Advertisement
Oleh: Abi Utomo*
Tercenung, saat mendengar bahwa sains adalah komoditas utama yang perlu digencarkan dan ikut andil dalam pemajuan negara. Mungkin hal tersebut masih dapat ditoleransi, karena teknologi yang semakin lama semakin melesat jauh. Namun, kiranya ada alternatif untuk menjadikan negara dalam kategori maju di bidang lain, khususnya melalui kesenian.
Melalui buku “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca”, pembaca dapat mengategorikan buku ini sebagai rujukan penting tentang perjalanan kesenian di Indonesia . Dengan membaca buku Selvi Agnesia, pembaca seolah-olah memiliki pengalaman menonton pertunjukan teater selama 15 tahun tanpa jeda. Berbagai aktivitas komunitas, kelompok, dan seniman telah diwartakan secara dramatis berkaitan dengan proses kreativitas di atas panggung hingga balik layar.
Menariknya, buku ini tidak hanya sekadar mewartakan sebuah peristiwa panggung, melainkan juga membahas dinamika persoalan yang melekat pada diri manusia, sampai akhir hayatnya. Kecintaan terhadap bidang yang digeluti dan realitas kehidupan yang keras menjadi tantangan terberat bagi pelaku kesenian.
Kesetiaan terhadap panggung teater tanpa sadar membawa para pelaku masuk ke dalam Kawah Candradimuka. Selain masalah domestik, regulasi pemerintah terkadang menjadi masalah terbesar bagi pelaku kesenian. Dari 1980-an sampai dengan 1990-an, Teater Koma telah mengalami berbagai hambatan dari pemerintah (dijelaskan di halaman 25). Pembawaan cerita-cerita legendaris seperti Sampek Engtay dan Opera Kecoa kerap menyentil persoalan tata kelola pemerintahan, sehingga membuat mereka mewaspadai teater sebagai agen pemberontakan.
![]() |
| Pentas Sampek Engtay oleh Teater Koma |
Melongok pergerakan pelaku kesenian Indonesia seperti mengenal tubuh dan jati diri yang sepatutnya disyukuri dan dibanggakan. Bagai biografi singkat, Selvi juga menceritakan figur Melati Suryodarmo dan perjalanannya. Bagi Melati, anugerah tubuh yang diberikan oleh Tuhan tak pernah sia-sia. Spiritualitas dan kekaryaan tidak pernah terlepas dari sang pelaku. Pendalaman sebuah kekaryaan tentu menjadi peristiwa dan proses wajib dalam memberikan ruh pada sebuah karya.
Jika Indonesia adalah tubuh utuh, maka setiap jengkal bagiannya adalah anugerah yang tidak dilupakan. Berbagai kesenian dengan pelaku yang konsisten dan menyebar di seluruh Indonesia, seperti buku “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca”, merupakan bagian dari cara ikhtiar mengenali bagian tubuh atau jati diri yang sebenarnya agar tidak amnesia dan silau terhadap perkembangan yang ada di luar. Walaupun buku ini menarik dalam penyampaian ulasan reportase, pembaca perlu menafsirkan sendiri fungsi dan tujuan diterbitkannya buku ini. Karena landasannya adalah sebuah reportase dan bukan sekadar alasan personal untuk mendedikasikannya kepada orang yang berjasa, buku ini lebih pas apabila dijadikan sebagai tapak tilas sejarah kesenian pada kurun waktu tertentu. Alasan tersebut tentu sangat beralasan, mengingat para pelaku seni di dalamnya sangat layak diabadikan dalam sebuah buku.
Hampir semua pendalaman yang dilakukan oleh seniman dalam membuat karya sangat terikat dengan perjalanan laku hidup yang ketat. Spiritualitas menjadi fondasi utama sebuah karya untuk menjaga kedalaman. Faisal Komandobat merupakan seniman yang memiliki tradisi pesantren yang kuat di keluarganya. Di sisi lain, Faisal memiliki syahwat berkesenian yang cukup besar sehingga mengantarkannya menjadi figur berpengaruh. Selain sebagai penulis yang andal, Faisal merupakan seniman visual yang karyanya dipamerkan di pameran ARTJOG.
