Katanya Cinta Batik Indonesia, kok Pakai Batik Printing? -->
close
Pojok Seni
29 June 2021, 6/29/2021 07:00:00 AM WIB
Terbaru 2021-06-29T00:00:00Z
BudayaUlasan

Katanya Cinta Batik Indonesia, kok Pakai Batik Printing?

Advertisement
Batik Indonesia
Batik Indonesia (sumber foto: Madiun Today)

PojokSeni.com - Sejak Keputusan Presiden no. 33 tahun 2009 dikeluarkan, maka semakin kuat bahwa tanggal 2 Oktober adalah hari Batik Indonesia. Di tanggal 2 Oktober itu juga, Unesco menetapkan batik Indonesia sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.


Sejak itu, kebanggaan Indonesia terhadap batik kian menyala. Nyaris di seluruh tempat di Indonesia, pegawai negeri menggunakan pakaian batik. Setiap sekolah, siswanya juga menggunakan pakaian batik di hari-hari tertentu. Apa artinya? Seharusnya, pengrajin batik akan semakin berkecukupan, bukan?


Faktanya tidak seperti itu. Ternyata pengrajin batik semakin terdesak. Khususnya pengrajin batik asli, yakni menggunakan lilin malam.


Saat ini, bagi kebanyakan orang, ada tiga jenis batik Indonesia. Pertama batik tulis (menggunakan lilin/malam), kedua batik cap, dan ketiga batik printing. Namun, dari ketiga jenis itu, hanya satu batik Indonesia, yakni batik tulis. Dan sekarang, pengrajin batik tulis sudah semakin sedikit.


Setidaknya itu yang dikatakan oleh kolektor batik Indonesia, Hartono Sumarsono. Penulis buku Batik Betawi: koleksi Hartono Sumarsono, Batik Garutan: Koleksi Hartono Sumarsono, dan Benang Raja: menyimpul keelokan batik pesisir tersebut dengan tegas mengatakan bahwa hanya ada satu jenis batik, yakni batik tulis.


Sedangkan batik printing, juga batik cap, itu bukan batik. "Itu adalah kain bermotif batik, bukan batik," kata Hartono Sumarsono seperti dimuat di artikel bertajuk Catatan Hari Batik Indonesia.


Karena itu, bila mencintai batik Indonesia, tentunya mencintai batik tulis. Kenapa? Karena bila Anda menggunakan batik printing, itu artinya Anda bukan mencintai batik. Tapi, mencintai kain bermotif batik. Apalagi, ada banyak hal yang bahkan bisa mengancam para pengrajin batik di Indonesia apabila batik yang dibuat dengan mesin (batik mekanik) dibiarkan merajalela.


Dulunya, batik dibuat di daun lontar dan di atas papan. Kemudian, pada abad ke-17, dimulailah pembuatan batik di atas kain dengan menggunakan lilin malam. Nah, proses pembuatan batik Indonesia menggunakan lilin malam inilah produk original. Batik printing, bukan hanya menghilangkan kebudayaan yang sudah berabad-abad dijaga Indonesia, tapi juga batik "palsu".


Sayangnya, pengrajin batik yang awalnya menggunakan lilin malam juga pada akhirnya menyerah. Mereka selalu kalah dengan batik mekanik, hingga akhirnya pengrajin batik tulis memilih berganti menjadi pengrajin batik mekanik pula.


Masih banyak juga pengrajin batik tulis yang tetap bertahan. Uniknya, mereka tetap menggunakan pewarna alami sehingga kain batik yang digunakan benar-benar aman untuk kulit.


Namun agar bisa benar-benar bertahan, maka pengrajin batik tulis harus memutar otak agar bisa lebih hemat. Ada berbagai cara yang dilakukan untuk menekan biaya produksi. Salah satu caranya adalah mendaur ulang limbah lilin yang biasa digunakan membatik. Jadinya, lilin malam itu bisa digunakan dua kali. Kasus tersebut terjadi di beberapa tempat di Jawa. Pengrajin batik tulis Jawa seperti di Kudus, Pekalongan, Madiun, dan sebagainya melakukan banyak hal untuk menekan biaya produksi.


Perlawanan batik tulis Indonesia terhadap Batik Printing


Museum Batik Yogyakarta yang sudah dibangun sejak tahun 1979 adalah batik yang dibangun oleh keturunan Tionghoa bernama Hadi Nugroho. Ia mencintai batik sebab kakeknya adalah pengoleksi batik.


