Voltaire dan Naskah Drama yang Menghina Nabi Muhammad -->
close
Pojok Seni
16 August 2016, 8/16/2016 04:37:00 AM WIB
Terbaru 2016-08-15T21:37:50Z
ArtikelBeritaMateri Teater

Voltaire dan Naskah Drama yang Menghina Nabi Muhammad

Advertisement
Voltaire (pojokseni.com)

pojokseni.com - Voltaire (1694-1778), seorang seniman, penulis juga ahli sejarah dan filsuf asal Prancis adalah seorang tokoh liberal dan memegang teguh toleransi beragama, kebebasan berpendapat dan berkarya, sampai akhir hidupnya. Seluruh karya yang ditulisnya selalu ditutup dengan kalimat "Ecrasez l'inflame" atau Hapus Barang Hina (Fanatisme) itu.

Sekitar tahun 1753, Voltaire sempat melakukan satu kesalahan yang fatal. Ia menulis naskah drama berjudul Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète, atau Fanatisme pada Nabi Muhammad. Ketika akan dipentaskan pada tahun 1993 dan 2001 lalu di Prancis dan Inggris, tentu saja hal tersebut memancing kemarahan Muslim seluruh dunia.

Kembali ke masa silam, Khalifah Abdul Hamid II di eranya pernah menyatakan akan menyerang Prancis dan Inggris, ketika dua negara tersebut berencana untuk mementas naskah drama penuh kontroversi tersebut. 

Naskah drama Le Fanatisme ou Mahomet le Prophete tersebut bercerita mengambil setting di Mekah sekitar tahun 630 Masehi. Selain "Mahomet le Prophète" atau Nabi Muhammad, tokoh lain yang ada di Naskah Drama tersebut adalah  Zopire yang dianggap merujuk pada Abu Sufyan, Séide yang dianggap merujuk pada Zaid dan Palmire yang didalam cerita tersebut adalah anak Zopire dan istri Séide.

Berikut isi naskah tersebut :

Séide, anak angkat Mahomet yang mantan budak, diperintah oleh Mahomet untuk membunuh Zopire, kepala suku di Mekah. Séide yang fanatik dan patuh kepada ayah angkatnya serta mencintai Palmire pun pergi ke Mekah. 

Namun, kedua orang budak yang saling mencinta (Séide dan Palmire) itu ternyata adalah dua kakak beradik. Sedangkan Zopire yang harus dibunuh oleh Séide (dengan imbalan boleh mengawini Palmire) ternyata ayah mereka sendiri. Zopire baru diberi tahu pada menit terakhir bahwa kedua orang itu adalah anaknya yang hilang diculik semasa kecil. 

Séide juga diberi tahu pada saat terakhir tentang adik dan ayah yang sebenarnya serta kejahatan ayah angkatnya. Maka ia berusaha membunuh sang ayah angkat tetapi tidak berhasil karena terlanjur meninggal, sebab sebelumnya, tanpa setahunya, ia telah diracun oleh sang ayah angkat berhubung orang tua itu juga mencintai Palmire. 

Tinggallah Palmire yang menerima pernyataan cinta sang ayah angkat. Palmire menolak mentah-mentah dan bunuh diri. Sang tokoh utama merana kehilangan cinta sejati. 

Penggalan kisah tersebut menggambarkan adanya penghinaan berat yang dilakukan Voltaire melalui karya sastra. Naskah itu berasal dari kisah sejarah, namun diolah Voltaire dengan pakem drama Prancis era itu.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, bagaimana bisa Voltaire yang mengedepankan toleransi, mati-matian membela hak beragama (meski ia bukan pemeluk agama tersebut), bisa membuat karya yang menghina Islam.

Voltaire juga memiliki quote yang terkenal “Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous ayez le droit de le dire” yang berarti saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tetapi saya akan berjuang sampai mati agar Anda tetap berhak mengatakannya. 

Ada Apa Dengan Voltaire?


Kenapa ia bisa menyudutkan Islam lewat pendapatnya? Anda mungkin mengira bahwa Voltaire adalah orang yang labil, karena ketika Islam mulai masuk ke Prancis di era 1768-1772, ia juga mendalami Islam. Ia malah mengeluarkan pendapat seperti ini :

1. Voltaire menyebut muslim sebagai “Musulman” atau menyerahkan diri pada Tuhan. Bukan "Mahometan" yang berarti pengikut Muhammad.

2. Dalam suratnya pada Raja Frédéric II, Voltaire menyebutkan bahwa "agama Muhammad" adalah salah satu perubahan terbesar dalam sejarah dunia dalam waktu kurang dari satu abad.

