Enggano, Nusa Terluar Bengkulu, Serta Potensinya Jadi Ikon Wisata Antropologi dan Budaya -->
close
Pojok Seni
13 April 2019, 4/13/2019 02:32:00 AM WIB
Terbaru 2019-04-12T19:38:28Z
ArtikelBudaya

Enggano, Nusa Terluar Bengkulu, Serta Potensinya Jadi Ikon Wisata Antropologi dan Budaya

Advertisement
Suku di Enggano (sumber foto: Antara)
Mari mengenal salah satu pulau terluardi sebelah barat Indonesia, tepatnya berada di Samudera Indonesia, termasuk ke wilayah Provinsi Bengkulu. Sebuah mutiara di tengah Samudera dengan sejuta potensinya. Tempat di mana alam masih begitu asri, budaya yang terjaga di bawah lazuardi yang begitu indah, di balik ombak menggulung di Samudera Indonesia.

pojokseni.com - Pulau Enggano, adalah pulau terluar di sebelah barat Indonesia, yang berjarak 145 kilometer dari Kota Bengkulu. Perjalanan melalui laut bisa ditempuh dalam waktu 9 hingga 10 jam. Tapi, itu bila cuaca normal, sedangkan bila cuaca buruk, perjalanan bisa lebih dari 15 jam.

Bila Anda baru menyeberang di selat Sunda (Merak - Bakauheni), atau menyeberang dari Palembang ke Bangka Belitung, atau mungkin menyeberangi Selat Bali untuk menyambangi Pulau Bali dari Banyuwangi, maka Anda akan terkejut dengan pengalaman perjalanan ke Enggano. Wajar saja, karena Anda sedang mengarungi Samudera Indonesia (dulu dikenal dengan nama Samudera Hindia), dengan kondisi laut yang cukup membuat kapal bergoncang tanpa henti sampai ke tujuan.

Tapi, meski berada di wilayah terluar Indonesia dan terpisahkan dengan samudera yang memiliki arus menantang, namun Enggano memiliki 1.500 penduduk berdasar hasil sensus tahun 2000, dan kemungkinan jumlah itu sekarang bertambah. Kehidupan di Enggano, berbeda dan unik. Tentunya, sangat berpotensi untuk menjadi destinasi wisata unggulan, tak hanya di Bengkulu, tapi juga di Indonesia.

Sekilas tentang Enggano

Tarian Perang Enggano (Sumber foto: Kompas)
Bicara tentang pulau yang paling terluar di sebelah barat Sumatera, tentu akan merujuk ke Pulau Enggano. Pulau Enggano merupakan satu kecamatan (Kecamatan Enggano) yang masih termasuk dalam ruang lingkup Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Ada enam desa di pulau ini, yakni Apoho, Banjarsari, Meok, Malakoni, Kaana dan Kahyapu. Desa Apoho yang terletak di jantung Enggano, merupakan pusat dari pemerintahan kecamatan.
Pulau seluas 400 km persegi satu ini diapit lagi dengan pulau-pulau yang lebih kecil, antara lain pulau satu, pulau dua, Merbau, dan pulau Bangkai. Meski pulau ini berukuran kecil, namun ada banyak sungai yang mengalir di pulau terluar Indonesia sebelah barat ini, di antaranya Sungai Air Kinono, Air Kianopo, dan Air Kuala Kikin. Di sungai-sungai inilah hadir ekosistem hayati yang unik di pulau Enggano. Bahkan, ekosistem hayati di Enggano tidak ditemukan di tempat lain, termasuk di Bengkulu sekalipun.

Nama Enggano dari salah satu versi, berarti "kecewa" dalam Bahasa Portugis. Cornelis de Houtman dari Belanda yang pertama kali menemukan pulau ini pada tanggal 5 Juni 1596. Kemudian, ia menuliskan tentang pulau ini, yang merupakan satu pulau terluar di sebelah selatan Sumatera yang berhasil ia temukan. Tentang nama "kecewa" dalam Bahasa Portugis tersebut, masih belum jelas darimana de Houtman menemukan nama itu.