Museum batik tersebut hadir sebagai bentuk perlawanan pada batik printing. Batik mengandung pesan dan cerita yang digoreskan pengrajinnya lewat lilin dan warna, sehingga munculnya motif-motif yang unik dan beragam.


Batik bukanlah sekedar selembar kain bermotif. Batik dibuat dengan lilin panas yang digoreskan di atas kain. Setiap goresannya memiliki makna dan filosofi tertentu. Batik printing justru membunuh batik asli, dan hingga saat ini sudah ada ratusan pengrajin batik asli yang terpaksa gulung tikar.


Tidak hanya di Yogyakarta, tapi di berbagai daerah seperti Pekalongan yang khas dengan batiknya. Beberapa milarder yang mencintai batik juga mendirikan museum batik Indonesia untuk menjaga warisan kebudayaan batik tulis.


Seperti musem batik Danar Hadi, sampai Musem Djoko Susilo yang awalnya merupakan rumah mewah. Perlawanan terhadap batik printing juga menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia memberi ruang yang lebih banyak pada batik printing.


Lihat saja pakaian yang digunakan pegawai dan siswa sekolah. Sebagian besar adalah batik printing dengan pengadaan dari pemerintah mencapai miliaran rupiah. Saat itu, pengrajin batik yang asli hanya bisa gigit jari.


Kelemahan batik printing: Mudah ditiru!


Pikiran Rakyat memuat berita berjudul Batik Cap Tiongkok Mengancam Produk Batik Indonesia. Bayangkan saja, di negeri penghasil batik, Indonesia masih mengimpor batiknya dari luar negeri!


Tidak hanya sedikit, batik mekanik asal Tiongkok tersebut sudah menguasai sekitar 25% pasar di Indonesia. Bukan hanya Tiongkok, tapi beberapa negara tetangga seperti Indonesia seperti dikatakan dosen program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII, Dr Taufiq Immawan.


"Batik Indonesia sebenarnya sudah mencapai masa panen sejak tahun 2009 (ketika penetapan Unesco), terbukti penjualan batik Jawa seperti batik Solo, batik Yogyakarta, batik Pekalongan, sampai batik Bali sekalipun semuanya melonjak. Hal itu membuat produsen batik mekanik asal Tiongkok menggempur pasar Indonesia," terang Taufik Immawan.


Lebih hebatnya lagi, sekitar 159 ton batik mekanik asal Tiongkok masuk ke Indonesia hanya dalam waktu tiga bulan saja. Berarti, dalam waktu tiga bulan, produsen batik dari Tiongkok dengan motif sangat mirip dengan batik Indonesia meraup keuntungan miliaran rupiah.


Karena itu, beralih ke batik tulis menjadi salah satu pilihan yang jitu. Batik printing, batik cap, atau batik mekanik tentunya sangat mudah dibedakan dengan batik tulis yang memiliki tekstur di atas kainnya. 


Tidak hanya itu, membuat batik tulis berarti menjaga dan merawat lagi kebudayaan membatik yang sudah ada di Indonesia berabad-abad lalu. Batik kembali lagi mendapatkan kegagahannya, juga setiap goresan pengrajin akan kembali mendapatkan tempatnya.


Membedakan batik tulis dan batik cap


Mungkin untuk membedakan mana batik tulis dan mana batik printing bisa dikatakan cukup mudah. Batik printing tidak memiliki tekstur tertentu di atasnya, karena tidak menggunakan lilin atau malam.


Namun, bagaimana cara membedakan batik cap dan batik tulis? Sering sekali ditemukan penjual batik akan mengatakan bahwa batik cap yang dijualnya sebagai batik tulis. Padahal, batik tulis tentunya punya kualitas dan nilai yang lebih tinggi.


Sekarang, bagaimana cara membedakan mana batik cap dan batik tulis?


Pertama, lihat warnanya. Warna batik tulis akan lebih muda ketimbang warna motifnya. Sedangkan untuk batik cap, umumnya warna motifnya yang lebih muda ketimbang warna batiknya.


Kedua, lihat kerapiannya. Motif pada batik tulis tentunya ditulis dan didesain manual, kemudian pengolesan lilin juga dilakukan dengan manual. Jadinya, batik satu dan lainnya akan berbeda, setiap kain batik tulis akan memiliki keunikan sendiri. Berbeda dengan motif di batik cap yang sangat rapi karena polanya sudah ditentukan.


