Advertisement
![]() |
| Credit foto: Herfan Rusando, 2026. PERTUNJUKAN DISERTASI HUTAN |
Oleh: Ariel Valeryan
Pada 15 Agustus 2026 di Studio Teater ISBI Bandung, para penonton mulai datang berdesakan. Malam itu akan tampil sebuah pertunjukan berjudul “Disertasi Hutan: Bab Deforestasi Dewi Sri” karya Rano Sumarno, yang hadir sebagai perwakilan dari kontigen ISI Yogyakarta, dalam kegiatan “Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions” yang diprakarsai oleh Jurusan Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Tema yang diangkat dari kegiataan ini cukup menggugah sekali, kali ini interkultural akan coba dieksekusi melalui sebuah pertunjukan. Selain dari itu dalam rangkaian kegiataan ini pun, diusung pula sebuah kegiatan seminar dengan sub tema, “Interkulturalitas Masih Memesona atau Sudah Ditinggalkan?”. Dua gagasan besar inilah yang memantik lahirnya tulisan ini, bukan untuk menarik sebuah kesimpulan yang simultan dengan pertunjukan dan tema. Namun, untuk meninjau lebih jauh, apakah hal tersebut masih mendapatkan demarkasinya dalam pertunjukan ini.
Interkultural sendiri secara harfiah dapat dimaknai sebagai proses pertemuan dialektis antar kebudayaan. Namun, tidak berarti interkultural melahirkan satu produk kebudayaan yang baru. Ya, namanya juga inter maka bukan satu produk baru yang lahir. Akan tetapi wilayah penempatan interkultural masih sering jadi perbincangan, saya menganalogikannya sebagai sebuah selat yang mempertemukan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Interkultural tidak hadir dengan tendensi pada satu kultur, namun ia berada di tengah-tengahnya alias tidak menjadi milik mana pun. Pernyataan ini sah untuk digugat, namun sejauh apa yang saya telusuri lebih lanjut inilah yang menjadi titik awal berangkat dari definisi mengenai interkultural.
Dari pernyataan di atas sedikitnya kita bersama bisa menarik satu titik terang bahwa interkultural dapat dipahami sebagai proses dialog antar budaya yang didalamnya ada negosiasi, transmisi teks, dan konteks, bahkan memungkinkan lahirnya upaya proyeksi yang lain yang bersifat mediatik. Mungkin pengantar yang saya berikan agak sedikit bias, namun setidak-tidaknya ini dapat menjadi sebuah titik berangkat untuk membaca posisi interkulturalitas dalam pertunjukan ini. Secara elementer tulisan ini akan membahas mengenai di manakah proses interkultural terjadi dalam pertunjukan ini? Mungkinkah itu terjadi? Atau jangan-jangan sepanjang pertunjukan yang kurang lebih berdurasi 1,5 jam ini tidak ada upaya interkultural yang coba diproyeksi oleh penggarap? Mari kita sama-sama membacanya lebih jauh.
Sekilas Soal Cerita dan Isu
Menurut Yakob Sumardjo, seni modern Indonesia kerap kali lahir dari proses dialog dengan tradisi, bukan penolakan sepenuhnya terhadap hal tersebut. Itulah akhirnya yang dapat saya rasakan dalam pertunjukan ini. Rano Sumarno sebagai penulis sekaligus sutradara, mencoba mengeksplorasi lebih jauh, cerita tentang Dewi Sri atau yang orang-orang Sunda kenal sebagai Dewi Sri Pohaci Asri, yang disimbolkan sebagai Dewi Kesuburan atau lebih spesifiknya Dewi yang memberi kehidupan.
Dalam pertunjukan ini Dewi Sri direpresentasikan sebagai alam yang terluka oleh ketamakan manusia. Ia dieksploitasi dihancurkan dengan dalih kemajuan. Secara garis besar pertunjukan ini mencoba menjadi medium kritik dengan berbagai idiom simbolik, dari mulai pertunjukan yang dibuka dengan dialog Dewi Sri dan Semar. Serta kakawen dalang yang mencoba mewakili gejolak kehidupan. Pertunjukan ini mencoba mempertemukan pemahaman kultural dalam memahami alam, dan perihal bagaimana ilmu pengetahuan, beserta akademisi memahami alam. Pertunjukan ini memuat unsur satir yang begitu terasa. Ia hadir sebaga media yang meggambarkan tentang bagaimana ilmu pengetahuan dan kalangan akademisi justru turut serta menjadi jembatan yang melegitimasi proyek-proyek serta deforestasi yang terjadi.
