Sambut Hari Teater Sedunia 2024: Catatan Rudolf Puspa -->
close
Pojok Seni
02 April 2024, 4/02/2024 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2024-04-02T01:00:00Z
ArtikelUlasan

Sambut Hari Teater Sedunia 2024: Catatan Rudolf Puspa

Advertisement
Teater Keliling


Pojok Seni - Tahun 1962 International Theatre Institut menetapkan 27 Maret sebagai hari teater sedunia. Maka hari ini sudah berjalan sepanjang 62 tahun diperingati komunitas2 teater yang ada di dunia. Tentu saja bentuk peringatannya berbeda-beda.  Namun bisa dikatakan tiap tahun semakin banyak yang menyelenggarakan upacara peringatan; terutama komunitas2 teater.


Tahun ini ITI masih mengusung  tema besar yang sangat menyentuh cita rasa berkesenian teater yakni: “THEATRE AND A CULTURE OF PEACE”. Teater dan budaya damai. Sebuah tema yang merupakan tangkapan batin terhadap suasana dunia yang sedang tidak baik baik saja. Dalam hal ini ITI melihat berdasar terjadinya perang yang tentu bukan hanya Israel dan Hamas di Gaza namun juga dilain tempat. 


Damai adalah suasana hidup bersama yang aman nyaman antar manusia dimanapun berada. Sementara perang akan selalu merusak kedamaian. Untuk itu ITI sebagai induk komunitas teater se dunia menyerukan agar para pelaku teater berkontribusi melalui kegiatan teater yang menyiratkan keadaan kedamaian dunia.  Sepertinya melalui cerita apa saja hal ini dapat diselipkan dan salah satu kehebatan seni teater adalah adanya ruang kosong yang bisa dimasukkan pesan kedamaian.


Di dalam negeri peringatan untuk hari teater se dunia juga ada walau masih kurang bergaung menjamah keseluruh negeri terutama masyarakat diluar kelompok2 teater. Tercatat yang aku kebetulan sering ikut mengisi pementasan yakni peringatan dengan nama SalaHatedu sudah berlangsung hingga 12 kali di Solo yang diselenggarakan oleh Omah Kreatif Arturah yang didukung Taman Budaya Jawa Tengah yang ada di Solo. Dengan dana yang minimalis toh mampu membuat acara yang cukup meriah. Bukan hanya kelompok teater dari Solo namun dari luar kota juga hadir dengan biaya sendiri. Selama 12 tahun perayaan besar dilakukan secara mandiri oleh grup2 dalam hal pendanaan. 


Bila bicara menyinggung pendanaan tentu akan menimbulkan rasa kecewa dan buntutnya menyalahkan pemerintah. Namun demikian perayaan bisa jalan sendiri dengan banting keringat mencari dana. Walau begitu tidak salah jika ada harapan suatu ketika ada perhelatan besar yang bersifat nasional yang dapat mewujutkan salah satu cita2 yang termaktub dalam undang undang pemajuan kebudayaan dimana pemerintah adalah fasilitator sehingga seniman sebagai pelaku dapat terselamatkan kehidupan sehari2nya dari hasil karyanya.


Seni teater masih tercatat sebagai salah satu bentuk kesenian yang timbul tenggelam baik secara nasional maupun lokal. Dalam hal ini terlihat dari daya tahan seniman teater dan perhatian pejabat kebudayaan. Sayang sekali bila melihat tingkat pejabat sering hanya bisa bergumam bahwa perhatian muncul ketika memiliki rasa suka atau tidak. Tidak mengherankan jika katakanlah sebagai contoh taman budaya yang hampir di tiap propinsi ada kehidupan salah satu seni yakni teater merem melek; tergantung pemimpin taman budaya. Bagi seniman teater yang menyadari hal tersebut akan mampu ambil langkah siap berubah mengikuti suasana kepemimpinan. Memang sangat berat jika ada perubahan pemimpin yang kebetulan tidak biasa menangani seni teater dan lebih memilih pasrah saja atau tidak mau belajar.


Namun juga tidak bisa dinafikan bahwa kehidupan seni teater juga terpulang kepada para pelaku seni teater yang ada.  Logikanya jika memang punya rasa cinta pada pilihan misalnya seni teater tentu saja akan ada upaya sekuat tenaganya tanpa berhitung untung rugi untuk merawat dan menghasilkan karya. Boleh saja merasa bahwa teater beda dengan seni2 lain yang bisa dilakukan sendiri seperti puisi, cerpen, novel, seni rupa misalnya. Namun demikian saya selaku pelaku seni teater menyatakan bahwa ketika memilih teater sebagai profesi maka harus siap menjalani risiko hingga yang paling pahit. Perlu menyadari bahwa seni teater masih dalam suasana kebatinan puluhan tahun berada dalam kesepian karena kemiskinan. Miskin penulis cerita, kritikus, sutradara,aktor aktris dan sederet pelaku artistiknya apalagi produser yang merupakan tulang punggung kehidupan produksi seni teater. 