Ketiga, lihat kedua sisi kain. Lilin malam tentunya akan tembus ke belakang. Berbeda dengan batik cap yang tidak tembus ke sisi lainnya.


Keempat, cium aromanya. Anda akan mengenali aroma khas lilin malam yang keluar dari kain batik tersebut. Sedangkan untuk batik cap aromanya tidak akan begitu kuat. Apalagi batik printing, jelas aroma kimia yang akan tercium.


Kelima, perhatikan betul-betul setiap garis yang dibentuk lilin. Karena lilin menggunakan canting, maka akan ada tetesan lain di kain, juga goresan yang lebih tegas. Hal itu tidak akan ditemukan di batik cap.


Terakhir, karena dibuat dengan manual, maka batik tulis jelas memiliki keunikan. Jadi, kenapa harganya tinggi, karena setiap kainnya memiliki keunikan berbeda. Meski model batik yang sama, tentunya motifnya akan berbeda. Bisa dikatakan, batik yang Anda gunakan sekarang adalah satu-satunya di dunia.


Bagaimana cara membuat batik tulis?


oedel batik Indonesia


Seperti dilansir dari PojokReview, ada empat rangkaian pembuatan batik oleh Oedel Batik Indonesia. 


Tahap pertama membuat batik tulis adalah desain, yakni membuat rancang pola atau motif awal di atas kain. Dilansir dari Wikipedia, bahan kain yang biasa digunakan untuk membuat batik tulis antara lain kain katun prima, kain katun primisima, kain katun santyo, kain katun dobi, dan kain sutera.


Tahap kedua membuat batik tulis adalah pengolesan lilin. Lilin panas akan digunakan mengikuti garis desain yang sudah dibuat sebelumnya. Hal ini memerlukan kesabaran dan keterampilan yang tinggi.


Tahap ketiga membuat batik tulis adalah pewarnaan batik. Beberapa jenis batik menggunakan bahan-bahan alami. Pewarna alami batik antara lain kunyit untuk warna kuning, indigofera untuk warna biru, kulit buah jalawe untuk cokelat kehijauan, daun teh untuk warna cokelat, secang untuk warna merah, dan bawang merah untuk warna cokelat jingga.


Selain menggunakan cat alami, dalam beberapa waktu terakhir para pengrajin batik juga menggunakan pewarna buatan untuk batik. Pewarna buatan untuk pembuatan batik antara lain zat naphthol, indigosol, dan remasol.


Tahap terakhir membuat batik tulis adalah segel warna. Segel warna batik ini menggunakan sejenis sealer atau penutup lainnya, agar warna tidak bergerak, tumpah, menetes, atau berubah. Segel tersebut baru dibuka ketika cat sudah benar-benar kering, batik tulis sudah siap.


Ada beberapa tempat yang masih membuka kelas batik tulis. Salah satunya, bila Anda berada di Bali, Anda bisa menghubungi Oedel Batik Indonesia lewat email oedelstyle@gmail.com dan mendapatkan privat batik.


Trend batik Indonesia yang modern dan kekinian


Semakin hari, semakin banyak inovasi dari para pengrajin batik di Indonesia. Brand yang disebut PojokSeni di atas tadi Oedel Batik Indonesia, merupakan salah satu brand batik yang direkomendasikan bila Anda ingin mencari batik yang kekinian, modern, dan casual.


Tentunya, berbeda dengan "identitas" batik Indonesia sebelumnya yang biasanya terkesan formal, dewasa, dan santun. Sekarang, batik Indonesia hadir dalam desain yang lebih bergairah.


Beberapa produk dari Oedel Batik Indonesia mulai dari jaket, outer, dress, overall dress, sampai bikini juga tersedia. Tentunya, sangat pas bila Anda memang pecinta batik Indonesia, namun tetap ingin tampil kekinian.


Oedel batik Indonesia




Anda bisa melihat koleksi dari Oedel Batik Indonesia di Instagramnya: OedelStyle Atau, bisa juga melihat tokonya di Tokopedia, Shopee.


Simak artikel berjudul Rekomendasi batik dari Oedel Batik Indonesia yang Kekinian dan Menunjang Gaya Anda di PojokReview.


Bila Anda berada di Bali dan ingin berbelanja batik Bali secara offline, Oedel Batik indonesia bisa Anda temui di lantai dasar Mall Seminyak Village. 

Ads