Analisis Puisi "Tangan" Sutardji Calzoum Bachri -->
close
Adhyra Irianto
16 January 2014, 1/16/2014 01:29:00 AM WIB
Terbaru 2014-07-19T22:50:42Z
Analisis PuisiPuisiSastra

Analisis Puisi "Tangan" Sutardji Calzoum Bachri

Advertisement

Oleh  : Diah Irawati S.S, M.Pd & Adhyra Irianto

TANGAN


seharusnya tangan bukan hanya tangan tapi tangan yang memang tangan tak Cuma tangan tapi tangan yang tangan pasti tangan tepat tangan yang dapat lambai yang sampai salam

seharusnya tangan bukan segumpal jari menulis sia sekedar duri menulis luka mengusap mata namun gerimis tak juga reda

walau lengkap tangan buntung walau hampir tangan buntung walau satu tangan buntung walau setengah tangan buntung yang copot tangan buntung yang lepas tangan buntung yang buntung tangan buntung

segala buntung segala tak tangan
hanya jam yang lengkap tangan menunjuk entah kemana


1976
Sutardji  Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK ,1981

Analisis dengan pendekatan Strukturalisme :

1.      Sign (Tanda)
Penekanan dimulai dari judul “TANGAN” yang menyiratkan sesuatu yang berpasangan, memiliki tanggung jawab dan kewajiban masing-masing, namun saling melengkapi.
Hampir sama seperti puisi sebelum-sebelumnya, Sutardji Calzoum Bachri kembali memberikan tanda dalam puisi berjudul “Tangan” ini.  Di bait pertama, ditemukan 9 buah kata tangan, sedangkan di bait ketiga ditemukan 9 buah “tangan buntung”. Bila kita analogikan kata “tangan” dengan kesempurnaan atau sesuatu yang cukup, maka kata “Tangan buntung” sementara bisa diartikan ketidaksempurnaan atau sesuatu yang kurang cukup.
Bila diletakkan sementara bahwa dalam puisi “Tangan”, Sutardji memberi tanda bahwa tangan (yang juga merupakan judul puisi) merupakan sesuatu yang sepasang. Termasuk, kesempurnaan yang selalu berpasangan dengan ketidak sempurnaan, kelebihan dengan kekurangan dan cukup dengan tidak cukup.

2.      Oposisi Binner
Dalam memperhatikan pasangan kata yang memberntuk kalimat di puisi ini, penulis memperhatikan beberapa kalimat :

“seharusnya tangan bukan hanya tangan” ->  “Tangan” yang dimaksud tidak hanya sekedar tangan yang biasa

tapi tangan yang memang tangan” -> Tetapi lebih menjalankan tanggung jawabnya sebagai “Tangan”

“tak Cuma tangan tapi tangan yang tangan” -> tidak hanya sebatas tanggung jawab biasa, tetapi memang melaksanakan segala kewajibannya sebagai “Tangan”

“pasti tangan tepat tangan yang dapat lambai yang sampai salam” -> harus tangan yang dapat dengan tepat berada diposisinya dan melakukan segala yang perlu dilakukakannya dengan baik.

Kemudian, dihubungkan dengan lawan katanya :

“walau lengkap tangan buntung” = Dalam keadaan yang lengkap, “tangan” tetap masih buntung atau rugi atau menerima ketidak sempurnaannya.

“walau hampir tangan buntung” = Dalam keadaan yang hampir mendekati sempurna, “tangan” masih tetap belum sempurna.

“walau satu tangan buntung walau setengah tangan buntung” =  dalam keadaan yang tepat, “tangan” masih tetap dalam keadaannya yang belum sempurna begitu pula ketika hanya mendapat sebagian.
“yang copot tangan buntung yang lepas tangan buntung” =  apapun yang terjadi, yang menanggungnnya tetap “tangan yang buntung”
“yang buntung tangan buntung” = pada akhirnya, yang menanggung hanyalah tangan yang buntung.

3.      Hubungan sintagmatik dan paradigmatik 

Ditemukan hubungan sintagmatik dalam kata :

hanya tangan : tangan yang hanya sebatas tangan dalam bentuk kasar
Cuma tangan  : tangan yang “Cuma” sebatas tangan
pasti tangan : tangan yang benar-benar “Tangan”
tepat tangan : tangan yang tepat pada posisinya
segumpal jari : gambaran penyair tentang tangan yang hanya “tangan” yakni hanya sebatas segumpal jari.
menulis sia : melakukan hal yang tak berguna atau sia-sia
sekedar duri : hanya memberi sedikit pengaruh
tangan bunting : tangan yang dalam keadaan tidak sempurna
satu tangan : hasil yang digapai tangan dalam kondisi memuaskan.
setengah tangan : hasil yang diraih tangan dalam kondisi memuaskan sebagian.

Hubungan Paradigmatik :

                                                                               segumpal jari -- menulis sia : Hanya sebatas bentuk luar yang hanya bisa melakukan hal yang sia-sia.

sekedar duri --- menulis luka : Sekedar sesuatu yang tidak berpengaruh besar dan menambah kesusahan.

mengusap mata --- gerimis tak juga reda : melakukan hal yang tepat, namun tetap tidak ada hasil yang Nampak.

segala buntung --- segala tak tangan : segalanya yang tak sempurna segalanya tidak bisa menjadi “tangan” yang sesungguhnya.

hanya jam --- lengkap : waktu, yang terus berdetak tanpa henti, hanya itulah yang mampu melakukan tanggung jawabnya dengan baik.

4.      Tipografi

Tidak ada yang begitu menarik perhatian dari tipografi puisi berjudul “Tangan” ini. Kemungkinan, dari penyusunan katanya yang berbentuk persegi solid, penyair menginginkan pembaca menafsirkan beberapa arti dari pembentuk persegi, yakni garis horizontal dan vertical. Dikembalikan ke definisi tangan diawal, berarti kemungkinan besar adalah berpasangan, antara hubungan “kesamping” dan “keatas”.

5.      Kesimpulan

Menganalisa puisi berjudul “Tangan” ini, sampai pada suatu kesimpulan bahwa Sutardji menuturkan adanya sesuatu yang berpasangan dalam hidup. Ada sesuatu hal yang seharusnya menjadi “sempurna” namun, yang diharap sempurna justru menjadi suatu hal yang tidak sempurna. Selain itu, analisis ini menggambarkan adanya kekecewaan yang besar dari penulis puisi terhadap keadaan sekitar yang berjalan tidak sesuai dengan kenyataan.
Untuk ilustrasi : Pemimpin yang diharapkan adalah pemimpin yang amanah, bertanggung jawab, dan memperhatikan rakyat. Bukan hanya pemimpin yang hanya bisa menambah luka, melupakan semua kewajibannya dan berlari dari tanggung jawabnya.
Namun, justru kita hanya mampu mendapatkan pemimpin yang tak amanah. Dalam ekadaan yang baik, dalam keadaan ekonomi stabil, maupun dalam keadaan krisis, justru hanya rakyat yang menjadi “tumbalnya” Pada akhirnya, Sutardji memaparkan hanya waktu atau mungkin “Penguasa” waktu yang sempurna atau lengkap. Sedangkan, “tangan” hanya berjalan tanpa jelas arah tujuan.

Bila ingin mengutip sebagian atau keseluruhan dari artikel di situs ini, harap menyertakan sumber : www.teaterpetass.com

 Jangan lupa dapatkan novel terbaru Adhyra Irianto : "Pencuri Hati" di Gramedia kota anda
 Baca infonya disini >> Novel Pencuri Hati, Adhyra Irianto



Ads