3. Masih dalam surat yang sama, Voltaire menyebut Nabi Muhammad sebagai "seorang yang spesial" yang bisa terus menang dengan pasukan kecil, melawan pasukan yang besar. Voltaire juga menyebut Nabi Muhammad sebagai ahli hukum, pemimpin, serta agama-wan, dan memainkan sekaligus semua peranan terhebat yang mungkin dipegang orang di muka bumi ini.

4. Voltaire sangat terkesan oleh monoteisme Islam yang lebih dekat dengan ideal ketuhanannya. Menurut pendapatnya deinisi Tuhan menurut Islam sangat agung “Tuhan yang Maha Esa, yang tidak berputra dan bukan putra siapa pun, dan tidak ada makhluk lain yang menyerupai-Nya”. Ia membantah gambaran yang telah diberikan para sejarawan Eropa dan para ilmuwan lain sebelumnya tentang Islam

5. Voltaire menyebutkan bahwa “Tak ada agama lain yang memerintahkan zakat. Agama Islam adalah satu-satunya yang telah memasukkannya dalam suatu konsep hukum, positif dan tak dapat ditinggalkan. Al-Qur’an memerintahkan agar orang menyerahkan dua setengah persen penghasilannya, dalam bentuk uang ataupun bahan mentah. 

6. Voltaire juga memaprkan bahwa larangan berjudi mungkin merupakan satu-satunya yang tidak ditemukan dalam agama mana pun juga. Semua hukum itu, termasuk poligami, ketat sekali. Doktrinnya yang sederhana menimbulkan hormat dan kepercayaan orang terhadap agama itu.” 

7. Voltaire juga sering membela agama Islam yang menurutnya bijak, ketat, dan manusiawi: bijak karena Tuhannya tidak mempunyai sekutu dan tidak merupakan misteri; ketat karena melarang berjudi, minum anggur dan minuman keras, serta memerintahkan sembahyang lima kali sehari. Manusiawi karena agama itu memerintahkan zakat, yang lebih wajib daripada berziarah ke Mekah. 

Selain itu, Voltaire juga memuji bagaimana martabat perempuan dalam Islam begitu diangkat. Juga berbagai komentar positif lainnya. Satu-satunya kritik serius dari voltaire terhadap Islam di kala itu adalah penyebaran agama dengan jalan perang dan, menurut yang diketahuinya sampai saat itu, memaksa kepada musuh yang kalah untuk “masuk Islam atau mati”

Kembali ke Naskah Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète yang dikarang Voltaire tahun 1753. Informasi terhimpun, saat itu, Prancis masih mayoritas Katolik. Saat itu, Voltaire masih menyuarakan kebebasan beragama bagi pemeluk Protestan juga beberapa agama lainnya yang persentasenya masih sangat kecil.

Pembuatan karya tersebut didasari oleh kritik Voltaire terhadap fanatisme gereja Katolik yang semena-mena menyerang kaum Protestan di Prancis. Sebagai bentuk kritik, Voltaire menggunakan 'tekhnik terselubung' yakni lewat karya sastra. Naskah drama yang dipilihnya agar dapat dibaca dan ditonton oleh seluruh pemeluk Katolik.

Voltaire memilih Islam, sebagai agama yang berasal dari negeri yang jauh dari Prancis sebagai 'tameng'. Islam saat itu masih cukup asing bagi warga Prancis yang di dikte dengan otoriter oleh gereja Katolik. 

Ia menyimpan kritik terhadap Gereja Katolik kala itu, dengan karya fiksi tersebut. Saat itu, kisah itu diterima dengan wajar. Data yang terhimpun menyebutkan bahwa penonton yang beragama Katolik menerima karya tersebut dengan baik. 

Lama dipahami, dari beberapa kritikus, bahwa karya tersebut sebenarnya ditujukan untuk mengkritik gereja Katolik. Akhirnya, Voltaire diketahui oleh gereja Katolik sedang berkonspirasi untuk menjatuhkan mereka dan membela hak-hak beragama kaum minoritas.

Hanya saja, pementasan tersebut tidak sepantasnya digelar kembali. Saat ini, pemikiran dari Voltaire membuat kebebasan beragama di Prancis menjadi pedoman. Karena itu, naskah ini sudah sebaiknya hanya menjadi Legenda, karena bertentangan dengan pemikiran Voltaire sendiri. 

Pemikiran Voltaire pula yang menjadikan Islam, sekarang menjadi agama terbesar kedua di negeri Prancis. Anda tentu masih ingat dengan Frank Ribery, Zenedine Zidane dan sejumlah nama muslim lainnya yang membela Prancis di piala dunia.

Bagaimana pendapat anda terhadap karya Voltaire tersebut setelah membaca pemaparan di atas? Itu terserah anda. Meski kami tidak selalu setuju dengan pendapat anda, tapi kami juga akan mempertahankan hak anda untuk mengungkapkannya. (Inspired by Voltaire)

Redaksi pojokseni.com