Aura dan Ruang Aman: Tentang Rasa Takut yang Sering Kali Dianggap Biasa -->
close
Pojok Seni
01 June 2026, 6/01/2026 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2026-06-01T01:00:00Z
Ulasan

Aura dan Ruang Aman: Tentang Rasa Takut yang Sering Kali Dianggap Biasa

Advertisement
Pertunjukan Aura dan Ruang Aman


Oleh: Najiyah Maulidah


PojokSeni/Makassar - Rabu, 20 Mei 2026, Aula SMK-SMAK Makassar di Jl. Pampang Raya, Kec.Panakkukang, Kota Makassar, menjadi ruang berlangsungnya pertunjukan teater “Aura dan Ruang Aman”. Naskah yang ditulis oleh Widya Handayani dan disutradarai oleh Sabri Sahafuddin ini mengangkat keresahan yang terasa dekat dengan kehidupan banyak remaja perempuan hari ini.


Tokoh utama dalam pertunjukan ini adalah Aura, seorang siswi yang digambarkan ceria, aktif, dan terlihat baik-baik saja dari luar. Aura adalah anak tunggal dengan orang tua yang sibuk bekerja. Kasih sayang diberikan melalui berbagai fasilitas dan perhatian secara materi, tetapi di saat yang sama Aura tetap tumbuh dengan ruang emosional yang perlahan terasa kosong.


Di sekolah, Aura memiliki sahabat dekat bernama Gadisa dan Mima. Pertemanan mereka terlihat hangat seperti hubungan remaja pada umumnya. Namun cerita mulai berubah ketika Aura beberapa kali mengalami catcalling saat pulang sekolah.


Hal yang menarik dari pertunjukan ini adalah bagaimana catcalling tidak ditampilkan sekadar sebagai “gangguan biasa” yang sering dianggap sepele. Teater ini mencoba memperlihatkan bahwa pelecehan verbal bisa meninggalkan rasa takut yang nyata, bahkan ketika lingkungan sekitar menganggapnya hal yang wajar.


Aura mulai merasa tidak nyaman, takut, dan perlahan memilih memendam apa yang dirasakan. Bukan hanya karena pengalaman yang dia alami di jalan, tetapi juga karena rasa takut terhadap respons orang lain. Ada ketakutan akan dihakimi, dianggap berlebihan, atau bahkan dijadikan bahan pembicaraan.


Menurut saya, bagian ini terasa sangat dekat dengan realita banyak remaja perempuan hari ini. Sering kali korban justru lebih takut terhadap respons sosial dibanding menceritakan pengalaman yang mereka alami sendiri. Salah satu adegan yang paling terasa emosional adalah ketika Aura mencoba menunjukkan rasa takut dan ketidaknyamanannya kepada temannya. Namun respons yang didapatkan justru berupa penormalisasian. Ketakutan Aura dianggap sebagai sesuatu yang biasa terjadi.


Saat adegan itu berlangsung, suasana ruangan perlahan berubah menjadi lebih sunyi. Beberapa siswi terlihat diam menatap ke depan dengan ekspresi serius, bahkan ada yang matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya seperti ada banyak hal yang diam-diam relate dengan pengalaman atau keresahan mereka sendiri. Bagi saya, bagian itu menjadi salah satu titik paling kuat dalam pertunjukan ini. Karena terkadang luka terbesar korban bukan hanya berasal dari tindakan yang mereka alami, tetapi dari bagaimana rasa takut mereka diremehkan oleh lingkungan terdekatnya sendiri.


Teater ini juga banyak menyampaikan edukasi mengenai pentingnya peran BK di sekolah. Dalam beberapa bagian, diperlihatkan bagaimana ruang BK seharusnya menjadi tempat aman bagi siswa dan siswi untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi atau disalahkan.


Ada satu keresahan yang menurut saya cukup dekat dengan realita pelajar hari ini, yaitu ketika siswa mulai bertanya dalam dirinya sendiri: “Kalau saya cerita, apakah cerita saya benar-benar aman di ruang BK?”


