Bercadar di Universitas, Kenapa Jadi Polemik?



pojokseni.com - Beberapa mazhab menganjurkan penggunaan cadar, bahkan ada juga yang mewajibkannya. Meskipun demikian, lebih banyak yang tidak mewajibkan, karena berpedoman pada batas aurat wanita yang seluruh tubuh, kecuali wajah dan telapak tangan (bagian dalam). Lantas, beberapa hari terakhir, larangan penggunaan cadar di beberapa perguruan tinggi menjadi polemik. Sejumlah pihak menganggap hal tersebut adalah diskriminatif.

Bercadar, dalam urusan beragama dan pribadi, tentunya merupakan hak dari seorang perempuan. Perempuan bebas memilih, ia mau menggunakan cadar, jilbab lebar, jilbab pendek, bahkan pakai bikini sekalipun. Namun, ketika hak tersebut diusik, tentunya seorang perempuan akan melawan, bukan?

Kenapa ada banyak perguruan tinggi yang melarang penggunaan cadar? Berikut PojokSeni memaparkannya untuk Anda :

1. Menghindari "Percaloan"


Seorang mahasiswi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta diminta melepaskan cadarnya ketika hendak ujian. Kemudian, setelah ujian selesai, mahasiswi tersebut baru diperkenankan kembali untuk menggunakan cadarnya. Bila melihatnya dari sudut pandang hak perempuan tersebut, tentunya bisa dikatakan hal tersebut mencederai kebebasannya. Namun, bila dilihat dari perspektif rektorat UAD, tentunya hal tersebut tidak bisa disalahkan.

Dalam gelaran beberapa ujian paket misalnya, setiap tahunnya ditemukan kasus "calo" di mana seorang peserta ujian "diwakili" oleh orang lain yang menggunakan namanya. Di beberapa daerah, kasus tersebut nyaris ditemukan setiap tahun. Nah, hal yang ditakutkan adalah ketika cadar dijadikan penutup proses percaloan. Kita tidak bisa menganggap mahasiswi tersebut memilih atau melakukan hal negatif ketika ujian menggunakan cadar, namun hal itu bisa dimanfaatkan oleh mahasiswi lainnya untuk melakukan praktik percaloan ketika ujian. Toh, wajah mereka sama sekali tidak bisa dikenali oleh pengawas ujiannya bukan. Misalnya "Mawar" tidak mampu mengerjakan ujian statistik, maka akan meminta "Melati" yang hadir dengan wajah yang ditutupi cadar. Tentunya, hal tersebut bisa dihindari apabila penggunaan cadar ketika ujian dilarang, bukan?

2. Pelarangan Dianggap Tidak Melanggar Syariah


Kembali ke UAD yang notabene adalah peguruan tinggi bernafaskan Islam, kenapa penggunaan cadar dilarang di PT tersebut? Jawabannya adalah karena pelarangan cadar bukan dianggap hal yang melanggar syariah. Kaum akademis di PT tersebut sudah mempertimbangkan bahwa pelarangan cadar tidak mencederai syariah. Karena bagi pihak UAD, tuntutan Rasulullah adalah menggunakan hijab secara syari'i dan tentunya wajah dianggap bukan bagian yang wajib ditutup.


3. Mencegah Paham Radikal


Sebenarnya, hal ini terlalu dipaksakan. Bisa kita anggap menggunakan bikini, atau rok mini tentu bukan berarti seorang perempuan itu rendah harga dirinya. Sedangkan bagi yang berhijab, atau bercadar sekalipun juga bukan berarti seorang perempuan itu tinggi harga dirinya. Tapi, ini kembali ke pribadi masing-masing. Tentu hal yang sangat salah bila menilai seorang perempuan yang menggunakan rok mini disamakan dengan pelacur. Maka juga sangat salah bila seorang perempuan bercadar disamakan dengan teroris.

Namun, beberapa universitas menganggap mahasiswi yang bercadar cenderung mengarah ke paham radikal. Jadinya, beberapa universitas bahkan mendata mahasiswi yang bercadar lalu memberikan pencerahan, agar tidak terjerumus ke paham radikal.

4. Penggunaan cadar dinilai bukan persoalan ajaran agama


Di UIN Suka, Yogyakarta, mahasiswi yang menggunakan cadar akan didata dan dibina. Tujuannya, adalah agar dapat melepaskan cadarnya. Kenapa di perguruan tinggi yang berbasis agama seperti UIN, penggunaan cadar justru dilarang? Jawabannya, bagi UIN Suka, penggunaan cadar dinilai bukan masalah ajaran agama dan sebagainya. Apalagi, ada masalah sosial yang timbul setelah seorang mahasiswi menggunakan cadar, seperti menutup diri dari lingkungan sosial dan sebagainya. Hanya satu alasan yang akan diterima kenapa seorang mahasiswi menggunakan cadar. Yakni, alasan kesehatan dan kenyamanan.

Nah, itu tiga alasan yang menyebabkan pelarangan cadar di universitas. Sekarang, bagaimana pendapat Anda? Anda bisa membagikan pendapat Anda di kolom komentar, atau kirim tulisan ke redaksipojokseni@gmail.com untuk kemudian PojokSeni muat di blog ini. (ai/pojokseni)

No comments:

Post a Comment

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.