Catatan Pamonaspati 2021: Wanci oleh Teater Peneti Gorontalo -->
close
Pojok Seni
05 November 2021, 11/05/2021 04:00:00 PM WIB
Terbaru 2021-11-05T09:00:00Z
Resensiteater

Catatan Pamonaspati 2021: Wanci oleh Teater Peneti Gorontalo

Advertisement


Oleh: Rudolf Puspa, Teater Keliling

Email: pusparudolf@gmail.com


Pentas monolog hari kedelapan dengan penampil ke sembilan hadir Teater Peneti Gorontalo membawakan karya Imas Sobariah berjudul “Wanci” dengan sutradara Doelkepleh (nama yang unik hingga merangsang harapan melihat tontonan yang unik),  dimainkan aktris Yeni Maryani Junus.


Lebih merupakan film dari monologer yang seluruh syutingnya dilakukan di pasar pinggir pantai Gorontalo. Kebetulan aku pernah menikmati pantai ini yang dari penginapan pergi pulang naik bentor (becak motor) khas Gorontalo yang nyaman dan jarang ngebut. Adem ayem tenteram ramah merupakan suasana hidup sehari2 yang kudapatkan selama satu minggu di Gorontalo dan berdampingan dengan Teater Peneti. Aku bersama Asia Ramli menjadi tamu kegiatan temu teman antar kampus se Indonesia waktu itu.


Sesuai dengan nama acara yakni parade monolog tentu aku melihat film ini sebagai sebuah pertunjukkan monolog dengan panggung pasar rakyat. Garapan yang termasuk memiliki nilai unik yang tidak mudah melakukannya. Diperlukan seorang monologer yang piawai menggarap ruang sehingga terjadi komunikasi dua arah antara pemain dan penontonnya. Hal utama ini yang kurang tergarap sehingga ruang, set prop, para pedagang, pembeli yang lalu Lalang sepertinya tidak disatukan menjadi satu lingkaran pertunjukkan teater monolog. Mungkin hal ini terjadi karena berlandaskan penggarapan syuting film yang mata kamera lebih memfokuskan pada pemeran tunggal. Namun sebaiknya kehadiran peran di pasar memiliki persinggungan dengan lingkungan pasar tersebut. Lingkungan yang tersedia akan menjadi berarti dengan adanya kontak pemain dengan benda atau orang lain yang ada di ruang yang merupakan panggung bermainnya. Sangat beruntung karena tak perlu menghadirkannya secara imajinatif.  Di sana ada ikan, ayam , sayuran, pedagang, pembeli yang lalu Lalang. Mereka yang sering melihat apa yang dilakukan pemeran tentu akan menjadi hidup dengan adanya sentuhan sang pemeran. Apalagi pemeran dibuat berjalan sejak masuk pasar hingga berakhir di tepi pantai. Betapa kayanya setting hidup yang dilalui yang akan menjadi bahan mendukung suasana batin peran yang sedang dimainkan sang aktris.


Film monolog ini mengingatkan 11 tahun lalu ketika  almarhum Radar Panca Dahana ketua Federasi teater Indonesia menggelar acara “teater monolog ruang luar” di Jakarta. Peserta festival tersebut harus membuat pertunjukkan  monolog di ruang2 publik seperti pasar, mal, taman, tempat parkir dan sebagainya. Waktu itu ada penjurian sehingga masing2 penampil bekerja menampilkan sesuatu yang beda dengan yang lain. Bagaimana pemain mampu merangkul publik cair hingga bertahan nonton menjadi salah satu penilaian yang penting. Teater keliling juga banyak melakukan pentas2 di ruang luar seperti ini dalam perjalanan kelilingnya yang mengundang segudang catatan pengalaman yang unik menarik dan menemukan bahwa sebenarnya bentuk tersebut telah ada di teater tradisi atau rakyat kita bahkan masih ada yang berlangsung. Tentu ini merupakan kegiatan yang layak untuk digali diteliti dan menjadi bahan ajar bagi pelaku teater Indonesia yang sebenarnya.


