Monolog Soal Ideologi yang Banyak Ular -->
close
Pojok Seni
07 February 2024, 2/07/2024 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2024-02-07T01:00:00Z
teater

Monolog Soal Ideologi yang Banyak Ular

Advertisement

Joind Bayuwinanda dalam pentas monolog yang berjudul  Ular di Meja Revolusi karya Ahda Imran di Auditorium Indraja, Jakarta, pada tanggal 4-9 Februari 2024.

Oleh  Zackir L Makmur*


Tan Malaka, seorang ideolog dan pemikir besar bangsa Indonesia, hadir di Auditorium Indraja, Jakarta, pada tanggal 4-9 Februari 2024. Kehadiran Tan Malaka ini lewat tubuh aktor kenamaan Joind Bayuwinanda, dalam penampilan pentas monolog yang berjudul  Ular di Meja Revolusi karya Ahda Imran dan sutradara Joind Bayuwinanda.


Pentas hasil produksi Sindikat Aktor Jakarta ini begitu mengiris-iris psikologis. Juga, semacam menghadirkan jejak sejarah penuh kepedihan. Sekaligus dari sini menyuguhkan ide yang keras lewat diksi ini: "Tuan rumah takkan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya."


Maka pentas monolog yang dibawakan Joind Bayuwinanda –aktor kawakan dari Jakarta Barat—ini pun bukan saja menjelmakan Tan Malaka sebagai bentuk identitas, melainkan lebih jauh: identitas arah suatu bangsa. 


Tan Malaka, dikenal sebagai Sutan Ibrahim, adalah sosok kunci dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Darinya, identitas arah suatu bangsa begitu tandas. Sebutlah dari sini antara lain terlihat pada buku karyanya berjudul "Naar de Republiek Indonesia" (1925). 


Pengaruh Besar Tan Malaka 


Buku "Naar de Republiek Indonesia" (1925), yang kemudian dialihbahasakan menjadi "Menuju Republik Indonesia" oleh Yayasan Massa pada tahun 1987, mencerminkan pengaruh besar Tan Malaka dalam pembentukan konsep "Negara Indonesia". 


"Menuju Republik Indonesia" ini tidak hanya menguraikan gagasan-gagasan tentang negara Indonesia, tetapi juga menginspirasi pemikiran para pemimpin proklamator seperti Soekarno dan Hatta, Sjahrir, dan para pendiri bangsa lainnya. 


Pengaruhnya begitu signifikan, sehingga Mohammad Yamin memberikan gelar "Bapak Republik Indonesia" kepada Tan Malaka atas kontribusinya yang luar biasa dalam pembentukan negara. Kontribusi Tan Malaka dalam menciptakan konsep "Negara Indonesia" juga terletak pada visinya tentang kesatuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. 


Dalam pentas monolog yang dibawakan Joind Bayuwinanda, yang naskahnya ditulis Ahda Imran terungkapkan pula betapa Tan Malaka menguraikan strategi perjuangan untuk mencapai kemerdekaan –termasuk pentingnya peran massa dalam revolusi, dan perlunya persatuan nasional dalam menghadapi penjajahan. 


Sayangnya, Ahda Imran tidak telaten dan tidak tekun mengurai pelan-pelan pandangan Tan Malaka. Sehingga pandangan Tan Malaka tentang perjuangan perjuangan revolusioner, dan pembangunan negara yang merdeka, tidak disertakan landasan teoritis gerakan nasionalis Indonesia.


Padahal pengaruh Tan Malaka begitu besar, yang saking berpengaruhnya bisa membentuk pemikiran politik bangsa Indonesia pada masa itu. Gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya tidak hanya memengaruhi gerakan kemerdekaan di Indonesia, tetapi juga memberikan kontribusi besar bagi perkembangan pemikiran politik di tingkat internasional.


Visi Pemikir Revolusioner


Tan Malaka, seorang pemikir revolusioner, memperjuangkan visi sosialisme yang bersifat internasionalis dan anti-kolonial. Tan Malaka juga mengembangkan konsep-konsepnya sendiri yang unik. Salah satu konsep sentral dalam pemikirannya adalah "Kepentingan Khusus", yang menyoroti peran kelas-kelas dalam dinamika sosial.


Justru apa yang dimaksud “Kepentingan Khusus” tidak terbaca dalam representasi monolog tersebut. Sehingga penampilan Joind Bayuwinanda yang begitu ekspresif seorang pemikir revolusioner, tidak berbunyi. Tidak merepresentasikan sebuah pandangan dan pemahaman tentang kepentingan kelas dalam masa revolusi, karena tidak disediakan teks-teks ke konteks.


Sesungguhnya dalam masa kini apa yang dimaksud dengan “Kepentingan Khusus” ciri khas Tan Malaka, sangat asyik diperbincangkan karena mengajak penjelajahan ide-ide besar dan tajam. Sayangnya, Ahda Imran, penulis lakon, sudah terjerembab kelelahan menyortir ide-ide besar Tan Malaka. 


Dengan begitu melalui konsep “Kepentingan Khusus,” Tan Malaka yang mengaitkan dinamika kelas dengan struktur global yang didasarkan pada eksploitasi kapitalis dan dominasi kolonial, tidak terbaca pada pementasan tersebut.


Meski begitu apa yang menjadi pemikiran Tan Malaka yang juga membawa implikasi dalam strategi revolusioner, tersampaikan pula. Di sini akting Join begitu memukau, ditambah lagi musik yang digarap Billy begitu berdinamik. Sehingga penuturan revolusi bukan hanya tentang penggulingan rezim politik yang ada, tetapi juga tentang transformasi mendalam dalam struktur sosial dan ekonomi, cukup jitu tersampaikan.


Pentas monolog ini, pada akhirnya memperjelas bahwa warisan Tan Malaka sebagai seorang pemikir revolusioner terus diakui dunia internasional. Pemikirannya memberikan fondasi teoritis bagi gerakan perjuangan dan memberikan inspirasi bagi generasi-generasi selanjutnya dalam memperjuangkan keadilan sosial, ekonomi, dan politik. 


Dengan demikian, karya dan pemikiran Tan Malaka tetap relevan dan menjadi panduan bagi mereka yang memperjuangkan perubahan positif dalam masyarakat. 


*Zackir L Makmur, pemerhati masalah sosial kemasyarakatan, Anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL), aktif di IKAL Strategic Center (ISC), serta menulis beberapa buku antara lain buku fiksi “78 Puisi Filsafat Harapan: Percakapan Kaboro dan dan Kinawa” dan buku non fiksi “Manusia Dibedakan Demi Politik”.


Ads