Selalu Membela Anak, Adakah Kerugiannya Bagi Anak?



Ayah A melihat anaknya, A berkelahi dengan anak tetangganya B. Penyebabnya, B sedang asyik main kelerang dengan A, kemudian A kalah. A menuduh B bermain curang, sedangkan B tidak terima. Keduanya lalu terlibat perkelahian fisik. Kebetulan Ayah A melihat perkelahian itu. Bukannya melerai, ayah A memilih untuk memukul lawan anaknya, B. Baginya, memukul anaknya adalah sebuah kesalahan besar.

"Saya yang mendidik dan membiayai hidupnya sejak kecil tidak pernah memukulnya, kamu berani-berani memukulnya!" bentak ayah A.

Si A tersenyum penuh kemenangan, sedangkan B pulang, merasa kalah, juga dicurangi. Sampai di rumah, B bertemu ayahnya dan bercerita apa yang terjadi. Ayah B awalnya mengira hanya perkelahian antar dua orang anak, maka ia menganggap itu adalah hal yang biasa. Tapi, ketika mendengar campur tangan ayah A, maka ia benar-benar terpukul. Akhirnya, ia mendatangi rumah ayah A membawa senjata. Lalu, perkelahian antar kedua orang tua tersebut tidak bisa terelakkan.

Keesokan harinya, A dan B sudah saling memaafkan, meski untuk berteman lagi masih takut, karena kedua ayah mereka sekarang terlibat perseteruan. Iya, kebetulan ayah A sekarang berada di Rumah Sakit Umum Daera (RSUD) daerah setempat, sedangkan ayah B berada di tahanan Polres setempat atas tuduhan penganiayaan. Dari kisah ini, perlu diketahui bahwa ini adalah kisah nyata, apa yang bisa Anda ambil kesimpulan?

Membela Anak itu Penting


Membela anak adalah satu hal yang penting, tentunya bagi orang tua. Tapi, pelajari dan teliti dulu apa masalahnya. Untuk masalah yang diceritakan di atas, sepertinya sudah sebaiknya Anda membiarkan anak Anda untuk menyelesaikan masalah dengan temannya sendiri. Kalau ingin ikut campur, salah satu caranya adalah memberi peringatan di rumah, bahwa berkelahi itu bukan hal yang baik.

Misalnya seorang anak melakukan kesalahan, lalu ditegur olah ibunya, maka saat itu si bapak jangan serta merta ikut marah, atau malah membela anak dan kembali memarahi ibunya. Akhirnya hanya membuat si anak tidak jera untuk melakukan apapun yang ia mau, apapun itu meski sebuah kesalahan. Karena, ia yakin akan ada ayah atau ibu yang akan membelanya.

Bila anak Anda dituduh telah dituduh melakukan satu hal yang tidak ia lakukan, lalu akan menerima hukuman yang seharusnya tidak ia terima, maka saat itu Anda berdiri membelanya. Misalnya, anak Anda dituduh pencuri, padahal Anda tahu pasti anak Anda bukan pencurinya. Saat itu, anak Anda butuh pembelaan. Tapi, bila yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, atau kesalahan yang dituduhkan padanya memang dilakukan, maka jangan beri pembelaan, biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya.

Melawan Guru karena Dibela Orang Tua


Ada satu lagi kisah, di sebuah sekolah. Seorang anak tertangkap basah sedang memanjat dinding sekolah, berencana untuk bolos. Seorang guru melihatnya, lalu memegang kakinya, lalu menariknya ke bawah. Tentunya, si anak terjerembab sambil meringis kesakitan. Sampai di bawah, anak tersebut dijewer telinganya, lantaran si guru sudah gemas melihat ulah dia yang selalu bolos, dan baru kali ini berhasil digagalkan.

Tapi, karena terinspirasi dari sebuah film populer dan viral Indonesia saat ini, si anak justru melawan. Ia berbalik lalu menerjang sang guru yang tengah menjewernya tersebut. Belum puas, ia lalu memukulnya bertubi-tubi. Beruntung, rekan-rekan satu sekolah berusaha melerai perkelahian tersebut dan "nyawa" guru malang tersebut berhasil diselamatkan.

Kepala sekolah dan guru memberikan hukuman pada anak tersebut berupa skorsing selama beberapa hari. Ia tidak diperkenankan masuk sekolah, kecuali bila orang tuanya datang ke sekolah memenuhi panggilan pihak sekolah. Tapi, apa yang terjadi?

Ayahnya memang datang ke sekolah. Namun, yang dilakukannya adalah mengamuk dan membentak semua guru yang ditemuinya. Ia merasa guru-guru tersebut sudah melakukan hal yang tidak tepat dan sebuah kekerasan fisik pada anaknya. Karena si bapak adalah salah seorang pejabat penting di daerah tersebut, guru di sekolah tersebut, termasuk kepala sekolah hanya bisa menunduk ketakutan.

