Membumikan Tradisi Minang Kabau Pada Festival Teater Nasional -->
close
Pojok Seni
22 April 2017, 4/22/2017 04:47:00 PM WIB
Terbaru 2017-04-22T18:58:43Z
BeritaResensiteater

Membumikan Tradisi Minang Kabau Pada Festival Teater Nasional

Advertisement
Teater Tutur “Dendam Sabai” oleh HIMA Teater ISI Padangpanjang

pojokseni.comSebuah perhelatan Teater Nasional digelar di Kota Cirebon (02-11/04/2017). Festival yang digagas oleh Kelompok Teater Tjaroeban ini bertajuk Festival Teater Cirebon #3. Acara tahunan dari Teater Tjaroeban ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Festival Teater Cirebon yang ketiga ini mengusung tema “Membumikan Tradisi”. Dengan tema tersebut, Teater Tjaroeban mencoba menyajikan local genius Indonesia yang beragam dalam pertunjukan teater baik secara bentuk, cerita ataupun konsep. 16 bintang tamu di undang dari kelompok teater di seluruh Indonesia pada FTC #3 2017. Beberapa maestro teater Indonesia juga turut serta menyemarakkan FTC yang ketiga ini, mulai dari Rachman Sabur (Kelompok Payung Hitam), Putu Wijaya (Teater Mandiri) dan Nano Riantiarno (Teater Koma).  Para maestro tersebut membuat FTC #3 semakin memiliki daya tarik yang kuat.

Dari Sumatra Barat, Himpunan Mahasiswa Program Studi Seni Teater ISI Padangpanjang terpilih menjadi salah satu bintang tamu FTC#3. Sebagai salah satu bintang tamu, HIMAPRO Teater ISI Padangpanjang yang diharapkan dapat meramu local genius Minang Kabau kedalam pertunjukan teater. Pada kesempatakan ini, HIMAPRO Teater ISI Padangpanjang mengangkat kaba (prosa Minang Kabau) Sabai Nan Aluih. Kaba Sabai Nan Aluih ini direinterpretasi dan diberikan sudut padang baru oleh teman teman Himpunan Teater ISI Padangpanjang dengan judul “Dendam Sabai”. Pertunjukan teater yang di sutradarai oleh Satria Irianto  ini mencoba menyajikan pertunjukan Teater Tutur Minang Kabau (Bidarai) dengan paduan  pola Randai dan gerakan-gerakan silat khas Minang Kabau. Dendang, alat musik, dan tarian khas Minang Kabau juga tak luput menjadi materi ekplorasi teman-teman teater ISI Padangpanjang ini.

Kaba Sabai nan Aluih menceritakan tentang seorang gadis Minang Kabau yang baik budi, sopan bertutur, santun berindak dan lemah lembut. Karena laku dan parasnya yang rupawan, Rajo nan Panjang dengan segala kekuasaannya ingin mempersunting Sabai secara paksa. Untuk melancarkan niatnya, Rajo nan Panjang menemui ayah sabai, Rajo Babanding. Pertemuan itu mengundang perselisihan yang didasari oleh penolakkan lamaran, hingga berujung pada terbunuhnya ayah Sabai. Kematian Rajo Babandiang inilah yang memancing kemarahan Sabai, kemudian ia mendatangi Rajo nan Panjang untuk meminta pertanggungjawaban atas kematian ayahnya.

Sabai Nan Aluih

Pertunjukan yang berdurasi 45 menit ini benar-benar menyita perhatian ratusan penonton. HIMAPRO Seni Teater ISI Padangpanjang sangat berhasil memasyarakatkan kekayaan budaya Minang Kabau pada FTC yang ketiga ini. Para penoton FTC #3 benar-benar menunjukan ketertarikannya kepada budaya Minang Kabau melalui pertunjukan teater yang HIMA Teater ISI Padangpanjang suguhkan. Beberapa apresiator rela berbondong-bondong mendatangi para aktor dan sutradara hingga ke belakang panggung hanya untuk bertanya prihal budaya Minang Kabau.

Hal yang menarik dari pertunjukan “Dendam Sabai” yang disuguhkan oleh HIMA Teater ISI Padangpanjang ini adalah para aktor yang hanya berjumlah 5 orang. Namun mereka merangkap sebagai penari, pendendang, pemusik, pesilat dan pencerita. Pertunjukan interdisipliner ilmu seni yang khas dengan nuasa Minang Kabau ini begitu memiliki daya tarik dengan suguhan para aktor multitalenta.

Namun terdapat beberapa hal yang mesti dikoreksi ulang, seperti dengan menihilkan set panggung, pertunjukan teater “Dendam Sabai” ini terkesan tak begitu luwes. Terlihat dari beberapa bagian panggung yang tak terekplorasi dengan baik. Transisi adegan demi adegan juga terasa sangat lamban. Pertukaran pelakon ke pendendang atau pelakon ke pencerita juga tak begitu kentara perbedaannya hingga mengakibatkan para penonton dibuat sedikit bingung dengan adegan-adegan dengan perpindahan peran yang begitu cepat berubah. Namun secara keseluruhan pertunjukan “Dendam Sabai” oleh HIMA Teater ISI Padangpanjang terasa sangat rapi dan apik.

Membumikan Tradisi

Himpunan Mahasiswa Seni Teater ISI Padangpanjang begitu cermat meramu cerita klasik masyarakat Minang Kabau dengan paduan konsep teater modern. Tanpa melupakan kekuatan dari kekayaan lokal. Teman-teman teater ISI Padangpanjang beranggapan bahwa dengan memberikan inovasi-inovasi terhadap tradisi lama agar selalu terasa segar dikonsumsi publik. Begitulah cara yang dipilih teman teman HIMA teater ISI Padangpanjang untuk membumikan tradisinya.

Namun dengan tema “Membumikan Tradisi” HIMA Teater ISI Padangpanjang begitu terpukau oleh tradisi lampau. Hingga mereka melupakan problematika realitas yang lalulalang disekitar mereka. Kaba Sabai Nan Aluih yang mereka garap tak memiliki relevansi yang kuat untuk keadaan masyarakat Minang Kabau hari ini.

Seharusnya, dengan tema “Membumikan Tradisi”. HIMA Teater ISI Padangpanjang juga mencermati keadaan sekitarnya pada hari ini. Karena tradisi begitu melekat dengan masyarakat dan masyarakat terus berkembang sampai hari ini. Mungkin kisah-kisah klasik yang masih berulang pada hari ini atau kisah klasik yang begitu kuat relevansinya pada hari ini menjadi pilihan sebagai media garap dalam upaya membumikan tradisi. (isi/pojokseni.com)


Ads