Teater Jiwa Jakarta Siap Membuat Penonton Menangis Berjamaah Lewat “Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna” di Empat Kota -->
close
Pojok Seni
22 June 2026, 6/22/2026 08:01:00 PM WIB
Terbaru 2026-06-22T13:01:56Z
eventteater

Teater Jiwa Jakarta Siap Membuat Penonton Menangis Berjamaah Lewat “Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna” di Empat Kota

Advertisement


Pojokseni/Jakarta - Teater Jiwa Jakarta kembali menghadirkan karya kemanusiaan yang diyakini akan mengguncang emosi penonton. Melalui pementasan monolog “Di Balik Langit Gaza: Dr. Yumna”, karya terbaru penulis dan sutradara Adipatilawe, publik akan diajak menyelami pergulatan batin seorang dokter perempuan Palestina yang berjuang mempertahankan kemanusiaan di tengah kehancuran Gaza.


Menariknya, karya ini bukanlah cerita yang sama dengan pementasan “Di Balik Langit Gaza” yang sebelumnya sukses dipentaskan di Taman Ismail Marzuki bersama Yayasan Adara Relief International. Jika pementasan sebelumnya lebih menyoroti situasi kemanusiaan Gaza secara umum, maka “dr. Yumna” merupakan cerita lanjutan yang lebih personal, lebih intim, dan lebih dalam memasuki ruang psikologis seorang tenaga medis yang hidup di Gaza.


Dalam karya terbaru ini, Adipatilawe membawa penonton masuk ke dalam dunia seorang dokter spesialis kandungan yang setiap hari bergulat dengan kelahiran dan kematian. Ia membantu bayi-bayi lahir di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan, sementara di saat yang sama harus menyaksikan kehilangan demi kehilangan yang terjadi di sekelilingnya.


Tokoh dr. Yumna merupakan representasi dari kisah nyata para tenaga medis perempuan di Gaza yang selama konflik berlangsung tetap bertugas merawat pasien dalam kondisi yang jauh dari normal. Penulisan naskah ini dilakukan melalui proses riset yang panjang dengan mengumpulkan berbagai data kemanusiaan, laporan medis, dokumentasi lapangan, hingga kesaksian para tenaga kesehatan yang bertugas di Gaza.


Dalam proses pengumpulan data dan referensi tersebut, Teater Jiwa Jakarta juga memperoleh dukungan informasi dan materi kemanusiaan dari Yayasan Adara Relief International, yang selama ini aktif mengampanyekan isu Palestina dan memberikan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza.


Menurut Adipatilawe, konflik yang dihadapi Dr. Yumna bukan lagi sekadar konflik fisik akibat perang, melainkan konflik batin yang jauh lebih menghancurkan.


> “Pada karya sebelumnya, penonton melihat Gaza dari luar. Dalam dr. Yumna, penonton diajak masuk ke dalam hati seseorang yang hidup di Gaza. Mereka akan menyaksikan bagaimana seorang dokter berusaha tetap waras ketika setiap hari berhadapan dengan kematian, kehilangan keluarga, kehilangan pasien, dan kehilangan harapan.”


Yang membuat pertunjukan ini semakin menantang adalah bentuknya yang berupa monolog tunggal, dimainkan hanya oleh satu orang aktor, yakni Firly RJ.


Selama lebih dari satu jam pertunjukan, Firly RJ dituntut untuk menghidupkan berbagai lapisan emosi, menghadirkan tokoh-tokoh yang hanya hadir melalui ingatan dan imajinasi, serta membangun dinamika permainan agar penonton terus terlibat dalam perjalanan cerita.


Tidak ada lawan main di atas panggung. Tidak ada dialog dua arah. Semua kekuatan pertunjukan bertumpu pada kemampuan seorang aktor dalam menghidupkan ruang, waktu, suasana, dan berbagai karakter yang hadir dalam kehidupan dr. Yumna.


Bagi Adipatilawe, tantangan terbesar dalam monolog bukan sekadar menghafal naskah.


“Monolog itu bukan orang berdiri lalu bicara sendirian. Monolog adalah bagaimana seorang aktor mampu membuat penonton percaya bahwa ada banyak kehidupan yang sedang terjadi di atas panggung. Karena itu Firly RJ harus memainkan berbagai lapisan emosi, ritme, energi, dan dinamika agar penonton tidak merasa monoton selama pertunjukan berlangsung.”


Kekuatan pertunjukan “Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna” tentu tidak hanya bertumpu pada kemampuan aktor tunggal di atas panggung. Di balik pertunjukan ini terdapat dukungan tim produksi yang bekerja membangun suasana dan atmosfer pertunjukan agar cerita dapat sampai ke hati penonton secara utuh.





