Catatan Rudolf Puspa: Dari 2021 ke 2022 -->
close
Pojok Seni
31 December 2021, 12/31/2021 12:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-12-31T05:00:47Z
ArtikelOpini

Catatan Rudolf Puspa: Dari 2021 ke 2022

Advertisement



Medan laga 2021 tengah malam 31 Desember 2021 akan berakhir. Perang yang sangat miris terjadi adalah perang “peradaban”  yang berlangsung panjang. Di tengah bangsa yang dikenal di dunia sebagai bangsa yang peradabannya sangat dihormati, yang terjadi justru laku dramatis yang tidak beradab. Bangsa yang disenangi karena dikenal keramah tamahannya hingga sikap hidup “gotong royong” yang kemudian dikemas menjadi falsafah bangsa yakni Pancasila. Salah satu sila yang keempat yang mengajar bangsa mampu bermusyawarah merupakan sila yang tak ada tandingannya. Gotong royong bahkan oleh presiden Jokowi dinyatakan sebagai cara hidup yang tak ada di belahan bumi manapun. 


Catatanku menjadikan aku terbelalak sendiri karena kebanggaanku dan aku yakin juga bagi sebagian besar bangsa akan gotong royong dan daya musyawarahnya tiba-tiba tidak terasa lagi. Tiba-tiba muncul laku dramatis sebuah hymne yang sering kita dengar dengan judul “radikal”, “intoleran”.  Laku itu dipertontonkan di ruang terbuka menjadi pentas kekerasan. Beraneka wujud demo menjadi asupan sehari-hari tanpa pernah ada penyelesaian. Sepertinya mereka tidak peduli dengan apa tuntutannya tapi yang penting timbul keonaran publik di ruang publik. Ajaran palsu heroisme ditanamkan para pencuci otak untuk berani melawan aparat negara dan sepertinya ada yang dikorbankan sehingga tampak sandiwara jalanan bisa menjadi ajang penggorengan bahwa aparat telah bertindak anarkis. Jika berhasil yang akan meraup keuntungan adalah para cukong politik di belakangnya yang kita bisa merasakan namun sukar membuktikan apalagi melihat keberadaannya.


Catatan positif cukup membuat hati gembira. Melihat secara nyata di kehidupan sehari-hari tahun 2021 makin sedikit gejolak-gejolak dalam wujud demo atau berita-berita hoax atau kotbah yang isinya hanya makian hujatan kepada pejabat pemerintahan. Ini membuktikan bahwa pemerintah secara diam-diam bergerak untuk menyelesaikan gerakan-gerakan palsu yang suka menebar kebencian sehingga tujuan utamanya tercapai yakni merebut kekuasaan. Memang paling sulit tahun-tahun belakangan ini di seantero dunia yang perang rebut kekuasaan menggunakan jubah agama. Untuk itu nyata diperlukan kekuasaan untuk melawannya baik secara halus maupun bila terpaksa pakai tangan besi. Jika awalnya hanya untuk melumpuhkan namun sepertinya harus dilenyapkan.


Akhir tahun 2021 yang melewati perayaan besar yang salah satunya Natal telah berjalan mulus. Kotbah bahkan fatwa yang terdengar untuk larangan ucapkan selamat Natal tidak berpengaruh besar karena memang hanya sedikit yang masih mau melakukannya dan tidak ada tokoh besar yang punya karisma untuk mendengungkannya. Patut kita apresiasi gerakkan para intelejen negara yang secara halus meminimalisir gerakkan yang bisa berbahaya itu. Semakin percaya bahwa pemerintah memang tidak melakukan pembiaran 


Silent night, malam sunyi menjadi kidung mengiringi laku dramatis untuk tidak membiarkan para serdadu radikal merajalela melanggar undang undang yang secara kuat mampu untuk membendungnya sebelum aliran banjir bandang merusak tatanan republik yang sudah diperjuangkan kemerdekaannya dengan darah dan nyawa. Kidung sunyi memang tidak terdengar menggelegar atau menggebrak telinga namun ia menyentuh hati dengan damai sehingga hasilnya adalah kedamaian kehidupan yang semua manusia dambakan sejak kelahirannya di dunia.