Pertunjukan Aura dan Ruang Aman

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan betapa pentingnya rasa aman dalam proses pendampingan remaja. Sebab keberanian seseorang untuk berbicara sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan merespons mereka.


Selain Aura, ada juga tokoh Gadisa yang akhirnya ikut bercerita tentang pengalaman pelecehan yang pernah dialami di sekolah oleh oknum guru. Gadisa menceritakan bagaimana tubuhnya pernah disentuh dan diraba tanpa persetujuannya. Adegan itu muncul setelah Gadisa merasa ter-trigger ketika mendengar cerita Aura tentang pelecehan verbal yang dialaminya.


Di bagian ini, pertunjukan terasa semakin memperlihatkan bahwa pengalaman kekerasan sering kali meninggalkan trauma yang tidak langsung hilang begitu saja. Kadang korban terlihat biasa saja dari luar, tetapi menyimpan pengalaman yang terus membekas dalam dirinya.


Menariknya, pertunjukan ini tidak berhenti pada rasa takut dan konflik semata. Setelah Aura dan Gadisha mulai berani menyuarakan apa yang mereka alami, Mima akhirnya menyadari bahwa respons yang sebelumnya dia berikan ternyata ikut menormalisasi sesuatu yang sebenarnya tidak wajar.


Mima kemudian meminta maaf kepada Aura. Dari situ hubungan pertemanan mereka perlahan kembali membaik. Mereka mulai lebih terbuka, lebih saling mendengarkan, dan lebih percaya satu sama lain. Dalam sudut pandang psikologi sosial, dinamika yang dialami Aura sebenarnya sangat dekat dengan Teori Ekologi dari Bronfenbrenner. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku dan kondisi psikologis individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, terutama lingkungan terdekat seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan relasi sosial sehari-hari.


Hal itu terlihat jelas dalam pertunjukan ini. Ketika Aura tidak mendapatkan respons yang suportif dari orang terdekatnya, dia semakin memilih diam dan memendam rasa takutnya sendiri. Sebaliknya, ketika dia mulai didengar dan dipercaya, perlahan muncul kembali keberanian untuk berbicara.


Artinya, lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana seseorang merespons pengalaman hidupnya. Lingkungan yang aman dapat membantu individu pulih, sementara lingkungan yang suka meremehkan atau menyalahkan justru bisa membuat luka psikologis semakin dalam.

Selain membahas catcalling dan kekerasan seksual, pertunjukan ini juga mengangkat edukasi mengenai child grooming, jenis-jenis kekerasan dalam UU TPKS, serta pentingnya peran orang tua dalam membangun komunikasi yang sehat dengan anak.


Setelah pertunjukan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi publik bertajuk “Katanya Mendukung, tapi Kok Salahkan Korban?”. Tema ini terasa sangat selaras dengan isi pertunjukan yang memperlihatkan bagaimana korban kekerasan sering kali justru dihadapkan pada penghakiman dan penormalisasian dari lingkungan sekitar.


Dalam sesi diskusi, terlihat antusiasme peserta dari beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dua siswi, satu guru BK, dan satu siswa. Diskusi berlangsung cukup reflektif dan terasa membuka ruang bagi peserta untuk mulai membicarakan hal-hal yang selama ini mungkin sulit mereka ceritakan.


Pada akhirnya, “Aura dan Ruang Aman” bukan hanya tentang satu tokoh di atas panggung. Pertunjukan ini terasa seperti cerita tentang banyak remaja perempuan yang mungkin pernah merasa takut, memilih diam, atau merasa suaranya tidak cukup aman untuk didengar.


Dan mungkin, salah satu hal paling penting yang coba disampaikan lewat pertunjukan ini adalah bahwa rasa takut korban tidak seharusnya diremehkan, apalagi dinormalisasi. Karena terkadang, hal yang paling dibutuhkan seseorang bukan hanya solusi, tetapi keyakinan bahwa mereka didengar tanpa dihakimi.


Makassar, 23 Mei 2026