Pentas Teater Sakata: Tarik Ulur Daya Tarik Tontonan dan Kedalaman Betutur -->
close
Pojok Seni
19 August 2026, 8/19/2026 12:05:00 AM WIB
Terbaru 2026-08-18T17:05:23Z
teaterUlasan

Pentas Teater Sakata: Tarik Ulur Daya Tarik Tontonan dan Kedalaman Betutur

Advertisement

Pentas Yang Tumbuh dan Yang tak Pernah Lahir oleh Teater Sakata

Ulasan Pentas Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah terlahir oleh Teater Sakata 

Oleh: Edy Suisno*


Tya Setiawati dan Isu-Isu Perempuan


Sejak sentuhan penyutradaraanya menghadirkan beberapa pementasan, sebutlah Tiga Perempuan, dari naskah yang ditulis Fia Suswati (2006), Ibunda, yang merupakan adaptasi Tya Setiawati dari skenario film Teguh Karya (2008), Bukit Tui, lakon yang ditulis Tya Setiawati sendiri (2010), Bunga di Comberan, yang ditulis Edy Suisno (2017) dan menyusul pementasan-pementasan berikutnya, sutradara Tya Setiawati bersama komunitas Teater Sakata Padang Panjang tampaknya masih setia menyoroti persoalan perempuan sebagai sudut pandang penting dalam setiap pementasannya. Konvergensi keperempuanan dalam teks-teks lakon yang diusung, menengarai betapa pentingnya penuangan realitas keluarga maupun sosial, di mana ‘perempuan’ adalah figur sentral yang menarik ketika ditempatkan sebagai pemantik konflik sekaligus sebagai perajut alur. 


Penuangan itu, tentu saja terkait dengan posisi perempuan, baik dalam kedudukannya di internal keluarga sendiri, maupun dalam kiprahnya di tengah lingkungan sosial, yang selalu niscaya berada dalam ketegangan ketika dihadapkan dengan hegemoni kaum laki-laki. Perempuan dalam berbagai garapan Tya Setiawati adalah ‘obyek’ yang mengalami proses marjinalisasi dan eksploitasi. Perempuan dalam refleksi estetik Tya Setiawati adalah sosok yang mengalami represi psikologis dan sosial, yang kemudian dibangkitkan secara progresif menjadi karakter yang ‘berdaya’, bahkan berkekuatan layaknya ‘pendobrak’, demi mengubah eksistensinya secara personal, atau demi kesanggupannya menjadi pionir ‘pembebasan’ dari ketidakadilan kultural dan dari konstelasi sosial yang mengabaikan kesetaraan.



Tak pelak, penempatan perempuan sebagai topik genting tersebut seringkali membuat Tya Setiawati harus bekerja keras untuk membebaskan karyanya dari afirmasi yang bisa terbaca artifisial, dan bahkan bisa mengesankan banal dan ‘partisan’. Betapapun begitu, layaklah untuk diapresiasi karena dalam kurun yang hampir menjangkau tiga dekade, Tya Setiawati tampaknya berhasil mengatasi bias-bias tersebut, bahkan secara konsisten berhasil menempatkan problem perempuan dalam setiap pementasannya tanpa harus melewatkan pentingnya kejernihan dan tanpa harus mengabaikan catatan-catatan pemanggungan yang bisa terkesan ‘emosional’. 


Pada akhirnya, yang kemudian perlu dicermati adalah: apakah isu-isu perempuan tersebut tidak berpotensi mengabaikan pencapaian (baca: penurunan) sisi-sisi artistik dan estetik, sehingga secara pengemasan visual justru berdampak pada terjadinya reduksi makna dan berujung pada terciptanya sekat-sekat yang mengurangi ‘kedalaman’? Begitupun pula: apakah pilihan artistik dan estestik yang dipilih tidak justru menjadi ‘momok’ yang membawa implikasi ‘destruktif’ terutama bagi tercapainya daya cerna penonton yang lebih efektif? 