Namun lima tahun belakangan ini terutama di Jakarta yang bukan ibukota lagi telah hidup kebangkitan teater yang umumnya dikelola anak2 muda milenial hingga genZ dan alpha. Jika mengikuti mereka maka akan tampak perbedaan besar antara para pendahulu seniman teater dengan mereka. Yang cukup memprihatinkan bahwa mereka nekat memberanikan diri bangkit sendiri karena merasa tidak sesuai kebebasan berkaryanya. Mereka merasa ada keharusan mengikuti apa kata senior. Seolah2 senior adalah yang paling benar. Oleh karenanya mereka mulai meninggalkan senior dan bergerak sendiri dengan apa yang diyakini.  Hal ini perlu mendapat perhatian dan sikap baru bagi kita yang merasa senior untuk mendengar dan melihat mereka. Dengan rendah hati kita akan bisa melihat bahwa sedang terjadi arus perubahan dalam melihat teater masa kini.  Dan ini terjadi hampir diseluruh dunia. 


Di Jakarta khususnya sedang musim tumbuhnya drama musikal. Karena teman2 muda tidak atau belum menyadari bahwa sejarah panjang teater tradisional nusantara juga kuat unsur musikalnya maka mereka berkiblat ke barat, terutama musikal teater Brodway yang ada di New York. Musikal Broadway dimaksud teater yang berkapasitas 500 kursi keatas dan hampir sepanjang cerita dilakukan dengan menyanyi. Sangat inklusif sehingga berharga tiket mahal. Dan sebelum menjadi pemain disana maka sering harus terlebih dahulu masuk ke musikal  “Off Broadway” dimana disana banyak dilakukan experimen teater musikal. Gedung hanya berkapasitas 100-500 kursi.  Sering yang justru menyukai tontonan yang penuh experimen kesenimanan teater memadati pertunjukkan off Broadway.


Nusantara yang sangat kaya dengan teater tradisional jika dipelajari maka sangat kuat bisa disebut teater musikal. Unsur yang selalu ada adalah dialog, musik, nyanyi, tari. Jika para pakar seni teater mau melihat dan mempelajari maka akan bisa mengangkatnya keatas yang bahkan mungkin bisa bersaing dengan Broadway. Namun lagi lagi kesadaran akan kebudayaan khusus kesenian masih belum dibangun jalan mulus menuju kesana untuk membuka semak belukar yang menutupinya. Padahal jika dipelajari justru hampir setiap tontonan seni teater tradisi nusantara kuat membawa pesan2 moral yang tinggi.  Disana terasa ada bakat, semangat dan kecerdasan yang tinggi. Maka nilai2 budaya, peradaban, intelektualitas cukup menjadi acuan pelajaran bagi langkah pendidikan karakter penonton dan tanpa disadari akan mempengaruhi kehiduoan berbangsa dan bernegara. 


Begitu dahsyatnya gerak nyawa seni teater bagi melihat, mempelajari, menata serta merawat dan mengembangkan peradaban manusia di bumi nusantara. Bangga menjadi pelaku teater seharusnya walau sering harus meneteskan air mata hati menjalani perjalanan yang “sepi” . Bisa dihitung tak melenbihi jumlah kedua jari tangan dan kaki menemukan seniman teater yang berani berkubang di sawah kesepian menahun untuk melahirkan karya2 tiada henti. Namun seperti Chairil Anwar yang berjiwa petarung maka bersyukurlah masih ada yang berteriak lantang “tak perlu sedu sedan itu”. Dengan demikian mampu fokus untuk terus berkarya dengan kesadaran baru bahwa kaum milenial hingga genZ dan seterusnya sedang ada dan siap ikut berkiprah hari ini di lembah pacuan musikal teater. Terbukti setiap ada audisi yang mendaftar ribuan anak muda. Bravo teman2 milenial dan seterusnya.


Selamat 62 tahun teater sedunia 27 Maret 2024.


Jakarta 28 Maret 2024.

Rudolf Puspa

pusparudolf29@gmail.com 

Ads