Advertisement
![]() |
| Gambar 1. Pertunjukan Tari Bertaut. Sumber: Dok. Pribadi |
Oleh: Rizal Sofyan
Sebelum memejamkan mata, kebiasaan buruk yang akhir-akhir ini saya lakukan tiap malam ialah melakukan doomscrolling di Instagram. Berharap mendapat asupan dopamin dengan menonton reels lucu seperti kelakuan anomali dari kucing, meme oversatir, atau video nirfaedah lainnya. Ya… seharusnya saya lebih baik membaca buku untuk menambah wawasan atau membaca hal random di Wikipedia – tapi yang paling bener tidur sih. Selain sibuk scroll, saya menonton story akun-akun yang saya ikuti hanya untuk tau kabar, kesibukan apa yang mereka kerjakan, atau info seni-senian.
Hingga saya menonton story dari Ariesta Putri Rubyatomo (penari dan koreografer) yang sedang berproses untuk karya terbarunya. Rasanya sudah lama tidak melihatnya menggarap karya mandiri. Terakhir saya menonton karyanya tahun 2023 di Yogyakarta. Bagi saya ini adalah kesempatan untuk melihat kembali dia berproses dan menampilkan karya terbarunya. Kebetulan karya ini ia garap untuk acara Bandung Isola Performing Art Festival (BIPAF) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Pada hari Selasa malam (6 Oktober 2026) saya datang dengan nafas terengah-engah. Macet di Kota Bandung memang jahanam, apalagi di jam pulang kerja. Memang salah saya juga karena sorenya saya nongkrong dan tidak ingat waktu. Untungnya acara belum dimulai, tetapi banyak orang sudah berkumpul di lokasi acara. Saya pastikan saya akan berdiri sepanjang acara karena melihat antusias penonton.
Sekitar pukul 19.30 WIB, acara dimulai dengan sambutan dan tarian pembuka dari mahasiswa. Tari kolosal mengiringi sambutan direktur festival. Pembukaan yang meriah. Penari mengisi tiap ruang di pelataran depan Gedung ISOLA. Panggung bagian atas, tangga, dan panggung bagian bawah Setelah jeda, karya yang saya tunggu dimulai. Pertunjukan tari berjudul Bertaut dari Litutaries Project.
3 orang penari berpakaian serba putih berada di panggung bagian bawah dengan jarak yang lebar. Penari yang berada di tengah duduk dan memegang bunga mawar berwarna merah, sementara 2 penari lainnya menari di sisi kanan dan kiri hingga akhirnya berkumpul di tengah. Berawal dari gerakan sendiri-sendiri. Penari tengah fokus dengan gerakan repetitif memeluk diri dan melepas pelukan. Sementara 2 penari bermain level ketinggian – jatuh hingga berdiri. Lalu mereka bertiga berkumpul dan melakukan gerak yang sinkron sambil mengoper-ngoper bunga mawar. Mahkotanya lepas dan berceceran ketika dioper.
Selain operan dan bunga mawar yang menjadi titik fokus saya ketika menonton, gerakan jatuh dan bangun menjadi daya tarik sendiri. Narasi kegagalan dan kebangkitan menjadi poin utama proses dalam kehidupan. Awalnya gerakan tersebut dilakukan secara terpisah, kini formasi menjadi rapat membuat suatu pernyataan bahwa hubungan antar manusia berperan dalam kegagalan dan kebangkitan. Pertunjukan ditutup dengan 2 penari membopong 1 penari yang memegang bunga mawar yang mahkotanya tersisa sedikit keluar dari panggung. Sebuah penutup yang manis dan menjadi kesimpulan dari arti kata bertaut.
Dalam pertunjukan yang kuat dengan narasi pemberdayaan (empowerment) terhadap diri yang rapuh menjadi kuat. Pertunjukan ini saya lihat sebagai karya yang masih bisa dikembangkan. Beberapa hal teknis yang saya soroti ialah masalah lampu yang kurang mendukung atmosfer. Selain itu eksplorasi ruang yang masih kurang terolah. Untuk penari yang berjumlah 3 orang, ruang pada panggung bawah masih sangat luas. Kekosongan ini memberi jarak pada narasi bertaut. Saya kesulitan menangkap momentum karena ruang yang sangat luas. Intervensi bentuk panggung terbuka sangat berpengaruh.
Dari segi pemilihan gender penari menjelaskan solidaritas antar perempuan. Hal ini diperjelas ketika formasi penari menjadi rapat. Pesan yang sangat berarti ketika sesama gender memiliki hubungan yang kuat dalam menghadapi masalah. Sekilas terlihat biasa, tetapi jika melihat realita masih banyak yang saling menjatuhkan. Padahal patriarki adalah masalah utamanya. Ini adalah semacam harapan bahwa seharusnya tidak terjebak pada konflik horizontal.
Adapun pesan yang kurang terolah ialah bagaimana menampilkan kerapuhan dan kebangkitan ke tingkat yang lebih filosofis. Saya greget ketika mahkota bunga mawar tidak gugur seluruhnya dan menyisakan tangkainya saja. Padahal bisa saja menunjukan sesuatu yang kontras. Hubungan antar penari menjadi lebih intim, tetapi bunga kemudian hanya tersisa tangkainya saja. Sehingga kesan ia tetap bangkit dengan ”bunga yang berbeda”. Ia rapuh, kehilangan ”keindahan” dari bunga yang ia pegang. Bunga itu kini hanya tersisa tangkainya saja. Namun, sekarang ia bangkit berkat hubungan yang ia buat dan maknai kembali. Kini ”keindahan” itu menjadi bentuk yang transenden. Bunga mawar yang tersisa tangkainya menjadi sejarah perjalanan proses kebangkitan.
Karya ini memiliki peluang untuk ditarik pada fenomena Post Traumatic Growth. Manusia bertahan hidup dengan mempertanyakan kembali tujuan dan apa yang ia miliki setelah dihantam oleh kegagalan – atau luka. Ia tidak sibuk mengejar apa yang hilang, tetapi kini ia belajar dari luka dan memikirkan kembali apa yang ia miliki. Maknanya menjadi jauh lebih berarti. Sehingga diam atau merenung menjadi gerakan yang hilang dalam karya ini. Hampir seluruh dinamika dalam pertunjukan ini ialah bergerak. Apa salahnya jika melambat, diam, dan merenungkan kembali apa yang sudah terjadi? Jangan-jangan kita melewatkan sesuatu yang penting ketika dipaksa terus bergerak. Hanya untuk membuktikan bahwa diri ini sibuk untuk kabur dari luka dibanding melihat lebih dalam luka dalam diri – tapi kontrol ya, hubungi dokter atau profesional jika perlu.
Sebagai pertunjukan yang membahas pemberdayaan (empowerment), pertunjukan ini menyajikan perjuangan yang halus dan manis. Karya ini tidak mereproduksi kekerasan atau luka secara eksplisit, 2 hal itu dapat dibaca sebagai latar belakang dan motif. Koreografer tidak memperjelas hal itu, tetapi lebih fokus pada bagaimana proses kebangkitan melalui ikatan yang membangun. Karya ini dekat dengan fenomena Post Traumatic Growth, pengembangan lanjut dapat membuat karya ini lebih kaya, baik dari segi filosofis dan psikologis.