Demikianlah ketika melihat Yeni Maryani Junus mengawali monolog Wanci berada di pasar aku langsung bersiap akan melihat bagaimana kepiawaiannya bermain monolog di ruang luar dengan daya yang sangat dinamis dalam menarik sebanyak mungkin orang2 yang ada di pasar untuk bergabung menjadi bagian monolog yakni sebagai penonton. Seperti halnya teater rakyat maka akan terjadi komunikasi dan tidak tertutup kemungkinan saling menyahut seperti yang teater keliling alami setiap pentas di ruang luar, bahkan terjadi juga didalam gedung. Menurutku bukan tabu monolog bisa sampai terjadi secara alami berbincang dengan publiknya. Bukankah setiap pertunjukkan teater apapun namanya entah monolog entah duolog dan sebagainya adalah bicara dengan penontonnya, menyampaikan pesan atau cerita yang sedikit banyak tentu membutuhkan respons. Tidak masalah dibuat adegan yang terus berjalan namun tetap bicara bercerita dengan publik yang dilalui. Publik sudah tersedia disepanjang perjalanan kenapa nggak dimanfaatkan? Namun terpulang kepada sutradara untuk memilih peduli pada publik atau hanya sekedar property. Kedua pilihan sama bagusnya dan jika memang melihat ada tawaran soal ini tentu akan ada penggarapannya yang terasa pada penonton film monolog ini.


Yeni memasuki acting area sedang mencari2 Ayip yang hilang, entah hilang di pasar atau menghilang dari rumah kurang jelas. Mungkin dari rumah sehingga begitu takutnya sampai lupa tak memakai alas kaki. Yeni ibu dua orang anak bercerita tentang lingkungan dekatnya yakni mulai nenek hingga orang tuanya yang memiliki sejarah kelam hidup di lembah hitam yang menurut penilaian umum sebuah aib besar. Anaknya yang dia usahakan untuk tidak mengulang sejarah ternyata terperosok juga. Ini sebuah cerita panjang yang dipadatkan di ruang dan waktu yang sangat sempit. Kekayaan imajinasi sang aktris sangat dibutuhkan sehingga akan muncul gambar yang nyata di layar pasar sebagai ruang pertemuan germo dan asuhannya misalnya. Ruang pertemuan ibu dan anak sulung, ibu dengan banci tua yang cinta dengan anak sulungnya, ruang dialog dengan anak perempuannya yang terjerumus ke lembah hitam dan seterusnya. Barangkali dengan mengambil sudut pasar atau ditengah arena pasar akan menjadi lebih nyata imajinasi yang berubah2 tersebut. Maka akan sesuai dengan ucapan pembawa acara diawal dan akhir pertunjukkan maka film monolog ini adalah pertunjukkan yang luar biasa. Entah apa sang pembawa acara sudah nonton atau belum sehingga menopang diksi pengucapannya atau hanya sekedar membaca  teks yang sudah disediakan.


Teknik vokal perlu diperkuat dengan banyak melatih artikulasi sehingga kenal bentuk bibir untuk tiap huruf yang diucapkan dan ketika dirangkai menjadi satu kata akan memiliki diksi yang berbeda beda sesuai kebutuhan menopang emosi. Huruf mati merupakan kekuatan dan huruf hidup adalah keindahannya. Persatuan dua hal ini akan menciptakan pengucapan yang indah dan ber”bobot”.  Yang masih terasa sangat perlu disiapkan adalah teknik tertawa. Secara umum ini memang tantangan terberat bagi aktor aktris Indonesia untuk memainkannya. Tertawa itu tentu ada alasannya, motifnya sehingga perlu tawa kecil, besar bahkan terbahak2 sebagai ungkapan emosi terhadap sesuatu yang lucu karena memang komedik atau tawa kesakitan yang tentu berbeda suaranya. Bukan tertawa diujutkan karena di naskah ditulis tertawa atau ada kata ha ha ha ha…. dan sebagainya. Maka jika itu yang terjadi maka yang terdengar Yeni berdialog lalu habis kata2nya kemudian tertawa lalu berhenti dan berubah berdialog lagi. Jika mampu benar benar tertawa dengan alasan yang ada dibalik sebuah kalimat atau keadaan emosi yang menggelitik diri peran maka itulah yang terbaik. Jika tidak tentu bisa melakukan tertawa dengan teknik yang ada dalam teori acting yang bisa dipelajari.  Tentu ini “menipu”; walau bisa berhasil penonton jadi terikut tertawa. Dan tertawa aktor aktris apakah jujur atau menipu hanya sang pemainlah yang bisa tau. Pesanku cobalah lihat lagi rekaman film monolog Wanci dan perhatikan artikulasi, emosi, dan terutama saat tertawa. Lihat dan dengar dengan jujur. Nah bisa tersenyum sendiri kan?