Inilah tantangan yang sejatinya justru lebih rumit dalam perjalanan kreatif seorang seniman, yang telah menisbatkan pilihan-pilihan estetiknya sebagai bagian yang ‘sama penting’ (atau mungkin ‘tidak sepenting’) dengan muatan-muatan pesan yang hendak dibaginya. Setidaknya, sisi kreativitas inilah yang tak kalah krusial untuk dijadikan catatan penting dari Pementasan Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah terlahir, buah adaptasi Tya Setiawati dari cerpen Yetti A.KA yang berjudul Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat, tanggal 3 Agustus 20026, di Gedung Manti Menuik Ladang Tari Nan Jombang Padang.


Bobot Dramatik dan Kedalaman Pesan


Pentas Yang Tumbuh dan Yang tak Pernah Lahir oleh Teater Sakata

Secara runtut, jika cerita diurai sebagaimana alur linear dan dirunut dengan nalar ‘konvensional’ maka daya sentil yang ingin dicapai pementasan Yang Tumbuh dan Yang Tak Pernah terlahir sejatinya adalah kompleks psikologis yang diderita tokoh Minami (diperankan Ghea Nabila Athifa). Di usia pernikahannya yang sudah menginjak tiga tahun, Minami masih bulat hati untuk tidak menginginkan kehadiran seorang anak. Bagi Minami anak adalah ‘beban’ bagi ayah dan ibu, terutama mereka yang tidak siap menjadi ‘orang tua’. Keraguan Minami untuk sanggup menjadi ‘orang tua’ inilah yang menjadi pemicu. Setidaknya itulah yang kemudian menjadi biang kerunyaman rumah tangga Minami, sebagaimana yang digambarkan dalam cerpen Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat. 


Dari eksposisi itulah, komplikasi persoalanpun menemukan kerumitan karena kehadiran tokoh Lili (diperankan oleh Beby Anastasya). Lili yang bertemu Suami Minami (diperankan Yudhistino Ardafi) di sebuah kafe ini, akhirnya tak mampu menahan diri dari gairah saling membutuhkan sehingga perselingkuhan di antara mereka pun tak dapat dihindarkan. Tak ada ledakan kecemburuan ketika Suami Minami berterus terang dengan perselingkuhannya. Minami justru terpukul karena kehadiran anak perempuan Lyly, yang bernama Uvi (diperankan Gadis), buah hati dari pernikahan Lyly sebelumnya. Minami pun menutup diri, suaminya pun makin kalut, maka dimulailah babak baru dalam rumah tangga Minami: komunikasi dengan suaminya yang semakin beku, Suami Minami sendiri yang hidupnya semakin tak teratur, keintiman yang semakin menghilang, dan ujungnya: ambang keretakan yang terasa mengoyak.


Sampai kemudian terbongkarlah sebuah tabir: Minami membenci anak-anak karena trauma akut. Dalam sebuah monolog pendek, meletuplah jeritan dan protes Minami, betapa ia telah disetubuhi Pamannya berulang kali saat dirinya masih kanak-kanak. Itulah sebabnya ia tidak ingin di rumahnya ada anak-anak yang tumbuh dan meramaikan keluarganya. Inilah frase kreasi Tya Setyawati yang tidak ditemukan dalam cerpen. Semata karena ia tergerak untuk menajamkan klimak, sekaligus memberikan motif pada kompleks psikologis Minami agar lebih masuk akal. Hal yang juga pernah ia lakukan saat menyutradarai Ibunda. 


Di akhir cerita, Ia harus ‘mematikan’ tokoh Ibunda (yang tidak terjadi dalam film) demi menegaskan suasana kehilangan, demi memudahkan hadirnya keharuan, dan demi mendapatkan puncak alur cerita lewat kenangan mendalam pada ketulusan seorang Ibu. Sebuah kreasi yang tidak berusaha ‘menyetiai’ sumber lakon demi bobot dramatik dan tentu saja demi kedalaman pesan. 