Keunikan Budaya dan Daya Tarik Enggano


Tarian di Enggano (sumber gambar: Okezone)

1. Bahasa Enggano


Penduduk asli di pulau tersebut adalah Suku Enggano. Meski termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu, namun Bahasa Enggano sangat jauh berbeda dengan bahasa yang berada di Bengkulu lainnya, seperti bahasa Melayu Bengkulu, Bengkulu Selatan, Rejang dan sebagainya. Bahkan, Bahasa Enggano dimasukkan dalam kategori "Bahasa Isolat" yang berarti tidak ada kaitan dan kekerabatan dengan bahasa lain di sekitarnya.

2. Matrilineal


Tercatat ada lima suku pembagian dari Suku Enggano, antara lain Koahoao, Koano, Kaarubi, Kaharuba dan Koitara. Namun, semua suku ini berbahasa yang sama, Enggano. Itulah kenapa, semua suku tersebut, oleh orang luar Enggano tetap disebut Suku Enggano. Keunikan pertama dari orang-orang di Enggano adalah, suku-suku yang ada di pulau ini berasas matrilineal. Tentunya, berbeda jauh dengan wilayah Bengkulu di daratan Sumatera yang berazas patrilenial.

3. Agama Ameok


Agama yang dianut oleh penduduk asli Enggano adalah agama Ameok. Meski saat ini, penduduk Enggano yang beragama Islam dan Kristen Protestan sudah lebih dari 95 persen. Namun, penganut agama Ameok ini masih bisa ditemukan di Enggano.

Begitu pula tempat ibadahnya yang bernama Maula, bisa ditemukan di bukit-bukit, serta wilayah hutan. Agama Ameok merupakan salah satu agama turunan Austronesia. Konsepnya adalah, penganut agama Ameok percaya dengan kekuatan dari benda-benda alam, seperti batu, pohon, sungai, pantai dan sebagainya. Kekuatan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk. Kekuatan baik berguna untuk melindungi manusia, sedangkan yang buruk akan mengganggu manusia. Kekuatan tersebut, dalam kepercayaan agama Ameok disebut "kowek". Nah, agama dan keunikan ritualnya ini hanya bisa ditemukan di Pulau Enggano.

4. Fauna Liar

Burung Anis Enggano (Sumber: Istimewa)

Selain wisata antropologi seperti yang dipaparkan sebelumnya, Anda bisa juga melihat sejumlah fauna liar bahkan langka yang berada di nusa terluar Indonesia satu ini. Jenis buaya raksasa yang liar dan langka "Crocodile Watching" ada di setiap muara sungai di Enggano. Kemudian, jenis burung liar "Bird watching" juga bisa Anda temukan di sini. Ada dua spesies endemik  yakni Celepuk Enggano dan Burung Kacamata, yang masuk dalam kategori atau status konservasi rentan. Ingin melihat kura-kura raksasa "Sea Turtle", Anda bisa berkunjung ke pesisir pantai Enggano dan bisa bertemu dengan kura-kura, termasuk penyu.

Kemudian, Anda bisa berkunjung ke Tanjung Kokonahdi dan Tanjung Kaana yang berada di bagian timur pulau ini. Selain melihat pasir putih yang indah, Anda juga akan melihat arus tenang dengan air yang jernih, sehingga dasar laut beserta biota dalam lautnya bisa disaksikan dengan mudah. Pemandangan yang damai dan menyejukkan, bukan?

5. Memancing di Pantai Eksotis


Pantai di Enggano (sumber foto: Bengkulunews)
Bagi yang gemar memancing, Enggano adalah surganya ikan. Beberapa jenis ikan laut berkualitas terbaik bisa ditemukan di sekitaran pulau ini. Wajar saja, sebab Enggano dikelilingi Samudera Indonesia.