Pertunjukan yang mencoba masuk ke dalam wilayah refleksi etis, ia membawa setiap penonton ke alam kesadaran bahwa kadang kala rasionalitas ilmu pengetahuan tidaklah lengkap jika tanpa mendasarinya dengan nurani yang terbuka. Sederhannya itulah yang ingin disampaikan dalam pertunjukan ini, ketika ilmu pengetahuan menjadi identitas cara berpikir publik, ia hanya akan melihat kehancuran alam sebagai statistik, bukan sebagai bagian dari penghancuran ekologis beserta kehidupan yang berkesinambungan di dalamnya.
Letak Interkulturalitas: Ada atau Tidak?
Seperti yang disampaikan penulis di awal, bahwa tulisan ini akan merujuk pada konteks interkultural dalam pertunjukan ini. Kita akan memulai sub ini pada sebuah pertanyaan sederhana, di mana letak interkulturalitas dalam pertunjukan ini?
Interkultural telah menjadi satu hal yang banyak diperbincangkan dalam studi dan praktik teater, terlebih sejak paurh kedua abad ke 20. Ia hadir sebagai suatu label dalam memaknai suatu karya seni yang memuat unsur-unsur berbagai tradisi di dalamnya. Namun, yang justru menjadi kritik saya secara pribadi terhadap interkultural adalah, bahwa ia berpotensi menjadi label dalam ranah karya seni tanpa sebuah refleksi kritis yang berkelanjutan. Hari ini, kita tidak cukup memaknai interkultural sebagai proses asimilasi berbagai budaya, tidak juga selesai dengan pemahaman bahwa ini adalah apropriasi yang berpotensi mereduksi suatu kaidah dalam karya bernuansa tradisi. Namun, saya pikir interkultural hari ini dapat dilihat sebagai suatu proses dialogis antar satu peristiwa, isu, konteks, dan tubuh itu sendiri. Maka selaras dengan yang disampaikan (Yudiaryani; 2026), interkultural tidak selesai pada taraf penggunaan unsur budaya, namun juga melibatkan relasi dan transformasi di dalamnya.
Mari kembali pada pertanyaan di atas tentang di mana letak interkulturalitas dalam pertunjukan ini. Interkultural tidak selalu harus melahirkan satu produk baru yang bersifat mutlak. Ia bisa saja menjadi satu hal yang mungkin tidak pernah duduk dengan mapan, atau sederhananya berupa ketidakpastian. Dalam pertunjukan ini saya melihat bahwa perjumpaan hadir bukan pada antar budaya, namun dalam aspek ontologis dalam memperlakukan alam. Benturan antara Dewi Sri dan sosok Paman (Tokoh dalam pertunjukan tersebut) yang merupakan akademisi/penelitian yang kala itu tengah menempuh studinya dengan topik disertasi mengenai alam dan ekologi dalam cerita ini. Hal tersebut seolah menimbulkan sebuah sudut pandang baru tentang dua elemen berbeda dalam memperlakukan alam.
Dewi Sri melihat alam sebagai satu hal yang berkelindanan dengan manusia, sehingga ia mesti dijaga dan diperlukan serupa makhluk hidup lainnya juga. Namun, si paman dengan segala tumpukan teori dan metode, justru melihat alam sebagai objek penelitian semata, yang tidak perlu diperlakukan sebagai subjek yang turut hidup. Maka alam tak lebih dari statistik, sehingga kehancurannya pun bukanlah menjadi problem ilmiah.
Ini menampakkan benar dua sudut perbedaan yang signifikan, akhirnya interkultural terjadi dalam proses negosiasi pemahaman antara falsafah tradisi dan ilmu pengetahuan modern. Meski di akhir cerita sang paman menyesalkan perbuatannya karena secara tidak langsung dengan berbagai penelitiannya telah turut melegitimasi lajur kehancuran alam dengan tanpa mengenal dan mempertimbangkan eksistensi Dewi Sri yang dimunculkan sebagai penyelaras alam, terlebih dalam perspektif kultural. Hal ini menimbulkan dua gejolak antara tradisi dan modernitas ilmiah dalam memandang dan memperlakukan alam. Di sini pertama letak kemunculan interkultural, yang hadir dalam negosiasi tekstual soal perlakuan terhadap alam. Ia tidak menghasilkan kesimpulan secara simultan dengan isu yang digagas, namun justru menjadi wahana baru soal dua persepsi yang terus-menerus dibenturkan, tanpa menegaskan mana yang paling mutlak sebagai suatu produk pemikiran.
