banner

11 June 2018

author photo
Pentas drama Kematian yang Direncanakan

"Inilah rumah lilin yang menyala, jika membakar tujuanlah yang ia terima. Tujuan yang sesekali ia menangkan, badailah yang datang dalam terjangan yang dahsyat."

Oleh: Adhyra Irianto

PojokSeni.com - Seorang lelaki tua, menggenggam erat tongkat kayu lusuh, beberapa bagian sudah digigit rayap, sedang beberapa lainnya sudah digigit usia. Tuan Durand, begitu ia dipanggil, usianya mungkin sekitar 70-an tahun, rambutnya berantakan, begitu pula pakaian yang dipakai, juga syal yang terikat untuk menghangatkan lehernya.

Tiga orang putrinya, Therese, Adele dan Anette, sudah terlalu lama terbuai dongeng mendiang ibunya. Dongeng yang menimpakan seluruh kesalahan atas sulitnya hidup mereka pada satu orang; Durand. Durand yang akhirnya menabung sesak di dadanya segobang demi segobang. Semua kesulitan hidup yang menghajar keluarganya, dibebankan di pundaknya, pundaknya sendiri.

Durand adalah seorang warga Swiss, yang pernah berperang melawan Perancis. Tapi, Durand adalah seorang yang lahir di Perancis, hanya pindah negara karena seorang wanita yang dicintainya, yang kemudian jadi istrinya. Cinta itulah yang membuatnya mengangkat senjata melawan bangsa dan keluarganya sendiri.

Kesulitan hidup membuat Durand juga iri pada kucing kesayangan anaknya, Therese yang setiap hari mendapat susu. Bahkan tikus-tikus di rumahnya juga mendapat keju setiap harinya. Tapi alangkah hancur hati Durand ketika uang yang didapatkan Therese untuk membeli susu setiap hari, didapat dengan cara melacurkan diri pada Letnan Antonio.

Lebih hancur lagi karena tiga orang anak gadisnya melakukan hal yang sama. Mempersembahkan diri mereka pada Letnan Antonio, untuk uang, hanya demi membeli roti dan susu agar bisa bertahan hidup.

Pementasan drama "Kematian yang Direncanakan"

Kesulitan hidup mereka tak kunjung usai. Sampai Durand sudah tak kuasa menahan sesak yang sudah sebukit. Ia memutuskan untuk mati di dalam rumahnya yang terbakar, dengan satu tujuan. Mendapatkan asuransi kebakaran yang bisa digunakan anak-anaknya melanjutkan hidup.

Rumah yang penuh dengan kesialan dan kehinaan itu akhirnya terbakar. Salah satu dari 6 lilin yang ada di rumah itu membakar jerami. Perlahan-lahan, asap menyesak dan rumah itu benar-benar terbakar seperti apa yang direncanakan Durand demi anak-anaknya.

Begitulah kisah dalam drama "Kematian yang Direncanakan" karya August Strindberg, sutradara Edy Suisno yang dipentaskan di Teater Arena ISI Padangpanjang pada hari Sabtu (9/6/2018) pukul 21.00 WIB lalu. Pentas ini merupakan ujian tugas akhir minat pemeranan Program Studi Seni Teater Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Padangpanjang dengan mahasiswa teruji Ikhsan Satria Irianto.

Mahasiswa Teruji Menghadirkan Sosok Durand yang Kuat


Ikhsan Satria Irianto memerankan Durand

Ikhsan Satria Irianto pada malam itu hadir sebagai mahasiswa teruji. Ia memerankan Durand, yang merupakan peran sentral dari drama ini. Durand yang diperankan Ikhsan menjaga laju dramatik berjalan baik, bahkan ia hadir sebagai pemeran yang paling kuat dalam drama tersebut.

Meskipun demikian, tentu peran Ikhsan tak akan menjadi lebih baik bila tidak didukung oleh pemeran lainnya seperti Fitri Aitul, Sekar Dwi Nawang, Yayan Hidayat, Filan Tropi Sapitri dan Junari Adi Saputra. Ditambah lagi alunan orkestra dari pemain biola dan cello yang menjadikan pentas ini menjadi lebih hidup.

Acungan jempol juga musti dialamatkan pada penata kostum, handrop dan properti, juga penata cahaya yang menjadikan setiap detil adegan menjadi lebih hidup.

Beberapa aktor sempat terselip lidah ketika mengujarkan dialog, juga beberapa gerakan dan moving yang kurang mendukung adegan sempat terjadi dalam pentas ini. Namun, secara umum tidak mengurangi atau mengganggu jalannya cerita.

Desain artistik yang memukau, serta efek yang menjadikan drama lebih hidup menjadi nilai plus untuk pementasan kali ini. Perpaduan yang menarik dari musik, cahaya, artistik serta penjiwaan dan dialog yang kuat dari para aktor menjadikan pentas Kematian yang Direncanakan menjadi menarik untuk disaksikan dari awal sampai akhir. (@pojokseni.com)
your advertise here

This post have 4 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

  1. Kayak kenal dengan Si Durand.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waktu Angga sering main ke rumah dulu, nih anak masih SMA atau SMP mungkin... sekarang udah besar dia..

      Delete
  2. Wajah asli kupikir awalnya Datuk ditandai ini adalah sang Datuk Adi, rupanya pemuda bernama ikhsan hehehehe

    Jadi penasaran, apakah cerita ini ada naik ke layar kaca ya Bray?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adikku itu cak, yang nomor 3,, eh tntang naik ke layar kaca, aku nggak tahu tuh cak

      Delete
Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

pojokseni.com