Manusia dalam Horizon Pengetahuan -->
close
Pojok Seni
18 September 2026, 9/18/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-09-18T01:00:00Z
Ulasan

Manusia dalam Horizon Pengetahuan

Advertisement

Oleh: Ambrosius Markus Loho, M. Fil. 

(Dosen pada Departemen Kajian Humaniora & Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya - Pegiat Filsafat-Budaya-Seni)



Pengetahuan merupakan salah satu unsur fundamental dalam membangun pemahaman manusia terhadap sesuatu. Ketika seseorang memahami suatu hal, pada dasarnya ia telah memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut. Dengan demikian, pemahaman tidak hadir secara serta-merta, melainkan diperoleh melalui suatu proses pencarian, pemerolehan, dan pengolahan pengetahuan. Dalam konteks ini, pengetahuan memiliki kedudukan penting bagi manusia sebagai subjek karena melalui pengetahuan seseorang tidak hanya mampu memahami realitas, tetapi juga memperoleh kemampuan tertentu untuk bertindak, menentukan pilihan, dan menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, persoalan yang kemudian muncul adalah apa yang menjadi dasar bagi manusia dalam memperoleh pengetahuan dan membangun pemahaman terhadap realitas. 


Dalam tradisi filsafat modern, pemikiran René Descartes melalui ungkapan terkenalnya cogito ergo sum (“aku berpikir, maka aku ada”) memberikan penekanan yang kuat terhadap peran rasio dalam proses memperoleh kepastian pengetahuan. Rasio menjadi instrumen penting yang memungkinkan manusia berpikir secara sadar, reflektif, dan sistematis. Melalui aktivitas berpikir tersebut, manusia tidak hanya berusaha memahami sesuatu yang berada di luar dirinya, tetapi juga merefleksikan keberadaan dan hakikat dirinya sendiri sebagai subjek. 


Sementara itu, kesadaran memiliki peranan penting dalam proses tersebut karena memungkinkan manusia mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri sekaligus kepada realitas yang berada di luar dirinya. Dengan demikian, objek kesadaran dalam proses pemerolehan pengetahuan tidak hanya mencakup diri manusia sebagai subjek, tetapi juga segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Kesadaran terhadap diri mendorong manusia untuk mengenali potensi, keterbatasan, dan hakikat keberadaannya sebagai pribadi secara lebih mendalam. Sementara itu, kesadaran terhadap sesama dan lingkungan sosial mendorong manusia untuk mencari berbagai kemungkinan dan cara baru dalam membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan bermutu. Dengan demikian, pengetahuan dan kesadaran tidak hanya berfungsi untuk memperluas pemahaman manusia terhadap realitas, tetapi juga menjadi dasar bagi pengembangan diri dan pembentukan kehidupan sosial yang lebih manusiawi (Sihotang, 2018, hlm. 96). 


Kesadaran yang dimiliki manusia sebagai subjek pada akhirnya mendorong munculnya rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri maupun terhadap realitas yang berada di sekitarnya. Rasa ingin tahu merupakan salah satu dorongan mendasar dalam kegiatan filosofis karena melalui rasa ingin tahu manusia terdorong untuk mengajukan pertanyaan, bukan hanya mengenai hal-hal tertentu yang dijumpainya, tetapi juga mengenai realitas secara lebih mendalam. Dalam konteks ini, bertanya tidak sekadar merupakan upaya untuk memperoleh informasi, melainkan merupakan aktivitas akal budi yang memungkinkan manusia mengembangkan pemahaman dan menghasilkan pengetahuan. 


Aktivitas bertanya memperlihatkan adanya dua keadaan dalam diri manusia sebagai subjek yang mengetahui. Di satu sisi, manusia telah memiliki pengetahuan tertentu mengenai sesuatu; namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa pengetahuan tersebut belum mencakup keseluruhan realitas yang ingin dipahaminya. Kesadaran akan keterbatasan pengetahuan inilah yang kemudian membangkitkan keinginan untuk mengetahui lebih jauh. Dengan demikian, manusia tidak berhenti pada pengetahuan yang telah dimilikinya, tetapi terus mempertanyakan, menguji, dan memperluas pemahamannya terhadap berbagai hal yang belum diketahuinya. Sikap tersebut menunjukkan bahwa proses memperoleh pengetahuan senantiasa berkaitan dengan kesadaran akan apa yang telah diketahui sekaligus kesadaran mengenai apa yang belum diketahui. 


Dalam perspektif ini, pertanyaan menjadi salah satu pintu penting dalam proses pengetahuan. Manusia bertanya karena ia memiliki pengetahuan, tetapi pada saat yang sama menyadari adanya keterbatasan dalam pengetahuannya. Ketegangan antara “sudah mengetahui” dan “belum mengetahui” inilah yang mendorong berlangsungnya proses pencarian pengetahuan secara terus-menerus. Oleh karena itu, aktivitas mengetahui dapat dipahami sebagai suatu proses dinamis yang berawal dari kesadaran, berkembang melalui rasa ingin tahu dan pertanyaan, kemudian menghasilkan pemahaman yang terus terbuka terhadap pengetahuan baru. Pemahaman mengenai diri sendiri pun memiliki dimensi serupa, karena manusia dapat mengetahui dirinya sekaligus terus mempertanyakan dan merefleksikan siapa dirinya serta bagaimana keberadaannya dalam realitas. (Bdk. https://plato.stanford.edu/entries/self-knowledge/). 