Tahun 2021 selama satu tahun kita harus menerima datangya tamu yang membalikkan segala tatanan hidup untuk mau tidak mau menerima dan melakukan perubahan di segala bidang perilaku kehidupan. Covid19 yang oleh WHO dinyatakan sebagai pandemik membutuhkan dana besar untuk melawannya diseluruh dunia. Pemerintah kitapun berusaha amat sangat keras untuk menyelamatkan penduduk yang berdasarkan data Administrasi Kependudukan (Adminduk) per Juni 2021, jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 272.229.372 jiwa, dimana 137.521.557 jiwa adalah laki-laki dan 134.707.815 jiwa adalah perempuan. Bekerja tanpa punya contoh bagaimana mengatasinya karena semua negara juga sama-sama pertama kali menghadapi covid19. Vaksin merupakan salah satu cara yang harus dilakukan dan keputusan tersebut langsung dilakukan dengan memesan vaksin dari China yang sedang menciptakan dan tentu butuh waktu untuk memproduksi secara besar2an. Indonesia butuh sekian ratus juta bagi rakyatnya di vaksin. Sementara banyak negara masih pikir-pikir Indonesia berani pesan dan bayar langsung. Maka ketika vaksin jadi dan segera disuntikkan maka negara lain kebingungan karena untuk memesan tentu harus menunggu giliran. Keberanian untuk mengexekusi sebuah keputusan yang rumit tidak mudah dan untuk itu salut pada presiden kita.


Menjelang habisnya tahun 2021 muncul pula varian baru dari covid19 yakni emicron yang lebih kecil dan cepat berkembangnya. Pemerintah tanpa banyak gembar gembor langsung melakukan gerakan untuk menangkis walau juga harus menerima adanya warga yang terkena. Lagi-lagi kidung malam sunyi tidak diam dan tangkas bergerak secepatnya. Tiap saat terus didengungkan untuk tetap ikuti prokes yang paling mudah dilakukan yakni masker, cuci tangan dan hindari kerumunan. Inilah tatanan hidup baru yakni disiplin mengikuti aturan. Disiplin yang sudah menjadi penyakit menahun kini harus dipaksakan. Tidak heran jika dijalan raya banyak petugas dari dinas kesehatan, satpol pp dan TNI serta polisi mengawasi dan menegur bahkan sudah ada aturan hukumnya untuk bayar denda.  Pelan-pelan ruang2 wisata mulai dibuka, ruang belanja, ruang pertunjukkan tentu dengan tata cara hidup baru.


Tentu cerita suka duka yang banyak dukanya menjadi bahan para seniman khususnya dalam berkarya. Seniman yang diyakini memiliki kemampuan menerobos jauh kedalam pangkal berbagai persoalan serta mengolahnya hingga memiliki penawaran untuk mengatasinya kinipun ditantang berada didepan bergulat dengan tamu tak diundang ini dan menghasilkan tontonan yang berisi tuntunan hidup normal baru.  Entah berujut lukisan, cerpen,  novel, puisi, musik, teater yang secara kreatif mengemas hingga memiliki getaran dalam menggetarkan penikmatnya sehingga mendapatkan inspirasi untuk mengikuti perubahan yang terjadi. Teriakkan sang seniman tidak akan memekakkan telinga namun justru membersihkan kotoran2 yang menyumbat telinga sehingga angin segar yang ditiupkan terdengar indah dan membawanya ke alam kehidupan baru yang sejahtera lahir batin sesuai takaran masing2.


Kita ucapkan selamat tinggal 2021 dan ingat tetap membawa ajaran tatanan hidup  baru yang tidak boleh ditinggalkan. Kita bawa mengarugi lautan 2022 yang telah siap hadir dengan segala pernak perniknya yang mungkin sesuai harapan atau bisa juga warna baru yang belum pernah ada. Covid19 telah mengajar kita untuk mampu menerima perubahan dan 2022 saatnya membuktikan bahwa kita mampu. Jika meninggalkan 2021 dengan semangat kelahiran dimalam sunyi maka masuk 2022 pun akan mampu hidup beriringan dengan covid19 dalam damai karena sudah memiliki kesadaran bahwa hidup bukan untuk terus larut dalam perang peradaban. 


Sorga neraka dunia ada dalam diri. Pandai-pandailah berenang agar tidak tenggelam.


Cakung Jakarta 31 Desember 2021. 11.08

Salam jabat merdeka berkarya


*Rudolf Puspa adalah sutradara Teater Keliling, Jakarta. Untuk kontak dengan Rudolf Puspa, silahkan kirim email ke pusparudolf@gmail.com

Ads