Ditambah lagi, di Pantai Malakoni misalnya, pantainya dipenuhi serpihan terumbu karang. Jadi, sejauh mata memandang, yang ada adalah serpihan terumbu karang yang terbawa ombak. Bukan pasir seperti pantai pada umumnya.

Potensi yang Belum Tersentuh Infrastruktur

Pisang kepok, salah satu komoditi ekspor andalan Enggano (Sumber foto: BeritaSatu)

Dengan ekosistem alam yang masih alami, banyak wilayah hutan yang masih asri, hewan-hewan liar yang juga berada di habitat asli, tentunya Enggano menarik minat para peneliti fauna, juga pecinta binatang untuk berkunjung. Sedangkan keunikan bahasa dan budaya dari suku Enggano, termasuk agama yang hanya ada di Enggano, tentunya menjadi wisata Antropologi yang akan mengundang minat para pecinta antropologi, peneliti dan sebagainya.

Namun, lagi-lagi masalah klasik, infrastruktur di Enggano belum memadai. Jalan penghubung antar desa masih merupakan jalan tanah yang berlumpur. Anda juga tidak bisa menemukan hotel atau penginapan di pulau ini. Sehingga, pilihannya hanya menginap di rumah warga setempat.


Goa Bolong di Pantai Koomang Enggano

Bagi warga asli Enggano, suku pendatang yang menetap di pulau itu disebut Kaamay. Namun, sambutan warga setempat pada "suku Kaamay" juga ramah, dan bisa hidup berdampingan. Salah satu suku pendatang yang bisa ditemukan di Enggano adalah Suku Banten. Karena ramah dan terbuka, baik pada sesama, maupun pada pendatang, tentunya Enggano memiliki potensi yang sangat baik untuk menjadi ikon wisata alam, budaya, dan antropologi. Ditambah lagi, Enggano adalah salah satu penghasil pisang kepok yang cukup besar. Bahkan, Enggano mengekspornya ke sejumlah daerah lain, termasuk ke Lampung yang juga produsen pisang.

Untuk berkunjung ke Pulau Enggano, Anda bisa memilih antara lewat laut dengan kapal penyeberangan atau naik pesawat perintis. Namun, sebagian besar memilih naik kapal penyeberangan, karena lebih hemat biaya. Anda bisa berangkat ke Pulau Enggano pada hari Selasa dan Jumat dari Pelabuhan Pulau Baay Kota Bengkulu menuju Enggano. Sedangkan untuk pulang, bisa memilih berangkat antara hari Rabu atau Sabtu dari Enggano. Sedangkan untuk jalur udara, Anda bisa naik di pesawat Susi Air menuju ke Bandara perintis di Enggano.

Pemandangan Laut Enggano (Sumber foto: Sindonews)

Namun, kabar yang menyenangkan mulai terdengar akhir-akhir ini. Ada dua faktor, pertama Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti (yang kemudian tersandung kasus dan digantikan oleh wakilnya) menyebutkan bahwa pembangunan Enggano menjadi destinasi wisata andalan Bengkulu akan diutamakan. Kemudian, rencana menuju Wonderful Indonesia 2020 menjadi pulau-pulau terluar dan "teras" Indonesia, termasuk Enggano mulai akan diperhatikan termasuk oleh pemerintah setempat. Tentunya, Bangun Perbatasan Jadi Terasnya Indonesia, menjadi motto untuk membangun Enggano. Enggano butuh perubahan, agar tidak "kecewa" seperti nama pulaunya, perubahan juga tidak hanya untuk Enggano, karena Perubahan Untuk Indonesia yang Lebih Baik.

Kabar baik selanjutnya adalah, ada KORINDO, yang merupakan perusahaan Indonesia yang berorientasi pada penghijauan juga mendukung pembangunan wilayah 3T (terluar, terdepan, tertinggal) termasuk di antaranya, Enggano. (ai/pojokseni)

Ads