Selain dari pada itu dalam pertunjukan ini saya melihat aspek yang berkenaan dengan interkulrutal terletak pada upaya merekonstruksi ulang: budaya, tubuh, dan teknologi. Secara elemen pertunjukan Disertasi Hutan: Bab Deforestasi Dewi Sri, terus mencoba memberikan sebuah penawaran yang tidak menghasilkan satu hal yang bersifat tetap. Ada proses asimilasi dalam pertunjukan tersebut. Dari cerita yang bermula pada tangis Dewi Sri yang masyarakat Sunda, yakini sebagai Dewi Kesuburan dengan medan konflik dalam kehidupan modern. Antara Ilmu Pengetahuan yang terus berkembang dan benturan dengan nilai-nilai falsafah dalam kerangka tradisi masyarakat.
Di sinilah saya melihat upaya silang perspektif antara tradisi dan konflik sosial hari ini. Ia tidak menjadikan pertunjukannya berada dalam wilayah 100% tradisi. Namun, di satu lain dengan upaya pencampuran media, tidak pula menjadikannya 100% berada dalam demarkasi teater dengan dramaturgi cerita yang modern. Ia berada di tengah-tengah, di sanalah interkultural hadir sebagai isu, gagasan, dan konsep pertunjukan yang dielaborasikan dengan saling tarik menarik, tanpa menjadikan salah satunya sebagai bagian yang lebih memiliki tendensi pada suatau perangkat kebudayaan tertentu. Interkultural dalam pertunjukan ini hadir dalam berbagai varian yang bersifat mediatik.
Pada satu titik lainnya pertunjukan ini mencoba melakukan jangkauan yang lebih luas dengan menghadirkan multimedia. Peran teknologi tidak selesai sebagai proyeksi media terhadap isu yang digagasan dan penebalan situasional. Maka ketika ini semua terjadi dari mulai proses dialog antara pemahaman kultur, dan modernitas semakin luas cakupannya. Dengan demikian pada titik ini, interkulturalitas dapat dilihat bukan sebagai pertemuan antar tradisi saja. Namun, ia menjadi sebuah jaringan relasi yang lebih luas dan besar, tempat budaya dan pemahaman baru terus bernegosiasi dengan media, teknologi, dan pengetahuan. Alih-alih menjadi satu ketetapan, ia menjadi satu hal yang dinamis.
Bagaimana Seniman Mengeksekusinya?
Setelah mengulas mengenai letak interkulturalitas dalam pertunjukan Disertasi Hutan: Bab Deforestasi Dewi Sri karya Rano Sumarno, rasanya kurang lengkap apabila tidak membahas pula kaitannya di wilayah praktikal. Dalam konteks ini menurut Yudiaryani, interkulturalitas tidak lagi sekadar dibicarkan, tetapi turut diuji. Apa yang terjadi ketika teks bertemu tubuh dan konteks yang berbeda, ditambah media teknologi di dalamnya? Serupa yang telah saya tegaskan barusan, dalam pertunjukan ini seniman mencoba mengeksekusinya dengan hal-hal yang berkelindanan dengan komponen mediatik. Ketika sebuah narasi kultural soal Dewi Sri dipadukan dengan konflik sosial hari ini, kemudian dieksekusi dengan media proyeksi yang mencoba hadir sebagai wilayah representatif situasional. Seniman melakukan eksplorasi antara teks masa lampau (Dialog Dewi Sri dan Semar) dan isu hari ini. Lalu bertransformasi pula melalui proyeksi media dan kerja dramaturgi yang mengorganisir perjumpaan, ketegangan, dan produksi makna yang lahir dari berbagai unsur dalam pertunjukan.
Namun apakah itu menjadikan 100% pertunjukan ini sebagai sebuah pertunjukan yang interkultural? Masihkah interkultural memesona di dalamnya? Saya pikir ia telah menjadi interkultural, pertemuan dua arus yang lahir dari dialog dua perspektif, menjadi negosiasi teks dan kebudayaan, ditambah ruang relasi yang menjadi lebih teresonansi dengan memadukan budaya, isu terkini, dengan proyeksi media. Tanpa melahirkan satu ketetapan mutlak. Selanjutnya menjawab pertanyaan apakah masih memesona atau tidak, saya akan menimang bahwa citra memesona dapat hadir ketika interkultural tidak semata-mata selesai sebagai sebuah label yang telah selesai. Namun, ia akan menemukan pesonanya apabila dilihat bukan hanya sebagai proses pencampuran budaya, tetapi sebagai proses relasional yang terus berlangsung dan menghasilkan perubahan, tanpa menyimpulkan sebuah ketetapan. Sehingga proses rekonstruksi, juga dialog soal interkultural dapat terus tumbuh tanpa bersifat destruktif dan selesai pada taraf persoalan Timur dan Barat, namun berupaya menjadi satu upaya pencarian yang tidak menuntut pencampuran.




