Analisa : Refleksi Budaya Minangkabau dalam Cerpen “Batas” karya Helen Yahya -->
close
16 June 2015, 6/16/2015 12:29:00 AM WIB
Terbaru 2015-08-06T16:19:40Z
Analisis PuisiSastra

Analisa : Refleksi Budaya Minangkabau dalam Cerpen “Batas” karya Helen Yahya

Advertisement

Oleh: Diah Irawati S.S M.Pd

pojokseni.com - Cerpen ini mengisahkan suatu polemik yang terjadi di dalam suatu kehidupan masyarakat. Konflik yang terjadi berawal dari perbincangan Mak Kimin dan Bujang Sami yang membicarakan tentang laporan dari Pidin yang mengatakan bahwa warga dusun seberang sungai salah satu nama daerah di Sumatera Barat memasalahkan tentang perbatasan wilayah. Sehingga Mak Kimin yang merupakan Tungganai kaum Patopang, naik pitam mendengar laporan dari keponakannya itu.

Selanjutnya Mak Kimin memerintahkan bujang Sami mengumpulkan kaum Patopang untuk berkumpul di rumah gadang. Malam harinya terjadilah musyawarah kaum Patopang. Dalam musyawarah itu, Pidin memperkeruh masalah. Dia mengatakan penduduk dusun seberang memintak kepada pendulang untuk membayar pajak. Hal itu tentu saja membuat kaum Patopang marah. Di akhir musyawarah tercapailah mufakat bahwa sebaiknya hal ini harus dibicarakan langsung dengan kaum seberang.

Pada hari yang ditentukan, rombangan berangkat menuju lokasi penambangan yang berdekatan dengan Dusun Seberang Sungai di Hilir Batang Kuantan. Kemudian kepala dusun sungai seberang menjelaskan prihal yang terjadi sebenarnya. Tentang kesalahpahaman warga, dan menjelaskan mengapa mengeluarkan peraturan itu karena ada yang mendirikan pundi di pinggir tebing dan lumbang tambang itu mengakibatkan sawah di atasnya terancam runtuh. Kemudian Patih Sati meminta maaf terkait hal itu. Tetapi kepala dusun seberang melanjutkan ada batas lain yang telah dilanggar oleh anak kemenakan kita. Ternyata batas yang dimaksud adalah beberapa orang kaum Patopang sering menyusup ke pondok istri-istri orang yang suaminya sedang tidak ada di rumah, termasuk juga Mak Kimin padahal beliau merupakan Tungganai suatu kaum.

Berdasarkan sinopsis cerita di atas, cerpen ini menggambarkan tentang masyarakat dewasa ini. khususnya yang dideskripsikan pengarang yaitu masyarakat minangkabau. Hal yang menarik dalam masyarakat Minangkabau yaitu garis keturunan di ambil dari keturunan Ibu atau yang kita kenal dengan Matrilineal. Pada keturunan Minangkabau seorang mamak atau paman sangat berperan dalam kehidupan kemenakannya atau kaumnya. Jadi dalam masyarakat Minangkabau mamak bisa dikatakan ayah kedua, atau kemenakan merupakan anak kedua. Terdapat falsafah minang “anak dipangku, kemenakan dibimbing.”

Dalam masyarakat Minangkabau terdapat berbagai ragam suku atau kaum. Sepeti Jambak, Koto, Tanjung, Patopang dan lain-lain. Dalam hal ini terdapat pemimpin suku atau kaum. Yang dikenal dengan Penghulu. Penghulu merupakan pimpinan seluruh kaum, atau pemimpin tertinggi di suatu kaum. Setelah penghulu dikenal juga Tungganai, yaitu lelaki yang memimpin dalam sebuah rumah gadang.

Dalam cerpen ini tokoh tungganai yang digambarkan  tidak sesuai dengan seharusnya yang berlaku di Masyarakat. Di sini digambarkan walaupun tergambar sosok yang tegas, sosok Mak Kimin juga digambaran sebagai sosok yang tempramen dan juga memiliki prilaku menyimpang karena melewati batas norma yang berlaku dalam masyarakat yaitu mengoda atau mengganggu istri orang ketika suaminya tidak ada. Seperti kutipan cerpen di bawah ini.

“Alaa, pendek betul pikiran wa’ang. Berdebat atas nama kebenaran tak ada salahnya. Mana Pidin? Suruh dia kemari”, perintah Mak Kimin. Tangan memilin-milin rokok daun nipah.

Bujang Sami semakin tegang. Dia tau betul tabiat mamaknya. Sebagai salah seorang Tungganai kaum Patopang kadang tak sungkan bertindak keras pada anak kemenakannya.

Bujang Sami lebih gelisah. Sorot tajam mata Mak Kimin seperti mengandung peringatan. Padahal Bujang Sami tak dapat melupakan: bukan Pidin saja yang pernah menyelinap ke pondok sawah Pinah, juga Lencun, Lobai, Kiri.. termasuk Mak kimin.
Padahal seorang Tungganai seharusnya merupakan pemimpin yang bijak, tegas, dihormati orang karena prilaku yang terpuji. Hal ini menyadarkan, bahwa tidak semua pemimpin itu bijaksana, berprilaku baik dan terpuji. Tidak menutup kemungkinan satu dari seratus Tungganai di dunia nyata di masyarakat Minangkabau juga memiliki sifat yang sama seperti Mak Kimin.
Dalam cerpen “Batas” ini juga mencerminkan masyarakat Minangkabau dalam menyelesaikan masalah, terutama permasalahan yang menyangkut orang banyak diputuskan melalui musyawarah. Kalau saja kaum Pataopang hanya mendengarkan Pidin saja tanpa memusyawarahkannya dan selanjutnya hasil mufakat melahirkan keputusan untuk menemui orang-orang dusun sebelah, mungkin persoalan akan menjadi lebih runyam. Kaum patopang hanya akan merasa dirinya benar. Tetapi setelah bermusyawarah dengan kaum dusun seberang, tau lah duduk permasalahan yang sebenarnya. Termasuk prilaku tidak terpuji masyarakat Silokek yang telah melanggar norma dan telah berprilaku tidak terpuji mengganggu istri orang. Seperti kutipan di bawah ini.

“Nanti malam kita lanjutkan di rumah gadang. Jangan sampai ada kaum Patopang yang tidak hadir. Kapan perlu suruh kiri memukul canag!”

Bujang Sami mendehem sebelum mendaki tangga rumah gadang. Dilihatnya Mak Kimin dan Pidin sudah mulai bersitegang suara. Sedang jenang berusaha menguping saat menghidangkan kopi panas dan nasi ketan.

Dalam cerpen “Batas” ini juga mencerminkan peranan rumah gadang dalam masyarakat Minangkabau. Rumah gadang dalam masyarakat Minangkabau dipimpin oleh Tungganai. Fungsi rumah gadang dalam masyarakat Minangkabau salah satunya untuk berembuk atau sekedar silaturahmi kaum. Dalam cerpen ini rumah gadang digunakan sebagai tempat para kaum melaksanakan musyawarah. (tim @teaterpetass)

Ads