Pandemi Telah Melandai: Ruang Berkarya pun Tersedia Kembali -->
close
Pojok Seni
10 January 2022, 1/10/2022 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2022-01-10T00:00:00Z
Artikelteater

Pandemi Telah Melandai: Ruang Berkarya pun Tersedia Kembali

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa

Pandemi sudah melandai dengan usaha keras selama setahun terakhir ini mengatasi bencana internasional covid19. Dengan demikian dalam menghadapi gelombang ketiga melalui varian omicron tampak pemerintah cukup sigap menghadapinya. Tentu diperlukan dukungan kuat rakyat yang hanya diminta disiplin menjalankan aturan prokes. Dalam kesempatan ini saya ucapkan salut kepada teman2 seniman khususnya teater yang telah menerima dan menjalani secara ikhlas “pertapaan” agung selama setahun dalam kegiatan teater. 

Tahun 2022 telah hadir dan terasa pandemi sudah melandai dan pemerintah dengan hati-hati berani mempersilahkan kegiatan rakyat sehari-hari kembali dijalani dengan tetap disiplin melaksanakan prokes. Itulah kehidupan tatanan baru yang harus disadari dan tak perlu diperdebatkan; apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Dalam hal ini kegiatan berkesenian juga mulai hidup kembali, keluar dari sarang “pertapaan” agungnya. Pertunjukkan seni sudah mulai digelar, Gedung film sudah mulai memutar film dan tentu tetap pakai masker dan jaga jarak. Jika banyak orang muda nonton film di malam minggu adalah selain nonton ceritanya juga sambil menikmati indahnya pacaran maka untuk sementara harus berjarak. Menikmati pacaran dengan duduk berjarak tentu bisa ditemukan karena bisa dilakukan persinggungan dari hati ke hati.

Seni pertunjukkan yang saya alami yakni teater sudah lama selalu dikatakan adalah merupakan bentuk pertemuan dari hati ke hati antara pemain dan penonton. Barangkali karena teater yang dilihat adalah manusia senyatanya dan film nonton gambar. Orang dulu menyebutnya gambar hidup karena gambarnya bisa bergerak, bicara dan sebagainya. Kini seniman teater mulai bangkit kembali dalam kehidupan baru  yakni berkarya sambil menyadari dikelilingi para covid19 yang tak bisa dilihat secara langsung dengan mata telanjang. Maka masker menjadi andalan utama karena covid19 dan turunannya hanya masuk ke tubuh lewat mulut, hidung dan mata. Jika menempel di tangan atau tubuh dengan cepat akan mati kena sabun, maka dianjurkan sering cuci tangan. Maka andalan kedua kemana2 bawa hand sanitizer sehingga usai salaman dengan orang lain atau pegang barang bisa segera semprotkan air pembersih kuman. Orang tidak akan tersinggung karena ini merupakan kebijakan bersama. Saling menjaga kesehatan dan itu adalah merupakan satu kegiatan yang masuk kategori “gotong royong”.  

Sebelum pertunjukkan bahkan sejak latihan ada kewajiban untuk selalu swab untuk mengetahui bebas covid19 atau tidak. Kini pun sudah ada aplikasi peduli lindungi sehingga mempermudah pengawasan ketika akan bertemu banyak orang di tempat2 terbuka untuk umum seperti mall, pasar, pabrik, berkendaraan jarak jauh seperti pesawat terbang, kereta api, kapal laut. Jika perjalanan dari luar negeri harus menjalani karantina bahkan kini tidak ada lagi diskresi atau pengecualian. Semua harus taat aturan karena lagi-lagi adalah untuk semakin terbiasa saling menjaga kesehatan. 

Memang harus berani mengakui bahwa masih ada sebagian masyarakat yang entah apa alasannya sering lupa menggunakan masker di jalanan atau di tempat2 umum. Ini penyakit lama yang masih sulit hilang yakni kebiasaan mengikuti aturan jika ada pengawasan. Dengan semakin berkurangnya polisi, TNI, satpol berada di jalanan untuk mengawasi maka disiplin pun kendor. Ini urusan karakter yang sejak awal memerintah bapak presiden menyatakan perlunya revolusi mental.