Antara Strategi Tontonan dan Gaya Pementasan


Pentas Pentas Yang Tumbuh dan Yang tak Pernah Lahir oleh Teater Sakata

Minami, di malam itu memang dihadirkan sebagai seorang isteri yang gagal menghapus himpitan trauma masa lalu karena kekerasan seksual yang dialaminya. Tabir itulah yang diharapkan Tya Setiawati menjadi twist, menjadi penyangga dinamika dan sekaligus menjadi pemuncak dramatik dari alur cerita keseluruhan. Dan pada sebagian pengadegan, harapan sutradara tersebut memang terwujud dengan baik. Pemeran Minami tampil dengan meyakinkan. Seluruh instrumen seni perannya mampu menghadirkan sosok dan mampu menopang karakter Minami secara utuh. Begitupun dukungan pemeran Suami Minami, begitu menyatu dan konsisten dalam membangun ensambel sekaligus menyusun suasana pada setiap peristiwa di atas panggung. 


Lebih dari itu, sentuhan tangan penyutradaraan Tya Setiawati malam itu juga terwujud dengan melegakan: adegan tersusun rapi, dan bebas dari bombastisnya permainan. Sayang, Sutradara tampak kurang jeli menentukan formulasi spektakel di atas panggung. Pilihan penekanan psikologis tokoh dengan gerak justru menampilkan kontiniti dan penguatan yang tak mampu dirajut dengan maksimal. Di beberapa adegan yang lain, gerak juga memperlihatkan susunan koreografi yang belum mengesankan intensitas dan elastisitas yang ‘natural’. Alhasil, rangkaian cerita pun terasa tidak kokoh membentuk jalinan. 


Belum lagi minimalnya dialog, seolah menutup jalan lapang pada informasi awal karakter tokoh, sehingga kesinambungan adegan sebagai kesatuan yang terkait tidak terpetakan dengan runtut dan progresif. Syukurlah, alunan ilustrasi (Julyani Mai Rifa’i) telah berhasil mengeja Skenografi (Enrico Alamo) yang mampu menegaskan warna tragik. Hingga melodi-melodi yang mengalun seolah menyambung pendar-pendar menjadi rangkaian yang sanggup mengukir palung hati penonton, betapapun tidak didapatkan dan tidak terungkap dalam laku. 


Pentas Yang Tumbuh dan Yang tak Pernah Lahir oleh Teater Sakata
Pentas Yang Tumbuh dan Yang tak Pernah Lahir oleh Teater Sakata

Begitulah, malam itu Tya Setiawati berusaha memadukan akting dan gerak (tari) yang ternyata cukup berat menciptakan ‘persenyawaan’ dalam menuturkan karakter dan membangun tensi peristiwa. Sebuah gaya yang nampaknya dipilih (mungkin) karena keraguan pada formulasi well made play (padahal dialog dan peristiwanya sangat real dan ‘keseharian’). Sebuah gaya pemanggungan ‘konvensional’ yang harus dihindari karena dianggap tidak akan mampu memancarkan pukauan dan dipandang tidak akan sanggup mempertahankan ketabahan penonton untuk terus menyimak. Atau semacam bangunan kredo baru: bahwa bentuk dan gaya teatrikal akan dapat melupakan penonton pada pentingnya kedalaman. 


Mungkin juga, karena membuncahnya kata-kata, yang mengucur terus menerus, seringkali dipahami sebagai biang kebosanan. Atau kita sedang larut secara latah, bahwa hari ini ‘nilai’ hanya persoalan yang bisa dipetik secara ‘superfisial’, sehingga segala sesuatu yang menjangkau area ‘profonda’ layak dianggap tidak penting dan harus diabaikan. Betapapun begitu, medan perempuan yang selalu disetiai dan dikawal Tya Setiawati, memang akan selalu layak dicatat dan ditempatkannya sebagai tonggak.


*) Edy Suisno, Pemerhati Teater, Staf Pengajar MK Dramaturgi dan MK Penulisan Skenario, Prodi TV dan Film, ISI Padang Panjang