Advertisement
![]() |
| Waktu Paruh karya Hartati (foto: Diah Irawati) |
Ulasan pertunjukan Waktu Paruh karya koreografer Hartati di IDF 2026
Oleh: Adhyra Irianto
Panggung dimulai dengan cahaya yang temaram. Tujuh penampil bergerak “patah-patah”, terfragmentasi dalam pose-pose potret. Di panggung, set dibuat menjadi semacam dua ramp stage horizontal (membentang dari sisi kanan ke sisi kiri panggung) sebagai landasan pijak para penampil, berbahan lantai bambu (bale) yang menghadirkan ketukan ketika diinjak. Beat musik terdengar ganjil, mungkin time signature-nya 7/8, bersama noise, menggambarkan ketegangan di antara para penampil yang perlahan menapaki ramp stage pertama (di bagian belakang).
Tempo awal berlangsung lambat, secara sederhana menggambarkan bagaimana para penampil mencoba saling keluar dari mikrokosmos, mencoba melangkah lebih tinggi dan lepas. Namun, setiap langkah terasa rapuh. Beberapa kali penampil harus berguling-guling keluar dari ramp stage, bahkan “jeblos” hingga terjatuh. Satu lubang menganga disiapkan di ramp stage untuk memungkinkan adegan tersebut. Di deretan adegan itu, ada satu momen ketika para penampil terjatuh satu per satu ke lubang tersebut dengan gerak lambat, disorot satu lampu profil yang mengarah ke titik jatuh, begitu memukau dan dramatis. Adegan pembuka ini sudah menanamkan gagasan yang dibawa sepanjang pertunjukan: berpijak pada sesuatu yang rapuh, menapaki jalan terjal yang sulit, dan terjatuh adalah bagian dari pembebasan diri.
Waktu Paruh karya Hartati menjadi karya pembuka Indonesian Dance Festival (IDF) 2026. Karya ini dipentaskan di Graha Bakti Budaya (GBB) kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/10/2026) setelah acara pembukaan IDF. Menurut proposisi karyanya, Waktu Paruh merupakan “metafora atas tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan yang perlahan meluruh”. Karya ini mempertanyakan: ketika nilai-nilai yang menopang kehidupan terus tergerus, apa yang masih tersisa? Bagaimana manusia terus melangkah ketika pijakan yang selama ini menyangga hidupnya tak lagi utuh?
Hartati menyebut bahwa peluruhan itu bermula dari ruang paling intim, yakni keluarga, ketika “tubuh-tubuh yang semula saling menopang perlahan kehilangan kehangatan”, demikian yang dikatakan dalam proposisinya. Dari hubungan keluarga (mikrokosmos), karya ini didesain menjadi sebuah argumen universal yang juga bisa diarahkan ke hubungan sosial (makrokosmos). Gagasan ini berangkat dari Rumah Gadang, yang unik karena menjadi satu pintu bagi beberapa keluarga dalam satu garis darah, namun dalam diam para penghuninya saling bersaing untuk menguasai dan merebut ruang.
Terkait dengan tema IDF tahun ini, maka pertunjukan ini mengusung pertanyaan yang menyentuh nadi dari premis IDF, apa yang bergeser di kedalaman namun seakan tidak terasa? Namun, dalam pertunjukan ini, apa yang bergeser menjadi sesuatu yang besar dan masif. Pergeseran itu berubah menjadi sebuah gesekan besar, pertarungan, dan pertaruhan.
Aturan kolektif menjadi semacam penjara bagi setiap kebebasan individu, menghadirkan negosiasi dan gesekan. Bahkan, untuk terus bergerak, mesti diperjuangkan dengan pertarungan. Pertarungan ini terjadi setiap hari, setiap waktu, dan terus berulang. Repetisi inilah yang didesain menjadi pertunjukan yang terfragmentasi dalam spektakel-spektakel yang terus membesar. Dari lingkup sempit, waktu yang pendek, hingga lingkup terus meluas (diwakili dengan cahaya yang menyirami area permainan).
Sedikit Catatan
![]() |
| Waktu Paruh karya Hartati (foto: Diah Irawati) |
Perlu saya bedakan antara apa yang “dikatakan koreografer” dan apa yang saya lihat. Apa yang saya lihat adalah tujuh penampil saling menarik, merespons gerakan, bertumpuk, bersandar, dan mendorong. Ini mungkin personifikasi dari gesekan dan negosiasi, serta tindakan saling mencurigai seperti yang disebut koreografer. Saya mencatat satu adegan lagi, ketika para penampil bergantian menjadi “seseorang yang paling depan”, lalu menatap tajam ke ketinggian, mempelajari apa yang akan mereka dapatkan ketika terlepas dari semua ikatan, seakan perlahan menyadari bahwa kebebasan nantinya bukan jawaban absolut dari permasalahan, tetapi bergeser dan berpindah ke situasi baru dengan rintangannya sendiri. Deretan spektakel ini dijahit menjadi satu pertunjukan utuh, didukung kerja dramaturgi oleh dramaturg Adinda Luthvianthi.
Kembali ke pertunjukan. Meski lingkup cahaya meluas, area permainan menjadi terus menyempit. Para penampil terus mencoba meniti jalan di ramp stage. Pijakan terasa semakin rapuh, derap langkah dan tubuh penampil di atas panggung menjadi semacam bioritme yang menawarkan kesan musikal yang intim. Sedangkan ramp stage menciptakan kesan lanskap yang surreal dan sempit.