Sejalan dengan pemikiran tersebut, sejumlah pemikir dalam tradisi filsafat memandang aktivitas “mengetahui” sebagai kegiatan manusia dalam mengungkapkan, memahami, dan menafsirkan pengalaman terhadap realitas. Aktivitas mengetahui setidaknya dapat dipahami melalui tiga dimensi yang saling berkaitan. Pertama, manusia sebagai subjek membentuk pengalaman melalui keterlibatannya dengan realitas. Dalam proses tersebut berlangsung hubungan kesadaran antara subjek dan realitas yang dihadapinya. Kedua, aktivitas mengetahui melibatkan kemampuan pikiran untuk melakukan konseptualisasi, yaitu mengolah pengalaman ke dalam konsep yang kemudian dapat diungkapkan melalui bahasa dan diskursus. Ketiga, mengetahui merupakan proses dialektis yang mempertemukan pengalaman dan konsep. Pengalaman memberikan bahan bagi pembentukan konsep, sementara konsep memungkinkan manusia memahami dan menafsirkan kembali pengalaman secara lebih mendalam.


Secara sederhana, pengetahuan dapat dipahami sebagai suatu keadaan atau status mental manusia yang berkaitan dengan keberadaan dan karakteristik suatu objek atau realitas tertentu. Status mental tersebut mencakup keyakinan atau penerimaan subjek terhadap sesuatu yang dipandang memiliki dasar dan kepastian tertentu, baik berkaitan dengan keberadaan objektifnya maupun dengan berbagai aspek yang melekat pada objek tersebut. Dengan demikian, pengetahuan tidak hanya berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, tetapi juga dengan bagaimana manusia memahami, menafsirkan, dan memberikan makna terhadap sesuatu yang diketahuinya. 


Sebagai salah satu cara manusia berada dan berhubungan dengan realitas, pengetahuan memiliki kedudukan yang fundamental dalam kehidupan manusia. Pengetahuan tidak berhenti pada wilayah pemikiran, tetapi memiliki konsekuensi terhadap cara manusia menentukan sikap dan mengambil keputusan. Konsep-konsep yang terbentuk dalam pengetahuan manusia menjadi perangkat teoretis yang membantu mengarahkan penilaian, menentukan pilihan, dan menuntun tindakan dalam berbagai situasi kehidupan. Dengan demikian, proses mengetahui memiliki hubungan erat dengan tindakan manusia karena apa yang dipahami dan diyakini seseorang dapat memengaruhi cara ia menentukan pilihan serta bertindak terhadap dirinya sendiri, sesama, dan dunia di sekitarnya (Ehaq, 2017; Sudarminta, 2002, hlm. 26). 


Dengan demikian, berbagai peristiwa yang berlangsung dalam kehidupan manusia pada tingkat tertentu tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan yang dimiliki serta sikap manusia terhadap pengetahuan tersebut. Cara seseorang memahami realitas, menerima suatu gagasan, dan menggunakan pengetahuannya akan memengaruhi cara ia menilai situasi, mengambil keputusan, dan menentukan tindakan. Bahkan, berbagai persoalan mendasar yang dihadapi manusia sepanjang sejarah dapat berkaitan dengan kerangka konseptual tertentu yang digunakan sebagai landasan dalam memahami realitas dan mengarahkan tindakan. Apa yang diyakini, dipahami, dan dijadikan pegangan oleh manusia dengan demikian memiliki konsekuensi terhadap cara manusia menjalani kehidupannya. 


Atas dasar kenyataan tersebut, filsafat pengetahuan memiliki kedudukan penting karena memberikan perhatian kritis terhadap berbagai klaim kognitif manusia, termasuk pengetahuan, gagasan, konsep, keyakinan, dan pendapat. Filsafat pengetahuan tidak sekadar mengumpulkan berbagai bentuk pengetahuan, tetapi berusaha menyelidiki dasar, batas, validitas, serta alasan yang mendasari klaim-klaim tersebut. Melalui pendekatan yang rasional, kritis, metodis, sistematis, dan mendalam, manusia diajak untuk menguji berbagai keyakinan, pengetahuan, ide, serta pandangan hidup yang selama ini menjadi dasar dalam memahami dan menjalani kehidupan. 


Dalam konteks tersebut, pengetahuan sebagai salah satu cara manusia berada memiliki hubungan yang erat dengan pembentukan cara berpikir dan cara bertindak. Studi filsafat pengetahuan dapat membangun suatu kebiasaan intelektual yang mendorong manusia untuk senantiasa memeriksa dan mengkritisi berbagai asumsi serta kerangka konseptual yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan reflektif tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi cara seseorang memahami dirinya, melihat realitas, mengambil keputusan, dan berhubungan dengan sesama. Oleh karena itu, studi mengenai pengetahuan tidak hanya memiliki nilai epistemologis, tetapi juga mengandung dimensi etis. Pengetahuan dan cara manusia memperlakukan pengetahuan tersebut pada akhirnya memiliki konsekuensi terhadap pilihan, tindakan, dan perilakunya dalam kehidupan (Ehaq, 2017).