Bulan Puasa, Analogi Ular dan Ulat -->
close
Pojok Seni
06 May 2019, 5/06/2019 03:44:00 AM WIB
Terbaru 2019-05-05T20:44:31Z
Artikel

Bulan Puasa, Analogi Ular dan Ulat

Advertisement

pojokseni.com - Akhirnya, kita kembali pada bulan suci di tahun ini, bulan Ramadan. Bulan yang penuh berkah, dan satu hal yang pasti di bulan ini kita akan berpuasa. Bicara tentang berpuasa, tentunya (mengutip kata-kata Sutradara Teater Satu Lampung) seniman sudah biasa dengan "puasa". Berbulan-bulan proses, lalu baru berbuka ketika suatu karya dinyatakan telah mencapai kesempurnaan artistiknya. Tepuk tangan, riuh penonton, ulasan pertunjukan, kepuasan, kebanggaan dan terakhir uang keuntungan pementasan, tentunya menjadi pertanda "berbuka" setelah berbulan-bulan berpuasa.

Tapi, berpuasa di bulan Ramadan ini lebih kompleks. Tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga harus menahan emosi, kesabaran dan perasaan. Menahan diri untuk tidak menggunjing, menyebarkan aib saudara dan fitnah.

Ada sebuah analogi yang sering disebutkan terkait puasa, yakni puasa ular dan puasa ulat. Muslim yang menjalani puasa, setidaknya menjalani puasa sebagai mana puasa ular dan puasa ulat. Apa bedanya? Berikut ulasannya.

1. Puasa ulat


Ulat, terkesan sebagai hewan yang menjijikkan. Banyak orang yang bila bertemu dengan ulat, akan langsung membunuhnya. Hewan ini juga disebut hama, merusak tanaman, kemudian menyebarkan penyakit kulit bagi yang menyentuhnya.

Kemudian, hewan ini berubah menjadi kepompong. Saat itu, hewan ini "berpuasa", tidak makan dan tidak minum serta menahan diri dari segala hal di luar atau di lingkungannya. Apa yang terjadi setelah ulat berpuasa?

Ia bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu, yang indah. Penuh warna, dan memberi warna bagi dunia. Taman yang penuh bunga, akan semakin indah bila ada kupu-kupu.

Puasa ulat berarti, seorang yang biasa, atau mungkin buruk, akan berubah menjadi lebih baik setelah menjalani puasa. Ini tandanya bulan puasa menjadi bulan introspeksi, bulan kembali ke jalan yang baik dan menjadi manusia yang sesungguhnya.

2. Puasa ular


Ular mencari mangsa, yang biasanya bahkan lebih besar dari tubuhnya. Setelah itu, selama proses mencerna, ular akan berdiam diri. Bahkan, setelah makanan itu selesai dicernanya, ular akan berpuasa. Ia diam di balik gua, di balik batu atau di tempat yang gelap lainnya.

Apa yang terjadi, setelah ular berpuasa? Ia berganti kulit, berganti taring, bahkan memperbaharui bisa/racun yang ada di dalam tubuhnya menjadi lebih mematikan.

Puasa ular berarti, seorang bahkan menjadi lebih buruk dan lebih beringas setelah bulan puasa. Atau, setidaknya, sama saja dengan dirinya sebelum bulan puasa. Itu artinya, puasanya tidak mampu merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Sekarang, kita memulai ibadah puasa. Apakah puasa kita akan menjadi puasa ular atau ulat? Kita sendiri yang menentukan. Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa, dan selamat berlomba mencari pahala dan ridho Tuhan di bulan yang suci ini. (ai/pojokseni.com)


Ads