Teks Pertunjukan dan Jejaring Konteks yang Bermunculan di Sekitar Teks -->
close
Pojok Seni
11 September 2021, 9/11/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-09-11T00:00:00Z
ArtikelUlasan

Teks Pertunjukan dan Jejaring Konteks yang Bermunculan di Sekitar Teks

Advertisement

pojokseni.com - Ketika seorang seniman sedang mencoba mengenali, menyelami, menganalisa, dan "bermabuk-mabukan" di dalam sebuah teks pertunjukan, maka jejaring konteks yang ada di sekitar teks tersebut akan bermunculan. Konteks yang berbeda akan memengaruhi interpretasi teks, sehingga teks yang sama akan menghadirkan jutaan makna.


Sebelumnya, di artikel berjudul "Teori Resepsi: Ketika Pembaca Mengambil Alih Kekuasaan Pengarang" sudah diulas tentang pembaca yang berperan aktif memberikan makna pada karya seni. Hal itu tentunya "mengkudeta" kekuasaan seniman terhadap pemaknaan karyanya sendiri. Jika demikian, maka di mana posisi pengarang atau pencipta?


Menarik juga menyimak sebuah pertanyaan yang dilontarkan peserta diskusi pasca pertunjukan monolog yang digelar Yayasan Pelaku Teater Indonesia (PTI), tentang kesetiaan pada teks, yang juga sering diartikan sebagai "kesetiaan pada kata". 


Tentunya, kita coba mengulas satu persatu, mulai dari teks pertunjukan, serta jejaring konteks yang bermunculan di sekitarnya yang penulis jadikan premis tulisan ini.


Teks Pertunjukan dan Naskah Drama


Kita mulai dari "teks pertunjukan". Kenapa teks pertunjukan, bukan "naskah drama"? Karena untuk membedakan mana yang genre karya sastra (naskah drama) dan mana teks yang dipentaskan (teks pertunjukan). Hal itu juga menjadikan penulis naskah drama juga belum tentu menulis teks pertunjukan.


Teks pertunjukan dibuat dengan berbagai proses, seperti memotong, memenggal, menambal, dan hal-hal lainnya yang dianggap bisa mendukung struktur dramatik, dan sebagainya. Bila naskah drama sejajar posisinya dengan prosa dan puisi (sebagai genre karya sastra), maka teks pertunjukan justru lebih mengarah ke "penunjuk laku" alih-alih karya sastra.


Tapi masalahnya adalah, penulis atau pengarang membuat naskah drama. Sedangkan teks pertunjukan dibuat berdasarkan garapan sutradara, pondasinya adalah interpretasi sutradara terhadap teks tersebut. Tentunya, bisa jadi bukan makna yang diinginkan pengarangnya.


Misalnya begini, ketika dulu Romeo dan Juliet dipentaskan di era William Shakespeare, permusuhan antara keluarga Romeo (Montague) dan keluarga Juliet (Capulet) adalah karena pertempuran, alias perkelahian jalanan antar dua geng keluarga. Ketika dibawa ke Indonesia era modern, pertempuran antar geng keluarga (khas di Italia) ternyata sulit ditemukan di Indonesia. Akhirnya, salah satu kisah Romi dan Yuli (menjadi film dibintangi Anjasmara dan Dian Nitami sebelum mereka menikah) menceritakan dua keluarga yang jomplang secara status sosial. Romi anak orang menengah, Yuli anak orang kaya.


Ternyata, hal itu lebih diterima (perbedaan status sosial) ketimbang permusuhan antar keluarga (khas mafia Italia). Bahkan, di film Shakespeare in Love  (1998) yang memenangkan Oscar sebagai film terbaik tahun itu, menceritakan kisah Shakespeare yang jatuh cinta pada seorang anak bangsawan, namun cintanya kandas juga karena perbedaan status sosial. Namun, disebutkan (dalam film) bahwa kisah tersebut menginspirasi Shakespeare untuk menulis Romeo dan Juliet.


Jejaring Konteks


Konteks saat ini mengubah pandangan orang terhadap suatu teks. Belum lagi ditambah kemungkinan bahwa pengarang memang "menyembunyikan" apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan, entah sengaja atau tidak.  Seperti dituliskan oleh E.D Hirsch, Jr dalam Validity in Interpretation  (1981) bahwa apa yang dihadirkan pengarang menggunakan strategi tekstual sebenarnya bukanlah yang ingin ia sampaikan. Maka, sangat besar kemungkinan bahwa deretan kata-kata yang ada di teks pertunjukan sebenarnya bukan hal yang ingin disampaikan pengarang. Subject matter (penyampaian seniman) dan makna yang diinginkan (author's meaning) menjadi sangat berbeda.


Akibatnya, kemungkinan terjadi intentional fallacy alias keliru maksud. Kekeliruan ini mengakibatkan munculnya tanggapan yang keliru pula (affective fallacy).


Jejaring konteks yang bermunculan di sekitar karya serta seniman penciptanya sangat membantu pembaca untuk mendekatkan diri pada makna yang diinginkan seniman. Karena konteks tersebut yang menjadi wilayah tanggapan, mendekatkan makna karya ke penanggapnya. Saat itu, karya seni menjadi semacam "media informasi" untuk para pembacanya. Dengan demikian, relevansi karya menjadi lebih mantap, karena konteksnya sudah terkait dengan pembacanya. 


Karena itu, proses membaca adalah dialektika antara teks dengan pembaca. Hal itu akan menghadirkan sintesis, berupa makna karya seni yang menunjukkan horizon harapan dari persepsi pembacanya. 

Ads