Para penampil terus mencoba melangkah naik, saling menarik, dan terjatuh. Keseimbangan dan kekuatan tubuh mereka benar-benar diuji dengan rentetan spektakel yang membutuhkan tubuh yang terlatih. Ketujuh penampil, yakni David Fitrik, M Fazri Arif Sahputra, Dendi Wardiman, Xena Israely Loppies, Try Anggara, Savika Refa Zahira, dan Farhan Krisna Ramadhan, melakukan tugasnya dengan baik, baik ketika menjaga keseimbangan di atas titian, menjatuhkan diri, hingga saling bertabrakan dan menarik di atas ramp stage. Ini tentu hasil dari latihan yang panjang dan tidak bisa dilakukan sembarang orang.
Dari tekstur gerak para penampil, terlihat jejak Minangkabau sekaligus urban yang menyatu dalam visi artistik koreografer. Kesan Minangkabau terlihat dari panggung bale yang biasa jadi latar untuk pertunjukan silat Minangkabau, serta “pondasi” dari gerak para penampil. Ditambah dengan dua ramp stage yang menanjak juga terkesan seperti separuh dari atap Rumah Gadang. Paduan Minangkabau dan urban ini menjadikan setiap gerak sebagai gerakan baru yang lebih unik dan khas.
Pada akhirnya, ruang langkah yang menyempit menjelma menjadi sebuah titian. Setiap langkah menuntut kewaspadaan ketika pijakan semakin rapuh. Di ambang jatuh, tubuh terus mencari keseimbangan dan peluang untuk bertahan. Satu per satu penampil gagal menapaki jalan sempit yang menanjak itu, hingga hilang di kegelapan. Lalu, cahaya panggung merekah menjadi biru cerah. Satu per satu penampil datang seperti burung, terbang lepas, dengan tambahan selapis kain yang bercorak unik, menutupi kostum serba oranye yang mereka gunakan sejak awal.
Kebebasan ini memberikan ending yang menenangkan, sekaligus membahagiakan. Satu per satu penampil menapaki ramp stage kedua yang berada di depan ramp stage pertama. Di ujung jalan, diberi cahaya dari fresnel yang terang benderang, seakan-akan menjadikan ramp stage tersebut “stairway to heaven”. Musik yang tadinya noise dan ganjil berubah menjadi string yang menenangkan, mengiringi para penampil menemui kebebasannya, melewati setiap rintangan (berbentuk aturan kolektif yang mengekang kebebasan personal). Kredit juga perlu diberikan pada musik yang membangun atmosfer dari Taufik Adam, skenografer Hanafi, Azis Dynk yang menata cahaya, serta kostum dari M. Fahmi.
![]() |
| Adegan terakhir dari Waktu Paruh karya Hartati (Foto: Diah Irawati) |
Namun ending yang “cerah” itu juga menimbulkan pertanyaan. Hampir sepanjang pertunjukan, tubuh-tubuh digambarkan kehilangan pijakan, sementara pembebasan datang bersama perubahan cahaya dan musik. Apakah kebebasan di sini jawaban atas peluruhan, atau pelarian darinya? Jika aturan kolektif adalah rintangan yang dilewati, di mana letak kehilangan yang diratapi pembuka karya ini? Koreografer memberikan jawaban bahwa ending tersebut adalah awal dari tanda tanya yang baru. Setelah lepas dari satu kekangan dan jalan yang menanjak sebelumnya, akan ada rintangan lain yang menanti setiap individu yang ingin merasakan kebebasan abadi.
Meski begitu, saya tetap mencatat bahwa tanda tanya baru itu memang baru hadir lewat penjelasan koreografer. Di panggung, cahaya biru di latar, cahaya terang di ujung ramp stage, serta musik string yang menenangkan lebih terasa sebagai sebuah penutup, ketimbang mengarahkan ke tanda tanya baru. Lebih berupa akhir yang indah, ketimbang akhir yang penuh pertanyaan. Selain itu, ritme bagian tengah mungkin perlu disempurnakan. Deretan spektakel yang berupa repetisi menuntut pengaturan tempo agar pertunjukan tetap utuh dalam fragmentasinya.
TIM "Waktu Paruh"
- Koreografer: Hartati
- Dramaturg: Adinda Lutvianthi
- Komponis & Pemusik: Taufik Adam
- Skenografer: Hanafi
- Lighting desainer: Azis Dynk
- Perancang Kostum: M. Fahmi
- Asisten Kostum: Evga Saputri
- Penampil: David Fitrik, M Fazri Arif Sahputra, Dendi Wardiman, Xena Israely Loppies, Try Anggara, Savika Refa Zahira, Farhan Krisna Ramadhan
- Produser: Keni Soeriaatmadja
- Manager Produksi: Tiara Sasmita
- Asisten Produser: Zulfikar
- Stage Manager: Novan Seri
- Asisten Stage Manager: Richard Van Hamdan
- Penata Cahaya: Mamedz
- Teknisi Tata Cahaya: Satria Putra
- Pendamping Riset: Heru Joni Putra
- Konsultan Produksi: Toto Arto
- Konsultan Manajemen: Hendra Muliadi