Sebagai seniman teater pasti selain mencari kebahagiaan bermain di panggung juga memikirkan untuk membagi kepada penonton. Karena teater adalah hasil kerja kolektif tentu penonton juga masuk ke lingkaran pelaku teater. Mereka adalah bagian dari terjadinya teater. Penonton dan pemain saling membutuhkan sehingga ajaran lama masih harus dibawa terus menerus yakni “peduli dan berbagi”.   Jika kini kehidupan baru ada yang disebut peduli lindungi maka tidak salah juga kehidupan teater membawa tatanan baru yakni peduli lindungi dan berbagi lindungi.  Kepedulian terhadap penonton termasuk kesiapan pemain sejak awal produksi. Apapun yang dilakukan di panggung adalah dialamatkan kepada penonton. Apapun yang dibawa pemain melalui rasa, emosi, expresi, secara sadar harusn dibagi ke penonton.  Maka kedua belah pihak yakni pemain dan penonton merasa dilindungi karena adanya saling peduli dan berbagi.

Seniman teater dituntut untuk mampu meramu hidangan panggung yang membawa tatanan baru yang menarik. Tetap terasa sentuhan getaran rasa yang membangkitkan getaran rasa penikmatnya. Panggung dengan penonton memang selalu ada jarak secara lahiriah sehingga tak menjadi soal. Namun antar pemain di panggung tentu menjadi tantangan tersendiri untuk menciptakan movement, bloking yang jaga jarak tercapai namun terlihat keindahannya. Terlebih bila pemain sudah memberanikan diri tanpa masker ketika in action. Seharusnya hal hal yang merupakan sebuah perubahan di dalam teater sudah bukan hal baru lagi. Bukankah kita mengenal bahwa “irama” yang merupakan kekuatan utama sebuah pertunjukkan berarti perubahan yang terjadi dari saat ke saat sejak awal hingga akhir. Jadi aktor dapat diyakini memiliki kemampuan untuk tiap saat mampu berubah bahkan dalam hitungan detik. 

Pandemi sudah melandai dan ruang berkarya pun tersedia kembali. Pertapaan agung setahun tentu telah terkumpul aneka ragam asupan dari sekitar hingga yang bersifat nasional bahkan internasional. Dalam pertapaan agung setahun pastilah daya kreatifitas terasa semakin tajam kuat dan sangat meluas pancarannya.  Mengasah hati, rasa, pikiran menjadi sebuah kegiatan  inovatif, exploratif yang akan menemukan berbagai bahan2 untuk berkarya. Kekuatan daya kreatifitas akan menghasilkan karya yang selalu baru walau tidak tertutup kemungkinan temanya masih sama. Misalnya bicara tentang “bahagia” maka tidak akan selesai dengan satu karya karena bisa dipandang dari berbagai sudut. Maka lahirlah sebuah karya panggung yang selalu berubah bentuk atau gaya dalam tatanan artistiknya.

Seperti sikap dalam ketentaraan yakni “ikuti sungai yang mengalir” maka pekerja teater pun rasanya juga telah memiliki sikap yang sama dan dengan melandainya pandemi tentu  siap untuk mengikuti sungai yang mengalir dengan tatanan baru karena yang dibawa aliran sungai mungkin akan banyak berubah. Yang tetap barangkali adalah mengalir selalu mengarah ke tempat yang menurun atau landai. Jikapun ada batu penghalang maka akan menumpuk di depannya sehingga meninggi dan bisa melompatinya. Bahkan sering dikatakan sekeras apapun dinding batu lama kelamaan akan tergerus juga oleh air yang mengalir tiada henti menabraknya. Lihat saja belokkan sungai makin lama makin meluas karena dinding dibelokkan tersebut tergerus jalannya air mengalir. Dalam diam bekerja tiada henti maka dalam diam akan menghasilkan karya yang hebat, dahsyat, mantul, mantap, sukses yang bukan sekedar ucapan tong kosong bunyinya nyaring belaka. 

Tahun 2022 keluar dari kawah Candradimuka membawa semangat baru, gagasan baru, pikiran baru, imajinasi baru, yang mampu mengusung dan mengolah menjadi karya musik, nyanyi, tari, sastra, puisi, teater yang menggebrak dengan kesadaran baru bahwa berkesenian tak ada matinya. Berkesenian terus bicara tentang zamannya hingga akhir zaman yang bukan kita yang menentukan. Kita hanya tau bahwa zaman selalu berubah dan bagi yang tidak mau berubah akan tertinggal dan terlupakan. 

Segala bisa asal mau. Salam jabat erat merdeka berkarya.

Cakung Jakarta 9 Januari 2022.


*Penulis adalah pendiri serta sutradara Teater Keliling Jakarta, Anda bisa menghubungi beliau lewat email: [email protected]com