Mari Mandiri Dalam Berkesenian -->
close
Pojok Seni
28 December 2017, 12/28/2017 11:53:00 PM WIB
Terbaru 2017-12-28T16:53:16Z
Artikel

Mari Mandiri Dalam Berkesenian

Advertisement
Rudolf Puspa, Pendiri dan Sutradara Teater Keliling, Jakarta

Catatan Rudolf Puspa untuk Pojokseni.com

Ketika berkesenian bergantung pada kekuatan di luar diri sang seniman maka akan merasa sukses ketika mendapat kemudahan dan merasa tersingkir bahkan tertindas karena kehilangan perhatian. Umumnya perhatian yang disasar adalah dari pemerintah. Inilah fenomena yang sering melanda kehidupan berkesenian di negeri kita.

Timbul pertanyaan di hatiku apakah memang harus demikian kehidupan berkesenian yaitu bergantung pada perhatian pemerintah? Menurut ku tidak selamanya harus begitu. Jika dipelajari sejarah kehidupan kesenian pada umumnya dan teater pada khususnya , maka kesenian berjalan dengan sendirinya. Ia menawarkan dirinya untuk dinikmati siapapun. Jika pemikiran kita menerima hal ini maka yang harus dikerjakan seniman tentunya menciptakan karya seni yang memang menyentuh hati dan pikiran penikmatnya. Tidak peduli apapun bentuk atau alirannya. Maka diharapkan seniman terus menerus mengexplorasi dirinya untuk menghasilkan karya-karya yang sentuhannya, tegurannya, kritikannya, pukulannya, tendangannya, anjurannya, elusannya, hembusannya diterima berbagai kalangan apapun latar belakang intelektualnya, adat budayanya.

Seperti pekerjaan apapun maka berksenian adalah sebuah pilihan. Memilih berkesenian tentu punya kewajiban menyadari bahwa harus meniti tangga yang harus ditekuni dari bawah hingga keatas. Jangan berharap ada tangga berjalan sendiri dan kita tinggal tenang diam langsung dibawa naik. Perkara cepat atau lambat mencapai puncak tangga; walaupun sebenarnya dimana sih puncak kesenian; itu terpulang pada kerja sang seniman dalam menyiapkan diri untuk terus menerus mengolah bahan2 yang tersebar dilingkungannya sehingga menjadi satu hasil olahan yang “dahsyat”.  Aku katakan “dahsyat” karena hasil karya seni harus bagai peluru yang berisi mesiu yang tajam dan daya ledaknya besar. Begitu ditembakkan maka akan menancap sampai pada sasarannya; bukan sudah lemas dan jatuh sebelum sampai sasaran.

Mengasah atau meramu mesiu inilah yang merupakan dasar kekuatan karya seni. Bahan alami yang berseliweran disekeliling para pencipta karya seni tersaji begitu luar biasa kayanya. Tambang yang tak ada habis2nya untuk dikeruk, digali hingga sang pencipta kembali ke haribaanNya. Maka tidak mengherankan jika sering didengar bahwa seniman tak ada masa pensiun. Oleh karenanya untuk menjaga agar terus mampu berkarya maka kesehatan fisik dan jiwanya harus selalu dirawat. Semua ini memerlukan disiplin tersendiri yang harus dilakukan sang seniman sendiri. Bersyukur bila memiliki pendamping hidup yang turut membantu sehingga tidak merasa hidup sendiri walau dalam hal berkarya tetap saja urusan sendiri sang seniman. Inilah kebebasan yang harus dimiliki seniman sepanjang dalam kegiatan berkarya. Hasil karyanya baru bebas pula untuk mendapat penilaian siapapun dan bagi seniman berjiwa besar pasti akan menerima sebagai asupan yang sehat untuk karya selanjutnya.

Atas dasar pemikiran di atas maka seniman memang harus siap menjadi manusia mandiri. Ketergantungannya adalah kepada dirinya sendiri. Agak absurd jika tidak ada yang menyuruh jadi seniman terus kesal, marah dan tidak bisa berkarya karena merasa tidak ada dukungan pemerintah misalnya. Maka belajarlah kepada seniman-seniman yang hasil karyanya terus lahir walau seumur hidupnya tidak pernah laku. Namun ketika meninggal maka tiba-tiba meledak dan penyimpannya yang menikmati kekayaan besar dari hasil penjualan karya-karya tersebut.

Banyak di negeri sendiri seniman2 entah penyair, sastrawan, pelukis, penari, penyanyi, pemusik, teaterawan yang sepanjang hidupnya berkarya namun ketika wafat di hari tuanya baru ketauan tidak memiliki kekayaan duniawi yang berharga selain semangat berkeseniannya bahkan hingga umur tuanya tetap mampu menghasilkan karya yang hebat. Berkacalah pada mereka yang tak pernah mengeluh dan menangisi nasibnya yang menurut umum kurang layak namun diterima dan disyukuri sepanjang hidupnya. Tapi karyanya tetap menjulang dan universal. Sebagai contoh kecil siapa yang tak kenal Chairil Anwar, Pramudya, WS Rendra, The Beatles, Bethoven dsb dsb?

Kini menjadi terbukti bahwa menjadi seniman memang harus berani mandiri karena memang memasuki ranah kesenian akan masuk keruang luas tak berbatas dalam kidung sunyi. Namun seperti lagu natal yang terkenal sepanjang masa yakni silent night; kita akan bisa menangkap betapa silent night memiliki sinar terang yang dahsyat menerangi bumi memancar keseluruh pelosok alam raya sehingga makluk hidup merasakan kedamaian dan kesejahteraan yang menuju keabadian. Selayaknya begitulah hasil kemandirian seniman.

Salam jabat teater.

Jakarta 23 Desember 2017.

Ads