Kesalahan Seniman Muda Dalam Membuat Anggaran Pementasan -->
close
Pojok Seni
21 Februari 2018, 2/21/2018 01:43:00 AM WIB
Terbaru 2018-02-20T18:43:34Z
Artikel

Kesalahan Seniman Muda Dalam Membuat Anggaran Pementasan

Advertisement


pojokseni.com - Padangpanjang menjadi kota terakhir dari workshop manajemen produksi seni pertunjukan yang digagas oleh Ruang Kreatif yang berkerja sama dengan Garin Workshop dan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja dengan dibantu oleh Bakti Budaya Djarum Foudation. Sebelumnya workshop serupa telah selesai dilaksanakan di tiga kota berbeda, seperti Kudus, Bali dan Malang.  Workshop yang bertema  “Berbagi pengalaman membuat proposal yang komunikatif dan mempresentasikannya secara keren” ini dihelat pada hari Selasa (20/02/2018) di Studio Teater ISI Padang Panjang. Butet Kartarajasa (Seniman) dan Jeannie Park (Direktur Eksekutif PSBK) dipilih sebagai pemateri dalam Workshop tersebut. Acara tersebut terselenggarakan berkat dukungan Indonesia kaya, ISI Padang Panjang, HIMA PRODI Seni Teater, Ruang Karakter, Teater Djarum, Geriya Olah Kreativitas Seni, Laboratorium Drama, Universitas Malang, dan The Learning University. Peserta workshop tersebut dipilih dari perwakilan komunitas-komunitas seni se-Sumatera yang telah lolos seleksi.

Workshop tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa proposal dibutuhkan seniman sebagai media agar ide kreatifnya dapat dikonsumsi masyarakat. Karena setiap perusahaan wajib mendukung produk masyarakat untuk disebarluaskan kepada masyarakat luas. Maka dari itu setiap kelompok-kelompok kesenian dapat menjadi mitra perusahaan-perusahaan tersebut.

Kesalahan Seniman


Di dalam ruang artistik, setiap seniman bebas mengekplorasi gagasannya sebebas-bebasnya. Tetapi ketika keluar dari ruang artistik seniman, seniman dihadapkan oleh kehidupan bermasyarakat. Sehingga lahirlah batasan-batasan yang lahir dari norma-norma kebudayaan.

Dalam menyusun proposal, seniman harus memahami sumber dana tujuan proposalnya. Karena terkadang seniman menjadi sombong, dengan gagasan-gagasan yang berat dan rumit, sehingga para perusahaan sumber dana tidak mengerti dan miskomunikasi karena bahasa-bahasa proposal yang metafora. Seharusnya proposal dibuat secara ringan, tegas dan komunikatif. Sehingga seniman harus mampu membahasakan proposalnya sekomunikaif mungkin, sesuai target audiens. Karena proposal adalah produk kreatif yang elastis sesuai audiensnya.

Politik membuat anggaran.


Dalam perancangan anggaran dalam proposal, banyak ditemui proposal-proposal yang tidak mencantumkan sumber dana produksi. Sehingga kebutuhan dana produksi seakan-akan dibebankan penuh oleh sumber dana. Seharusnya dalam anggaran dalam dimasukkan sumber dana dari seniman atau kas organisasinya. Agar produksi kreatif tersebut terkesan serius dan terpercaya.



Era Digital membantu dalam penyusunan proposal.


Sekarang zaman sudah digital, sehingga proposal dapat disusun dengan tampilan yang lebih menarik dan tidak membosankan. Proposal yang menarik secara tampilan memungkinkan memenangkan pertarungan di atas meja sumber dana.

Di akhir pertemuan, Butet Kartarajasa menutup dengan kesimpulan bahwa proses keberhasilan tidak tiba-tiba muncul, tetapi melalui proses yang panjang. Dalam proposal nomor 1 adalah produk nomor 2 adalah kepercayaan. Seniman juga harus membangun relasi, jaringan yang baik kepada sumber dana, agar tidak terkesan bertemu sumber dana ketika seniman butuh dana saja. (isi/pojokseni)