Salah satu sosok penting dalam proses kreatif ini adalah Pak De Fattah, teaterawan senior asal Surabaya yang dipercaya sebagai Konsultan Produksi dan Artistik. Kehadiran Pak De Fattah memberikan warna tersendiri dalam pengembangan konsep pertunjukan, terutama dalam pengolahan ruang, tata cahaya, dan pendekatan artistik yang mendukung perjalanan emosional tokoh dr. Yumna.


Namun demikian, tim kreatif sepakat bahwa pertunjukan ini tidak dibangun untuk memanjakan penonton dengan kemegahan visual, dekorasi yang berlebihan, ataupun efek-efek panggung yang spektakuler. Justru sebaliknya, konsep yang dikembangkan lebih mengarah pada penciptaan suasana yang mampu menyentuh sisi terdalam kemanusiaan penonton.


Bagi Adipatilawe, kekuatan teater bukan terletak pada seberapa megah panggung yang dibangun, melainkan seberapa jauh pertunjukan mampu meninggalkan jejak batin bagi mereka yang menyaksikannya.


“Kalau kita hanya memanjakan penonton dengan artistik visual atau teknik-teknik permainan semata, sangat mungkin ketika mereka pulang, peristiwa pertunjukan itu ikut hilang. Tetapi ketika yang disentuh adalah qolbu mereka, maka cerita itu akan ikut pulang ke rumah, ikut terbawa dalam perjalanan, bahkan terus hidup dalam ingatan mereka berhari-hari setelah pertunjukan selesai.”


Karena itulah tata cahaya, tata artistik, multimedia, musik, hingga ritme permainan aktor dirancang bukan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi jembatan yang mengantarkan penonton masuk ke dalam pengalaman batin dr. Yumna.


Pendekatan inilah yang membuat pertunjukan “Di Balik Langit Gaza: dr. Yumna” lebih memilih menjadi ruang perenungan daripada sekadar tontonan. Penonton tidak diajak mengagumi kemegahan panggung, melainkan diajak merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang hidup di tengah tragedi kemanusiaan.


Karena intensitas emosi yang begitu tinggi, pertunjukan ini diperkirakan tidak hanya akan menguras energi sang aktor, tetapi juga menguras emosi para penontonnya. Bahkan dalam beberapa sesi latihan, tim produksi mengaku beberapa kali larut dalam suasana yang diciptakan oleh naskah tersebut.


> “Ini bukan pertunjukan yang nyaman untuk ditonton. Ini pertunjukan yang mengajak penonton merasakan kehilangan, ketakutan, harapan, dan cinta dalam waktu yang bersamaan. Kalau nanti ada penonton yang menangis, itu bukan karena kami sengaja membuat sedih, tetapi karena mereka sedang berhadapan dengan kenyataan yang sangat manusiawi,” ujar Adipatilawe.


Sebagai kelompok teater yang didirikan oleh Adipatilawe bersama istrinya pada tahun 2014, Teater Jiwa Jakarta dikenal konsisten menghadirkan karya-karya yang mengangkat isu sosial dan kemanusiaan melalui pendekatan teater kontemporer yang intim dan reflektif.


Melalui “Di Balik Langit Gaza: Dr. Yumna”, Teater Jiwa Jakarta berharap seni pertunjukan dapat menjadi jembatan empati antara masyarakat Indonesia dan rakyat Palestina.


Dan ketika lampu panggung mulai redup, suara Dr. Yumna perlahan menghilang, mungkin yang tersisa hanyalah kesunyian, air mata, dan kesadaran bahwa kemanusiaan tidak pernah boleh mati.


Lebih dari itu, Adipatilawe berharap setiap penonton yang keluar dari gedung pertunjukan tidak hanya membawa kesan tentang kualitas akting atau keindahan artistik panggung, tetapi membawa sesuatu yang lebih penting: empati terhadap tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung di Gaza.


Karena tujuan utama pertunjukan ini bukan membuat penonton bertepuk tangan, melainkan membuat mereka pulang dengan membawa kesadaran. Membawa empati. Dan membawa sepotong luka kemanusiaan Gaza ke dalam hati mereka masing-masing.


Tur Pementasan Monolog


“Di Balik Langit Gaza: Dr. Yumna”


  1. Surabaya 05 Juli 2026 di Gedung Sawunggaling UNESA jam 14.00 WIB
  2. Palu 11 Juli 2026 Gedung Kesenian Kota Palu
  3. Jakarta 18 Juli 2026 Gedung PPSB Jakarta Barat
  4. Solo 06 November 2026 Gedung Teater Arena Taman Budaya Jateng di Solo


  • Penulis & Sutradara: Adipatilawe
  • Pemain: Firly RJ
  • Konsultan Produksi & Artistik: Pak De Fattah
  • Produksi: Teater Jiwa Jakarta