Kelang beberapa hari, anaknya kembali sekolah. Kali ini, meski ia kedapatan tertidur di dalam kelas, menganggu dan menjahili teman sekelasnya ketika sedang belajar, termasuk ketika ia membolos lagi dengan terang-terangan, tapi tidak ada satu gurupun yang melarangnya. Si anak tambah berani, karena yakin orang tuanya akan membela.

Menurut hemat penulis, mungkin si bapak membela anaknya karena tidak ingin nama baiknya terusik lantaran masalah kasus anaknya di sekolah. Atau, bisa juga karena rasa cintanya pada anaknya membuatnya membela anaknya terus-terusan. Apa yang terjadi selanjutnya? Si anak malah jadi semena-mena, sampai akhirnya, pihak sekolah juga terinspirasi dari film yang ditonton si anak, lalu mengambil jalan yang ada di film tersebut, si anak di drop out!

Ada lagi kasus kedua, lebih lucu. Seorang guru menegur muridnya yang menggunakan bando di kepalanya. Penyebabnya adalah murid tersebut adalah murid lelaki. Lah, kenapa lelaki pakai bando?

Si murid berteriak masalah hak asasi manusia. Mau dia pakai rumah siput, atau meletakkan ular sekalipun di kepalanya, itu adalah haknya sebagai manusia. Guru yang dimaksud masih berbicara pelan-pelan, tentang aturan di sekolah. Anak tersebut berteriak sekali lagi.

"Peraturan itu dibuat untuk dilanggar!"

Jalan yang diambil sekolah adalah memanggil orang tuanya. Nah, si ibu dari anak tersebut juga mencaci maki guru di sekolah. Menurutnya, urusan fashion dan style anaknya, bukan urusan sekolah. Tapi, terpenting adalah bagaimana mendidiknya dalam urusan ilmu pengetahuan saja.

Tidak ingin memperpanjang masalah, akhirnya sekolah membiarkan saja masalah tersebut. Hasil akhirnya, bukan hanya bando lagi, tapi si anak malah berani mengecat rambutnya menjadi warna merah!

Kedua kisah tersebut berawal dari kenakalan anak, lalu berujung ke pembelaan orang tua. Hasilnya, bisa dilihat sendiri, bukan?

Akhirnya, Anda melihat di Indonesia zaman sekarang. Anak SD dan SMP menantang gurunya berkelahi, sedangkan anak SMA justru membunuh gurunya. Memang tidak bisa disebut bahwa tindakan membela dari orang tuanya sebagai penyebab utama tindakan tersebut. Tapi, membela anak bisa menjadi salah satu faktor juga loh.

Pengendalian Anak Lewat Hukuman, Bisa?


Ilustrasi anak nakal
Bila orang tua memang tidak ingin anaknya dihukum orang lain, meskipun itu gurunya sendiri, maka usahakan sebisa mungkin anaknya tidak membuat kesalahan. Orang tua punya hak untuk memberi hukuman pada anaknya, ketika si anak berbuat kesalahan. Tentu saja, hukuman yang diberikan juga setara dengan kesalahan yang dibuat.

Anda bisa memberikan hukuman yang keras untuk sebuah kesalahan yang besar, tapi berikan hukuman ringan pada kesalahan yang kecil. Bila hukuman terlalu keras pada kesalahan kecil, justru akan membuat anak akan benci dan dendam pada orang tuanya. Tapi, untuk kesalahan yang besar, memberikan sebuah hukuman yang kecil rasanya tidak terlalu memberikan efek jera.

Di laman Sahabat Keluarga Kemdikbud misalnya, diberikan contoh bagaimana Suku Batak mendidik anaknya dengan keras dan tidak segan-segan memberikan hukuman apabila si anak melakukan kesalahan. Hal itu dilakukan agar pengendalian diri anak menjadi lebih baik, serta bisa menggapai prestasi dan cita-citanya. Karena nilai anak atau dalam bahasa setempat disebut Hagabeon menjadi salah satu yang paling penting bagi Suku Batak. (Baca artikel : Orang Tua Batak Utamakan Prestasi Anak)

Dengan pendidikan yang baik, serta keras di rumah, si anak akan lebih bertanggung jawab. Anak akan menerima hukuman apabila memang dirinya membuat kesalahan. Ia akan menerima apabila gurunya memberikan hukuman berdiri di depan kelas, ketika ia lupa membuat PR dan sebagainya. Jangan sedikit-sedikit membela anak, apalagi bila benar anak tersebut membuat kesalahan.

Terpenting, anak harus mengerti komitmen dan tanggung jawabnya. Sebab dengan melatih hal tersebut, anak Anda bisa melihat masa depan dengan lebih baik ke depannya. Perlu diingat, anak bandel rata-rata bisa sukses loh. Jadi, jangan terlalu pusingkan kebandelan si anak, terpenting bagaimana mendidiknya agar meraih kesuksesannya nanti. #sahabatkeluarga

Penulis : Adhyra Irianto
PojokSeni.com

No comments:

Post a Comment

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.