedangkan tumpukan daging manusia hingga membentuk gunung di tengah lingkaran, digantikan dengan nasi tumpeng. Mantra digantikan dengan kalimat Tauhid, dan jadilah ritual yang baru. Orang-orang itu merasa bahagia, karena tetap bergembira dan mengenal Tuhannya dengan ritual yang mirip dengan yang lama tapi lebih Islami.

Anak perempuan Menak Sembuyu, dinikahi oleh Maulana Ishak, maka lahirnya seorang wali yang dihormati, bernama Sunan Giri. Maka golongan-golongan yang baru memeluk Islam ini akhirnya berkeliling mendampingi Sunan Giri, mengislamkan golongan setipe yang mendiami hutan-hutan dan gunung-gunung.

Sedemikian sulit para ulama terdahulu mencoba mengislamkan Nusantara. Setelah berhasil, maka Islam yang dibawa dari Arab, disesuaikan dengan budaya Nusantara. Nabi Muhammad disebut dengan Kanjeng Nabi, Allah disebut dengan Gusti Allah, dan sebagainya. Santri mencium tangan kiainya untuk mendapatkan berkah dan tanda penghormatan.

Kenapa Islam Masuk Lewat Seni


Selanjutnya, kerajaan selevel Majapahit, yang ditakuti seluruh penjuru bumi karena kekuatan tentaranya di darat dan laut, juga sudah dengan teguh memeluk agamanya, mendirikan universitas yang bernama Nalanda, sehingga melahirkan banyak akademisi, intelektual, pemikir dan sebagainya. Ditambah lagi, seluruh wilayah Nusantara dari Sumatera sampai ke Maluku adalah wilayah kekuasaannya. Siapa yang bisa tiba-tiba mengislamkan kerajaan ini?

Para sunan, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan sebagainya mendekati dengan pelan. Lewat seni, lewat cerita pewayangan, lewat tembang, mendirikan pesantrian dan mengajarkan agama yang penuh suka cita, mencintai dan mengasihi sesama serta hal-hal lainnya. Bila masuk secara keras, ala-ala para pembela Tuhan era kekinian, sudah pasti dipukul mati saat itu, dan Islam mungkin tak akan pernah ada di bumi Nusantara.

Kalimasada (kalimat Syahadat) yang menjadi pintu gerbang menjadi seorang pemeluk Islam, menjadi senjata dalam cerita pewayangan. Petruk yang merupakan orang biasa, berhasil menjadi raja karena memegang senjata itu. Sunan Kalijaga menyematkan pesan tersirat, bahwa peganglah Pusaka Kalimasada (masuklah Islam dengan membaca Kalimat Syahadat) maka engkau akan menjadi raja (manusia yang tinggi derajatnya di mata Allah). Pelan-pelan, lewat seni, dan akhirnya secara perlahan jumlah pemeluk Islam semakin banyak dan hadir sebagai agama dengan jumlah pemeluk terbanyak di Indonesia.

Jadi, sayang sekali kalau di era milenial seperti saat ini, seni diharamkan, wayang dan nembang di-bid-ah-in, keliling memutar tumpeng sambil menyebut asma Allah juga dibid'ah-bid'ah-in. Mungkin, biarkan mereka belajar sejarah bagaimana tanpa ada balatentara bersenjata dari tanah Arab datang ke Indonesia, tapi Muslim bisa menjadi mayoritas. (ai/pojokseni) 
your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement