30 November 2017

author photo

Baca Juga



Penonton juga unsur penting dari sebuah pementasan. Meski terpisah sekat, namun penonton juga memberi sumbangan untuk pembentukan atmosfer panggung, yang memberi suntikan tenaga dan psikologis bagi para pemain, pelakon dan kru untuk mempertunjukan sebuah lakon menjadi lebih baik lagi.

Oleh : Adhyra Irianto

Kita sudah sering menemukan pembahasan tentang teater, mulai dari sejarah, perkembangan, sampai pakem-pakemnya. Bentuk-bentuk panggung, termasuk tata cahaya, musik, dan sebagainya juga menjadi pembahasan yang sering diulas, dari grup teater kecil, kalangan akademisi, praktisi sampai kritikus. Dramaturgi, blocking, pola panggung, keaktoran, juga menjadi hal yang sudah sering dibicarakan, juga akan Anda temukan dalam berbagai seminar, jurnal ilmiah bahkan obrolan para seniman ketika nongkrong. Lantas di mana posisi penonton?

Penonton adalah tujuan akhir dari setiap pertunjukan. Harus kita akui bahwa banyak sutradara yang mengenyampingkan penonton, sehingga ia merasa bebas bereksperimen dengan sebuah pertunjukan tanpa memperdulikan penonton. Akhirnya, ketika pertunjukannya gagal, yang disalahkan adalah penonton. Ketika sutradara memiliki konsep yang hanya "dia dan Tuhan" saja yang tahu maksudnya, bahkan para pemainnya tidak mengerti arti dari setiap gerakan yang dimainkan, apalagi penonton.

Ketika penonton tidak menangkap pesan, atau pertunjukan tersebut dianggap sebagai pertunjukan yang membosankan, maka sutradara akan dengan cepat menyalahkan penonton. Penonton dianggap tidak terlalu mendalami cerita, tidak mengikuti cerita sampai tudingan bahwa penonton adalah orang yang kurang pendidikan untuk menelusuri dalamnya pesan dari pertunjukan penonton.

Penonton sebagai kelompok konsumsi?


Anggapan pertama terhadap penonton adalah, mereka adalah kelompok konsumsi yang homogen. Memiliki kesukaan, minat, pengetahuan, dan latar pendidikan yang sama. Jadi, siapapun penontonnya, mau hanya 15 orang hingga 1.000 orang sekalipun, dianggapnya adalah sekelompok orang yang akan dengan ikhlas menerima apa saja yang disuguhkan sutradara. Sekelompok orang yang dengan rela membayar selembar tiket dengan harga minimal Rp 5.000 sampai ada yang seharga Rp 2.000.000 per lembar, hanya untuk menerima saja apa yang disuguhkan sutradara.

Masalahnya, penonton bukan kelompok konsumsi seperti itu. Mereka menyempatkan diri datang ke satu pertunjukan teater, meski hujan, atau panas, juga rela merogoh kocek untuk membayar tiket, rela antri dan berdesakan di pintu gedung teater, apa yang mereka kejar? Tentu saja kepuasan hati.

Penonton adalah sekelompok orang yang ingin terharu, tertawa, menangis, kagum, tergetar hati dan jiwanya, terkesan dan perasaan lainnya, yang ingin didapatkannya dari menonton sebuah pertunjukan teater. Pertunjukan teater bagi mereka adalah salah satu wadah untuk menyegarkan diri, setelah tertimpa masalah mungkin, atau dari padatnya aktifitas selama seminggu, dan lain sebagainya. Atau, ada juga beberapa penonton yang ingin mencari inspirasi, belajar dan mendapat tuntunan.

Apa jadinya, ketika dalam kondisi seperti itu, ada 500 orang yang ingin menyegarkan diri dan pikiran, rela merogoh kocek untuk membayar tiket, lalu berdesakan untuk masuk ke gedung teater, kemudian yang terjadi di dalam adalah mereka harus memenuhi tuntutan sutradara untuk mengerti sebuah pertunjukan?

Kenapa mesti ada batas antara penonton dan pemain? Tujuannya juga untuk menjadikan penonton tetap menjaga objektifitas artistik. Tentunya, diperlukan jarak estetik untuk menyaksikan sebuah karya seni. Oleh karena itu, sangat penting ada batas antara penonton dengan pemain, yang kita sebut sebagai dinding imajiner. Dengan demikian, penonton memiliki jarak untuk merenung, menghayati, menikmati, berimajinasi dan muara akhirnya tentu, memuaskan hasrat jiwanya.

(Baca : Apa itu Fourth Wall dalam Pertunjukan Drama Realis)

Bisa kita sebut bahwa penonton merupakan unsur penting dalam sebuah pertunjukan, di samping naskah, sutradara, pemain dan tata artistik. Bagaimana dalam lomba, parade, festival dan sebagainya, di mana penonton menjadi bukan unsur utama. Setidaknya, dalam lomba teater, juri juga memposisikan dirinya sebagai penonton. Bila dalam lomba teater ada tiga orang juri, maka setidak-tidaknya dalam pertunjukan lomba sekalipun, pertunjukan sudah memiliki tiga orang penonton yang sangat serius memperhatikan.

Jenis Penonton


Ada empat jenis penonton yang ada di dalam suatu gedung, ketika pertunjukan dimulai. Penonton tipe pertama adalah penonton yang datang, karena ingin memuaskan hasrat jiwanya dengan menyaksikan teater. Tipe penonton yang satu ini adalah tipe yang paling mudah dikecewakan oleh sebuah pertunjukan yang membuat penonton tipe satu ini tidak akan datang lagi apabila grup teater yang mengecewakannya tersebut kembali pentas.

Tipe kedua, adalah penonton yang datang karena ketokohan, kepopuleran dan "aura" dari pemain atau sutradara. Mereka bisa saja kenal, bisa juga tidak, dengan para pemain maupun sutradara. Apa yang dirasakan oleh penonton tipe ini? Biasanya, mereka adalah tipe penerima dengan rela. Apapun yang dipentaskan oleh grup teater tersebut, akan menjadi pedoman dan tuntunan bagi mereka. Bisa jadi, mereka akan bilang bahwa pementasan ini adalah contoh pementasan yang bisa ditiru, dipelajari dan diikuti. Bisa disebut, mereka adalah penggemar atau fans. Fans band Slank, misalnya, mereka tidak akan peduli apabila ketukan dari Bimbim akan sedikit berubah, atau suara Kaka yang tiba-tiba parau dan ada masalah dengan pitch control, mereka akan tetap lonjak-lonjak.

Tipe ketiga, adalah penonton yang datang karena penasaran. Bisa jadi, ada temannya yang ikut dalam pementasan tersebut, maka ia penasaran bagaimana temannya yang ia kenal dekat tersebut ketika akan pentas. Atau, ada juga yang penasaran dengan apa yang akan dipertunjukkan, atau mungkin malahan penasaran dengan apa itu pertunjukan teater. Penonton tipe ketiga ini bisa disebut dengan penonton temporer, yang bila kita analogikan sebagai ikan, bisa terpancing bila pertunjukan teater sebagai "umpan" menarik bagi mereka. Penonton tipe ketiga ini bisa bertransformasi menjadi penonton tipe pertama dan tipe kedua, tapi bila umpannya tidak bagus bagi mereka, bisa dikatakan pertunjukan tersebut adalah pertunjukan terakhir yang pernah mereka tonton seumur hidupnya.

Tipe keempat, bisa kita sebut tipe penonton yang "hanya" memenuhi panggung. Alasan mereka masuk ke dalam gedung bermacam-macam. Salah satu yang pernah saya temukan saya ilustrasikan sebagai berikut :

Seseorang kita sebut saja A, bersahabat baik dengan B dan C. B adalah penonton teater tipe pertama, sedangkan C adalah penonton teater tipe kedua. Si A bahkan tidak menyukai menonton film, teater, tari dan apapun itu. Namun, karena mereka biasanya ke mana-mana pergi bertiga, ketika B dan C bersama-sama pergi untuk menyaksikan pertunjukan teater "D", maka si A memilih ikut, daripada tidak ada pekerjaan di rumah.

Dari ilustrasi tersebut, bisa dikatakan bahwa si A, meski tanpa paksaan secara fisik, namun dia datang karena "paksaan psikologis". Dia harus memilih antara ikut temannya menonton teater, atau kesepian sendirian di kamar.

Ini hanya salah satu kasus saja. Lihat contoh kasus yang pernah ditemukan penulis lainnya :

Seseorang (kita sebut lagi A) pergi berlibur ke rumah keluarganya di satu kota. Dia menginap di rumah tantenya, yang juga punya anak sebaya dengan A. Satu malam, ada pertunjukan teater, dan tantenya sekeluarga merupakan penonton teater yang setia. Ketika malam tersebut tantenya sekeluarga akan pergi menonton, si A memilih untuk ikut, daripada sendirian di rumah.

Masalahnya tipe penonton ke empat ini banyak sekali ditemukan. Paling sedikit, jumlahnya ada 10 persen dari semua penonton teater di dalam gedung tersebut. Bila ada 1000 penonton, maka setidaknya ada 100 orang penonton tipe keempat ini. Penonton tipe ini adalah penonton yang akan dengan senang hati "merusak" sebuah pertunjukan dengan ngobrol bersama temannya di depan panggung ketika drama tengah berjalan, juga penonton yang memilih mengaktifkan ponselnya sehingga sinarnya muncul dari tempat penonton yang gelap dan menganggu penonton yang lain.

Groundings, Penonton yang "Merusak" Pertunjukan.


Tentu saja, kita pernah mendengar istilah "Groundings" atau penonton yang berdiri karena tidak membeli tiket untuk tempat duduk, di Inggris, saat era teater Elizabethan. Saat itu, pertunjukan teater disaksikan oleh seluruh lapisan masyarakat, lengkap dengan penjual makanan dan minuman. Apa yang dilakukan groundings di depan panggung? Mereka berisik, ribut, anak-anak mereka berlari ke sana- ke mari. Pertunjukan menjadi terganggu, termasuk penonton yang lain juga ikut merasa terganggu. Mereka datang bukan untuk menyaksikan pertunjukan teater, tapi sekedar berkumpul-kumpul di tempat yang ramai. Meski mereka juga terhibur oleh pertunjukan teater tersebut.

Lantas, pertunjukan teater di Inggris akhirnya dilarang dan dihentikan. Hidup kembali di era Charles II, yang disebut dalam sejarah sebagai Zaman Restorasi. Ketika teater hidup kembali di Inggris, ada banyak yang diperbaiki. Tahu apa salah satunya yang musti diperbaiki? Yah, penonton! Groundings diminimalisasikan, caranya dengan membatasi penonton. Penonton teater di era Restorasi adalah penduduk kaum menengah ke atas, tidak lagi ditonton oleh seluruh lapisan masyarakat. Akhirnya, groundings bisa berkurang bahkan hilang. Nah, dari potongan cerita itu, bisa disimpulkan sendiri, dari lapisan mana groundings ini datang, bukan?

Zaman sekarang, pembatasan penonton adalah tindakan yang melanggar HAM. Misalnya, sebuah pertunjukan hanya bisa ditonton oleh kaum akademisi, mungkin dengan mempertunjukkan kartu mahasiswa. Tentu saja, pertunjukan semacam itu benar-benar tidak bisa diterima di era modern ini, apapun alasannya.

Jadi, bagaimana dengan "groundings" zaman "now"? Yah, pertunjukan, kekuatan konsep, aktor, tata panggung, jalan cerita, musik dan sebagainya menjadi hal yang bisa meminimalisir groundings. Bila penonton berhasil hanyut dalam sebuah pertunjukan hingga akhir, bukankah Anda juga mampu "menghanyutkan" para groundings bukan? (pojokseni)

your advertise here

This post have 0 komentar

Harap tidak berkomentar yang melanggar HAM, SARA dan tindak kriminal lainnya.

Selanjutnya Posting Berikutnya
Sebelumnya Artikel Sebelumnya

Advertisement

Advertisement

Loading...