Kisah Hilangnya Huriah Adam, Seniman Padangpanjang yang Melegenda -->
close
Pojok Seni
02 November 2017, 11/02/2017 09:35:00 PM WIB
Terbaru 2022-03-03T17:08:16Z
Artikel

Kisah Hilangnya Huriah Adam, Seniman Padangpanjang yang Melegenda

Advertisement
Huriah Adam
Huriah Adam 

pojokseni.com - Di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Anda akan menemukan salah satu gedung pertunjukan yang bernama Gedung Huriah Adam. Pertanyaannya, siapakah Huriah Adam?

Huriah Adam adalah seorang seniman legendaris dari ranah Minang, tepatnya dari Padangpanjang. Ia adalah orang yang menggali semua gerak Randai yang kemudian menjadi tarian. Begitu pula dengan gerak pencak silat, yang menjadi materi tarian tradisional Minang. Huriah Adam merupakan seniman Minang kelahiran Padangpanjang, 6 Oktober 1936 silam.

Meski lahir dalam keluarga yang kuat beragama, namun ayahnya, Syeh Adam, BB justru menjadi seorang yang paling berjasa dalam berkembangnya kemampuan dan bakat Huriah Adam. Semua saudaranya diarahkan ke bidang seni, meski hanya ia sendiri di antara keluarganya yang mendalami seni tari dan lukis. Bakat seni yang besar dimiliki oleh Huriah Adam, menjadikan ayahnya lebih mendukung Huriah Adam di bidang kesenian, disamping tetap mendalami nilai-nilai agama. Hasilnya, Huriah Adam kecil yang masih duduk di Sekolah Rakyat (setara SD) belajar kesenian di bawah asuhan Angku Muhammad Sjafei, I.N.S di Gedung Kebudayaan Sumatera Padangpanjang.


Kelanjutannya, setelah lulus SMP di Padangpanjang, Huriah Adam hijrah ke Yogyakarta melanjutkan pendidikannya di ASRI Yogyakarta. Ia menikah dengan seorang pemusik bernama Ramudhin, yang menjadikannya sebagai pasangan suami istri yang tetap getol di bidang kesenian. Budaya Minang awalnya membuat seorang wanita yang pentas kesana kemari adalah hal yang tidak pantas. Namun, Huriah Adam justru membentuk grup sendiri pada tahun 1959 yang kemudian pentas ke beberapa daerah, terutama ketika masa pertikaian PRRI.


Ia mulai mencoba merambah Jakarta pada tahun 1968, sampai akhirnya bergabung dengan Bengkel Tari di TIM. Ia banyak belajar dengan berbagai seniman senior di era itu, salah satunya Sardono W Kusumo sehingga ia bisa terus berkembang, bahkan mengikuti Expo 1970 di Jepang. Belum berhenti di situ, tahun 1971 ia mulai menjadi pengajar tari di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) dan masih banyak menciptakan tarian seperti drama tari Malin Kundang, tari Payung, Pedang, Rebana dan Sepasang Api Jatuh Cinta. Tarian lain yang juga diciptakan oleh Huriah Adam antara lain tari ‘Sapu Tangan’, tari ‘Lilin’, tari ‘Gadis Lembah’, tari ‘Nelayan’, tari ‘Nina Bobok’, tari ‘Pahlawan’, tari ‘Pembebasan’, tari ‘Sandang Pangan’ dan tari ‘Berabah’.


Huriah Adam
Huriah Adam


Tidak hanya di bidang tari, Huriah juga dikenal sebagai pemusik, pelukis dan pemahat. Anda pernah melihat Patung Pembebasan di Bukittinggi, Sumatera Barat? Yah, patung tersebut adalah buatan Huriah Adam. 


Mungkin, masih banyak karya lain yang bisa diciptakan oleh seniman multitalenta satu ini, sayangnya terjadi sebuah insiden yang menghentikannya. Tahun 1971, bertepatan dengan hari Pahlawan tanggal 10 November, ia naik pesawat Merpati dari Jakarta untuk kembali ke Padang. Namun, di atas Kepulauan Katang-Katang, pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba menghilang. Tahukah Anda, sampai saat ini, bangkai kapal tersebut masih belum ditemukan dan masih menjadi misteri. Begitu juga dengan jenazah Huriah Adam yang ikut hilang bersama dengan tubuh penumpang kapal lainnya. (ai/pojokseni)