Ada pengulangan adegan dan dialog yang sama. Terjadi gambar yang patah2 (benarkah sebutanku?) gambar mulai Yeni naik pickup hingga selesai. Aku ulang dua kali nonton adegan tersebut dan ternyata tidak berubah. Suara rekaman dialog yang berubah jauh dekatnya. Semua itu aku tak memiliki jawaban penyebabnya dikarenakan aku bukan sutradara atau teknisi penggarapan film. Jika aku juga membuat teater virtual karena diperintah oleh si covid19 hingga delta yang masih senang berada di bumi nusantara kita, maka aku serahkan hal2 yang berkitan dengan kamera, editing, reaman suara, tata cahaya, kepada ahlinya. Tentu berdiskusi dari kacamata masing2 sehingga mencapai kutub yang sama untuk kemudian melayari bersama. Kalau perlu ada sutradara film agar lebih kuat lagi. Menarik bahwa Kerjasama pekerja film dengan pelaku teater Indonesia akan melahirkan seni yang mungkin seperti yang kini sering didengungkan yakni media baru. Sebuah respons positif dengan aneka pemikiran baru seperti the new normal, normal baru yang kadang terasa absurd juga itu sebutan. Namun yang pasti memang pelaku teater Indonesia harus berani berubah entah sikap, mindset, laku dramatik, cara bekerja dan sebagainya. Jika menilik sejarah maka apa yang disebut “perubahan” adalah sudah kodrat kehidupan sejak Adam Hawa diciptakan hingga zaman generasi Z ini hingga generasi selanjutnya lagi. Bahkan sering terasa yang namanya perubahan semakin cepat dan sebagai manusia biasa hingga sebagai anak bangsa punya kewajiban berani berubah namun tetap melahirkan karya baru yang “wajar dan indah” seperti pesan almarhum Arifin C Noer yang selalu mengatakan karya seni adalah sesuatu yang wajar dan indah; tapi tidak diwajar-wajarkan atau diindah-indahkan.


Teori seni teater mengatakan bahwa irama adalah perubahan dari saat ke saat sejak awal dimulai hingga akhir. Logikanya jika kita menyetujui maka kita akan belajar hingga mampu meakukan dan bukan hanya di panggung namun dalam hidup sehari2.  Dengan demikian tidak akan gagu ketika muncul sebuah perubahan biasa hingga yang dahsyat dan mendunia seperti kedatangan Covid yang hingga tahun ini belum meninggalkan tempat dan ironisnya belum ada yang bisa memprediksi kapan berakhir. Yang bisa kita lakukan adalah taat aturan menjalankan prokes . Itu saja sudah merupakan usaha perubahan gaya hidup yang jika diikuti maka lama kelamaan menemukan kenikmatannya. Maaf melenceng sedikit dengan alasanku bahwa hal ini penting diingatkan dimanapun aku berada. Sehubungan dnegan hal ini alangkah mulianya sneiman memberi contoh mislanya peran monolog Wanci menjalankan prokes yang paling tampak yakni bermasker atau pakai face shield yang tembus pandang bahkan tak tampak nyata.  Pedagang pasar dan pembeli saja taat aturan dengan pakai masker walau ada satu dua yang lalai. Alasan artistik tentu bisa dipahami namun alasan prokes adalah disiplin taat aturan dan kesehatan masyarakat adalah sedang dinomer satukan.  Salam jabat untuk sehat bersama.

     

Disetiap catatan yang aku tulis tak henti2nya aku ingatkan bahwa aktor harus selalu memulai mempelajari peran dengan menjawab pertanyaan “apa,siapa,mengapa,kapan,dimana dan bagaimana”. Dengan demikian kita bisa melihat dan merasakan secara utuh pemain dipanggung ini siapa sedang berada di mana dan kapan lalu apa sih yang sedang terjadi pada dirinya kemudian bagaimana menyampaikan. Mungkin di naskah tak ditulis umur berapa, tempat tinggal di mana, masih punya orang tua atau tidak, adik kakak atau masih bujangan, masih sekolah atau sudah kerja dan kerja apa, profesinya apa dan seterusnya seperti umumnya tiap kita punya catatan biografi. Jika di naskah tak ada maka aktor wajib mencari tau dan menetapkan sendiri.  Jika ada akan menjadi bahan sangat kuat yang sangat berguna bagi menunjukkan karakter sang peran.


Parade monolog merupakan pestanya para seniman teater di Indonesia untuk berkiprah dan menjadikan pijakan kuat untuk tinggal landas menuju teater Indonesia seutuhnya bukan hanya bagi sesama seniman namun bagi seluruh bangsa Indonesia. Syukurlah bila berhasil merangkul yang tadinya tidak tau teater jadi kenal dan merasa membutuhkannya. Jadi mari ingat selalu bahwa penonton adalah bagian dari kerja seniman teater. 


Selamat berkarya.

Jakarta 25 Agustus 2021. 

Ads