Musik Kolintang dan Aransemen Musik Populer -->
close
Pojok Seni
21 August 2023, 8/21/2023 08:00:00 AM WIB
Terbaru 2023-08-21T01:00:00Z
ArtikelSeni

Musik Kolintang dan Aransemen Musik Populer

Advertisement
Ferdinand A Soputan
Ferdinand A Soputan

Oleh: Ferdinand A. Soputan, M. Sn. (Founder FS Ansambel Jakarta, Seniman, Alumnus Institut Kesenian Jakarta)


Sejatinya artikel ini sudah penulis publikasikan dalam jurnal Urban Institut Kesenian Jakarta, Volume 4 No. 1 April 2020. Namun demikian tulisan berikut ini merupakan ringkasan yang penulis anggap menjadi panduan dalam mengaransemen musik untuk dipraktekkan dalam musik kolintang.


Musik berperan penting dalam mengungkapkan perasaan atau menyampaikan pesan. Pada beberapa abad yang lalu, teknologi terkait musik telah berkembang begitu luar biasa dan semakin berkembang ketika memasuki Abad ke-21. Bersama kemajuan teknologi yang luar biasa saat ini, cara kita mendengarkan musik sudah sangat berbeda. Musik dalam genre apa pun dapat langsung kita akses di platform YouTube. Industri musik melibatkan sejumlah profesi kreatif agar tercipta musik yang akan disukai banyak orang. 


Kita pun mengetahui bahwa perkembangan musik dan segala aspeknya, posisi musik tradisional tampak sepintas diabaikan/termarginalkan, demikian penulis membahasakannya. Oleh karena itu, para seniman harus terus menjaga musik tradisional ini, dengan melakukan berbagai upaya agar genre ini tetap disukai. 


Musik kolintang yang dari Minahasa, adalah alat musik yang menyerupai alat musik perkusi, seperti Bonang, kromong kethuk, tromping/terompong, rejong, talempong, chalempung, caklempong/caklempung. Kendati merupakan alat musik perkusi, tapi musik kolintang adalah alat musik perkusi kayu yang bernada. (Sumolang, dkk., 2018). Dalam perjalanan waktu yang beriringan dengan majunya musik pada umumnya, tampak bahwa musik tradisional belum mengambil peran sebagaimana musik pada umumnya. Musik tradisional mengalami semacam kelesuan, atau bisa dikatakan jalan di tempat. Hal ini tentu ada sebabnya. Mengapa musik kolintang tidak begitu menarik bagi kebanyakan orang? (Loho, 2017: 21). 


Salah satu alasan musik tradisional Minahasa ini menjadi tidak menarik adalah karena aransemen lagu-lagu kolintang tidak mengikuti perkembangan zaman. Selama ini yang ada adalah aransemen standar saja. Melihat kondisi musik kolintang yang seperti ini, penelitian ini akan mencoba melihat bagaimana aransemen musik kolintang yang ada sampai sekarang ini. Telah sangat umum diketahui bahwa aransemsen menunjuk kepada adaptasi musik. Kadang juga dipahami sebagai transkripsi yang berarti penulisan ulang untuk media yang sama tapi gaya yang lebih mudah.  (The Concise Oxford Dictionary of Music, 2000). 


Dalam meng-aransemen musik kolintang, terdapat apa yang penulis sebutkan sebagai aransemen standar. Aransemen standar dipahami sebagai seleksi atau adaptasi bagian-bagian komposisi, agar sesuai pertunjukan dengan suara atau instrumen yang dirancang di bagian awal. Meskipun sangat sering melibatkan perubahan dalam mengaransemen sebagaimana mestinya. Sedangkan aransemen progresif adalah aransemen yang mengabdi kepada progresif akor, seperti akor major 7, tetapi dalam lingkup nada dasar yang dimainkan. (Bdk. Stainer & Barret, 2009: 36).


Musik kolintang juga merupakan sebuah instrumen. Instrumen dipahami sebagai Seni yang menggunakan beberapa alat musik kombinasi atau berarti pula sebagai gaya instrumen orkestra dengan tujuan untuk produksi sebuah efek khusus dari sebuah alat musik, sebagai contoh orkestra. Pola penggarapan lagu yang mengacu pada bentuk aransemen biasanya menggunakan pola garap intro, interlude, dan coda. Intro merupakan pengawalan lagu masuk, kebanyakan dari intro berupa instrumen yang not-notnya diambil dari bagian lagu tersebut. Adapun intro berarti pembukaan sebelum mulai lagu. Lagu adalah nyanyian melodi pokok atau juga berarti karya musik. Karya musik untuk dinyanyikan atau dimainkan dengan pola dan bentuk tertentu. (Pono Banoe, 2003: 223).


Maka dari itu, aransemen musik kolintang juga harus mengabdi kepada akor-akor yang tidak sebagaimana munculnya, yakni hanya menggunakan tiga sampai lima akor. Aransemen musik kolintang sangat terbuka kepada progresif akor lainnya, sebagaimana musik pada umumnya. Kendati begitu, keterbukaan musik kolintang untuk menggunakan aransemen yang progresif inilah juga sebuah kekayaan yang mungkin saja tidak ada pada musik-musik lainnya. Oleh karena itu, kita perlu memahami bahwa musik kolintang itu bukan hanya bersifat tradisional, namun dari ketradisionalannya, terkandung keterbukaan seluas-luasnya untuk bisa memainkan aransemen yang masuk kategori modern.*** 


DAFTAR PUSTAKA


  1. Abdul Wachid B.S. “Hermeneutika Sebagai Sistem Interpretasi Paul Ricoeur dalam Memahami Teks-Teks Seni.” Imaji, Vol.4, No.2, Agustus 2006: 198 – 209.  
  2. Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta. Kanisius.
  3. Darma Putra, Irdhan Epria, Laporan Karya Aransemen Musik "Cintaku", Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, 2013.
  4. Loho, Ambrosius. 2019. Estetika Musik Kolintang. Ponorogo-Jawa Timur, Penerbit Reativ Publisher.
  5. Loho, Ambrosius. 2017. Kolintang dan Kebudayaan: Antara Tradisi & Modernitas. Jakarta: Veritas Dharma Satya Publishing. 
  6. John, Stainer., and William Barret. 2009. A Dictionary of Musical Terms. New York: Cambridge University Press.
  7. Rumengan, Perry. 2017. Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa: Kajian Komprehensif tentang Sejarah Lahir dan Perkembangan Masa Kini. Yogyakarta: Penerbit KEPEL Press. 
  8. Sumantri, Raharjo. 2011. Komodifikasi Budaya Lokal dalam Televisi, Tesis Universitas Sebelas Maret. 
  9. Sumolang, Steven, dkk. 2019. Persebaran Musik Kolintang di Minahasa, (Yogyakarta: Amara Books.
  10. Yensharti. 1997. Penggarapan Aransemen Kwintet Flute dan Gesek Lagu Gginyang Mak Taci Ciptaan Nuskan Syarif dengan Adaptasi Materi Musik Tradisional Minangkabau. Skripsi ISI Yogyakarta.
  11. 2000. The Concise Oxford Dictionary of Music, Oxford University Press.

Ads