Tampaknya, Indonesia tidak jeli terhadap figur-figur yang memiliki totalitas tinggi dan dapat dijadikan instrumen untuk memajukan sektor kebudayaan. Kurun lima belas tahun terakhir, banyak seniman menunjukkan geliat berkesenian yang konsisten.
Dalam perkembangan dan pertumbuhan negara, kesenian menjadi bagian dari proses perenungan mendalam dalam mengoreksi setiap kebijakan. Di salah satu judul reportase, Afrizal Malna dalam pernyataannya mengatakan bahwa “Alangkah bodohnya sebuah kota yang hidup tanpa teater” menandakan pentingnya merawat manusia dan nilai untuk tetap jernih memandang keadaan. Tanpa meninggalkan akar tradisi, para pelaku seni mengelaborasi ide yang lebih segar dan memantik pemikiran.
Kesenian sebagai perawat akal sehat dalam buku yang ditulis oleh Selvi telah dideskripsikan dengan rinci. Berbagai isu dan peristiwa disajikan dalam sebuah pertunjukan maupun dalam galeri dan buku. Upaya Mudji Sutrisno dan Franz Magnis Suseno dalam merawat pemikiran dan kebudayaan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pencekalan dan pembatasan pertumbuhan pemikiran terjadi saat buku-buku karya Karl Marx dan nuansa komunisme dicekal. Tentu, menurut Romo Magnis, tindakan tersebut adalah bagian dari pembantaian nalar pikir. Dari peristiwa tersebut, pekuburan pemikiran telah tercipta.
Gaya pertunjukan Brechtian kerap sekali mewarnai panggung pertunjukan teater di Indonesia. Upaya memisahkan emosi dan menonjolkan daya kritis adalah tujuan dari gaya ini. Daya kritis merupakan bagian utama struktur pertunjukan. Penonton dapat menginterpretasikan dan menganalisis sebuah pertunjukan sesuai dengan konteks zamannya.
Tujuan dari kelompok teater maupun para seniman dalam berkarya adalah membangun nalar dan pikiran. Sajian seni yang membangun kesadaran akan memantik gerakan-gerakan baru sebagai agen perubahan. Itulah fungsi dari pergerakan kebudayaan sebagai kontrol sosial dan penjagaan nilai yang melekat pada manusia semestinya.
Untuk menjaga nalar dan pikiran agar tidak menjadi pekuburan, buku karya Selvi Agnesia merupakan upaya untuk memuseumkan peristiwa dan aktivitas seniman yang memiliki dedikasi tinggi. Kematian sejati bukan dari tubuh yang tidak bergerak tanpa nyawa, melainkan dari bagaimana daya pikir, rasionalitas, dan harapan terus dirawat menjadi sebuah karya yang terus segar. Karena banyak hal tersebut, buku ini layak dijadikan bagian dari pencatatan sejarah aktivitas kesenian di Indonesia.
Data Buku
- Judul : Berkesenian di Tengah Segala Cuaca
- Penulis : Selvi Agnesia
- Penerbit : JBS
- Cetakan : Pertama, Mei 2026
- Tebal : xii + 194 halaman
- Ukuran : 13 x 20 cm
- QRCBN : 62-9181-9921-663
- Harga : Rp. 85.000
*Abi Utomo lahir di Jombang. 22 Mei 1997, tepatnya di sebuah desa sederhana, Dusun Kemodo Utara Rt 003 Rw 002, Desa Dukuhmojo. Aktif berkesenian di Kelompok Alief Mojoagung sebuah kelompok teater di Jombang. Abi juga aktif menulis esai, puisi, cerpen, dan ulasan teater. Buku terbarunya adalah antologi cerpen “Cara Melepaskan Hijab”





